Minggu, 22 April 2018 | 18:28
291015 Nanny Mayasari (600 x 450)
Istimewa

Waspadai “Permainan” PLN

Yunus Atabara,

Victory-News, SELURUH masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya diimbau untuk terus mewaspadai “permainan” yang beraroma kecurangan yang dilakukan pihak PT (Persero) PLN Area Kupang terkait akumulasi tagihan rekening listrik bulanan.

Aroma kecurangan yang dimaksudkan adalah mengabaikan selisih pemakaian kWh listrik bulanan yang membengkak. Kemudian mendesak pelanggan untuk melunasi disertai dengan ancaman pencabutan meteran. Tujuannya agar diganti dengan meteran pulsa.

Penegasan tersebut dikemukakan Nanny Mayasari, seorang guru mata pelajaran Kelistrikan, saat mendatangi Redaksi VN, Rabu (28/10) siang. Nanny mengaku selama empat bulan melakukan penelitian khusus tentang listrik di Kota Kupang.

“Saya merasa sangat dirugikan oleh PLN, untung saja saya ini guru yang mengajar tentang listrik dan sedang melakukan penelitian tentang listrik sehingga saya bisa hitung,” ungkapnya.

Dia mengisahkan, sebelum membayar tagihan listrik bulan Mei 2015, ia terlebih dahulu mencatat meteran di rumahnya. Setelah membayar, kuintansi disimpan sebagai bukti. “Itu saya lakukan selama beberapa bulan dan saya bayar tepat tanggal 20 setiap bulan,” katanya.

Setelah itu, lanjut Nanny, ia sengaja tidak membayar rekening listrik untuk bulan September 2015. “Saya sengaja tidak mau bayar menunggu ada petugas PLN yang datang tagih. Tadi pagi (kemarin), petugas datang meminta saya segera bayar Rp 500 ribu. Saya sengaja minta waktu tiga hari, tetapi dia ngotot mau cabut meteran. Saya suruh dia catat meteran saya lalu kami cocokkan sama-sama,” jelasnya.

Ia kemudian mengambil kuitansi yang sudah dikumpulkan empat bulan terakhir dan mencocokan dengan angka di meteran yang sudah dicatat petugas. “Saya minta penjelasan soal perbedaan kWh, petugas mengelak dan langsung pulang,” katanya.

Nany menjelaskan, per tanggal 29 September 2015 angka yang tertera pada meteran listrik miliknya dengan resi IDPEL 431000465232 atas nama Thamrin tertera 13.354 kWh. Tetapi yang tercatat di PLN per tanggal 29 September 2015 sebesar 16.895 kWh.

Ini berarti ada selisih 3.541 kWh. Dan, jika selisih tersebut dikalikan dengan biaya KVH meter 1.300 KVA, maka hasilnya adalah Rp 4.603.300. “Saya bilang kepada petugas, bagaimana kalian tagih saya suruh bayar Rp 500 ribu, sementara PLN masih berutang kepada saya sebesar Rp 4 jutaan. Mendengar itu mereka langsung pergi,” beber Nanny.

Ia meminta kepada seluruh pelanggan PLN untuk mulai sekarang mengawasi betul setiap meteran yang terpasang agar tidak dipermainkan oleh PLN. Sedangkan bagi yang menggunakan meteran pulsa, lanjut dia, juga perlu mencatat dan menyimpan segala hal terkait rekening dan mulailah mempelajarinya. Ia berjanji akan meneliti juga soal penggunaan pulsa dan kaitannya dengan penggunaan listrik di rumah.

“Kalau dapat masyarakat biasa yang malas hitung maka berapa banyak pelanggan yang tertipu karena ulah petugas PLN ,” kata Nanny Mayasari, yang mengaku memiliki jaringan sampai ke pihak Direktur PLN di Jakarta.

Akan Ditanyakan
Terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPRD NTT Veki Lerik mengatakan bahwa setelah masa reses DPRD NTT, Komisi IV akan menanyakan hal itu kepada PLN Area Kupang agar menjadi jelas.

“Ini sudah keterlaluan. Setelah masa reses ini, kita akan segera panggil PLN untuk menjelaskan hal ini. Mengapa bisa terjadi dan soal pergantian meteran itu adalah hak pelanggan. Jika pelanggan mau ganti ya silakan tetapi kalau yang tidak mau ganti jangan dipaksa,” tegasnya.

Menurut Veki, hampir setiap hari masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya menghubungi dia dan mengeluhkan aksi sewenang-wenang PLN serta penggunakan pulsa yang setiap bulan semakin meningkat. Bahkan hingga 300 persen. “Soal pulsa juga akan kami kupas. Karena faktanya banyak pelanggan yang justru mengeluh,” paparanya.

Apalagi, lanjut Veki, per tanggal 1 Januari 2016 mendatang tarif listrik 900 VA akan dihitung 1.300 VA. “Yang saya baca demikian. Ini pasti akan berdampak lagi bagi masyarakat,” tambahnya.

Kepala Ombudsman Perwakilan NTT Darius Beda Daton mengaku, hasil koordinasi Ombudsman dengan PLN Kupang mendapatkan penjelasan bahwa PLN bahwa saat ini sudah menghentikan pergantian meteran.

Manejer PLN Area Kupang Maria Goreti yang dikonfirmasi kemarin siang hingga petang, tidak merespons. Ditelpon tidak diangkat dan di-SMS tidak membalas. (nus/M-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz