Minggu, 22 April 2018 | 18:23
Untitled-1 copy

Warga Komodo Minum Air Kotor

WARGA Wae Kesambi, Desa Batu Cermin, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) terpaksa mengkonsumsi air kotor dari mata air Wae Kesambi akibat kesulitan mendapatkan air bersih. Setiap hari warga harus mengantre sejak pukul 04.00 Wita hanya untuk mendapatkan air minum, sekaligus mandi dan mencuci.

 

Mereka terpaksa mengantre karena harus berbagi dengan para siswa/siswi di asrama Sekolah Menengah Ilmu Pariwisata (SMIP) Labuan Bajo. “Setiap hari saya dan teman
asrama terpaksa mandi dan ambil air ini (Wae Kesambi) untuk kebutuhan minum. Warga juga mengantre dari pagi sampai pukul 23.00 Wita,” ungkap Oris Abut, siswa SMIP Labuan Bajo kepada VN, Jumat (24/4) di mata air Wae Kesambi.

 
Albert Jonu, warga Wae Kesambi mengaku, selama initerpaksa membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan setiap hari. Harga satu tangki air mencapai Rp 150 ribu. “Banyak pipa di sekitar rumah, tapi tidak pernah keluar air. Setiap tahun juga selalu ada program air tapi buktinya tidak ada air,” ujar Albert.

 
Disaksikan VN, air yang diambil warga tampak kotor tidak layak konsumsi. Selain telah bercampur dengan busa sabun bekas mandi dan cuci, antrean warga membuat lokasi sekitar genangan air becek dan bercampur lumpur. Akibatnya, air yang dimasukkan ke dalam jerigen tampak sangat kotor.

 

Aroma Korupsi Terpisah, Kapolres Manggarai Barat AKBP Abraham Jules Abast kepada VN, Jumat (24/4) menyatakan, Polres Mabar telah mencium adanya aroma korupsi dalam proyek air minum yang dikerjakan Tahun Anggaran 2014 dengan pagu Rp 5 miliar.

 
“Ada indikasi korupsi pengerjaan air minum di Kota Labuan Bajo. Salah satu bak yang dikerjakan asal jadi dan terkesan buru-buru. Kami masih menunggu perhitungan kerugian negara dari BPKP, ” katanya. Menurut Kapolres, pengerjaan proyek air minum yang ditangani Bidang Cipta Karya Dinas PU Mabar juga terindikasi tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB).

 
Kepala Dinas PU Mabar Agus Tama menyatakan, proyek air yang dikerjakan meliputi tiga bak penampung dan perluasan jaringan sarana air minum bersih dalam Kota Labuan Bajo, Desa Batu Cermin, dan Kelurahan Wae Kelambu. Bak penampung yang dibangun ada tiga tempat yakni di Wae Mata satu unit, belakang Pasar Wae Kesambi satu unit, dan di Gua Firdaus satu unit.

 
“Nilai kontrak bak Wae Mata dari DAU sebesar Rp 2,8 miliar. Bak Wae Mata Rp 1,4 miliar, dan bak Gua Firdaus sebesar Rp 1,3 miliar. Untuk bak Wae Mata dikerjakan PT Karya Emanuel Mulya, bak Gua Firdaus dikerjakan CV Mentari Jaya Perkasa, dan bak Wae Kesambi dikerjakan Wae Dalit Indah. Semua sudah selesai dan PHO sudah dilakukan Desember 2014 lalu,” bebernya. (nan/M-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz