Jumat, 20 April 2018 | 16:52
OPINI SELASA 31032015

Tragedi Penyaliban Nurani

PASKAH, perayaan iman kaum Kristiani sudah di ambang pintu. Paskah dirayakan sebagai momen kemenangan Sang Juruselamat Yesus Kristus atas maut. Kemuliaan Paskah tidak hadir tanpa peristiwa Golgota yang diimani sebagai peristiwa dukacita, penderitaan dan kesedihan. Apa makna perayaan Paskah bagi para pemimpin masyarakat NTT?

Politik Nurani Dr Karmel Husein, ahli fisika dan mantan Rektor Universitas Ibrahim, Kairo, mengatakan bahwa kejahatan terbesar dalam sejarah dilakukan oleh orang Yahudi dan Romawi karena mereka tidak mengikuti suara hati nuraninya. Padahal menurutnya, hati nurani merupakan suatu kategori imperatif.

 

Apa yang sebenarnya terjadi pada hari Jumat Agung? Pada hari itu orang Yahudi bersekongkol dengan orang-orang Romawi untuk menyalibkan Isa Al-Masih hingga wafat. Karena ketika memutuskan untuk menyalibkan Dia, sesungguhnya itu merupakan keputusan untuk menyalibkan hati nurani manusia dan memadamkan terangnya.

 

Mereka tak menyadari bahwa ketika manusia kehilangan hati nurani tiada sesuatu pun yang lain yang dapat menggantikannya. Karena hati nurani manusia adalah obor dan terang Illahi. Tanpa itu manusia tidak memperoleh bimbingan. Bila manusia tak memiliki hati nurani sebagai pembimbing, maka segala kebajikan akan runtuh dan berubah menjadi kejahatan, intelek akan berubah menjadi kegilaan.

 
Apa yang diungkapkan oleh Dr Karmel ini menjadi bahan refleksi dan pedoman arah dalam bertindak, termasuk bagi para pemimpin masyarakat di NTT dalam menghadapi momen Paskah. Hati nurani merupakan guru moral dan instansi tertinggi dalam pengambilan keputusan, terlebih keputusan menyangkut hayat hidup orang banyak atau keputusan publik.

 

Ini berarti, setiap tindakan, tutur kata, sikap dan perilaku manusia hendaknya terpancar dari tanur nuraninya. Hati nurani berperan sebagai kategori imperatif. Ia memutuskan apa yang baik dan apa yang buruk. Nurani menuntut orang untuk amar ma’ruf nahi mungkar (melakukan yang  baik dan menolak yang jahat).

 

Dari pemahaman tentang nurani ini, kita dapat melihat urgensitas hati nurani dalam politik, khususnya dalam proses pengambilan keputusan dan kebijakan politik yang berimplikasi pada kepentingan publik. Politik membutuhkan nurani untuk menyingkap kekotorannya dan menghalau “kebusukannya”. Hati nurani merupakan conditio sine qua non (kemutlakan) dalam proses politik yang  bertujuan bonum commune.

 
Politik hati nurani terlepas dari kerangka politik formal dan politik institusi yang melembaga dalam kehidupan berpolitikan setiap hari. Politik hati nurani berbasiskan pengabdian pada kemanusiaan. Orang yang menjalankan aksi politik ini bergerak atas dasar panggilan kemanusiaan.

 

Ada nuansa spontanitas dalam laku politik semacam ini. Politik hati nurani menyata dalam aneka bentuk kepeduliaan sosial sebagai suatu perjuangan politis. Panggilan nurani dan tanggung jawab politis menuntut sang pemimpin untuk keluar dari kemapanan dirinya sendiri, dari batas-batas diri dan kelompok pendukung, dari ghetto kampung halaman dan keluarga menuju kepentingan masyarakat luas.

 
Hati nurani menjadi syarat mutlak untuk membangun spirit kepemimpinan dewasa ini. Karena sebagaimana kata C Wright Mills, dunia perpolitikan dewasa ini dipenuhi the higher immorality, di mana terjadi konspirasi imoralitas kaum elite yang diyakini merupakan ancaman serius terhadap demokrasi.

 

Mills memakai istilah ini ketika menggambarkan hilangnya kepekaan moral insesibility di kalangan pejabat publik. Immoralistis itu mencakup penyelenggaraan pemerintahan yang tidak bersih, manipulasi biaya-biaya perjalanan, manipulasi opini publik, korupsi politik dan berbagai praktik ilegal secara sistemik dan terlembaga yang menodai demokrasi.

 

Nurani Politik Hati nurani politik berkaitan dengan sejauh mana politik membuka diri bagi intervensi nurani dalam seluruh dinamikanya. Hati nurani politik mengisyaratkan satu hal yakni sungguh pun politik berkaitan dengan usaha yang mulia memperjuangkan kesejahteraan umum, memajukan masyarakat dan melaksanakan keadilan sosial, namun cara-cara berpolitik kerapkali menghalalkan segala cara.

 

Fakta politik mengindikasikan secara jelas bagaimana landasan moral, nilai-nilai luhur, hati nurani, seringkali tidak diperhitungkan dalam membuat kebijakan dan aplikasi politik. Orang lebih terpikat dan tergoda dengan berbagai praktik KKN yang menguntungkannya. Untuk menggolkan kepentingan, mereka mengabaikan nurani dan suara rakyat yang telah mengantarnya ke tampuk kekuasaan.

 
Fakta keseharian di NTT menunjukkan bagaimana orang berpolitik dengan menghalalkan segala cara. Dunia politik menjadi arena perebutan kekuasaan yang jauh dari itikad baik untuk mengabdi dan melayani. Ketika belum menjadi pemimpin, mereka bersuara kritis terhadap berbagai ketimpangan.

 

Namun, ketika berkuasa, suara kritis itu perlahan hilang. Kekritisan mereka tak berdaya menghadapi empuknya singgasana kekuasaan. Dan ini berbahaya. Karena ketika daya kritis tumpul, tatkala suara profetis terbungkam, maka komitmen awal mengabdi kepada rakyat kecil hanya menjadi masa lampau.

 

Meminjam istilah Featherstone, dunia perpolitikan kita menjadi dunia ‘seolah-olah’ (virtual reality). Demokrasi katanya, nepotisme praktiknya. Divestasi katanya, memperkaya kantong pribadi praktiknya. Menangkap koruptor katanya, konspirasi dengan pelaku praktiknya.

 
Satu hal yang  mesti diperhatikan oleh para pemimpin masyarakat di NTT saat ini adalah upaya mentahtakan kembali hati nurani pada singgasana terhormatnya sebagai ‘guru moral’, meminjam istilah Henry Newman. Hal ini harus menjadi prioritas mengingat hati nurani senantiasa memastikan pilihannya pada nilai-nilai kebaikan, kejujuran dan kebenaran.

 

Mendengarkan nurani secara jeli menjadi senjata utama melawan kecenderungan nurani manusiawi yang menarik dan menggoda manusia untuk melakukan berbagai praktik politik tercela. Karena itu, saya menyetujui buah pemikiran Michael Foucault yang menggagas apa yang disebut political spirituality (kerohanian politik).

 

Politik in se tak dapat melepaskan diri dan jaring-jaring norma etis moral. Moralitas politik harus menyata dalam pelayanan, pengabdian dan keberanian menolak konspirasi yang merugikan rakyat. Kerohanian politik menjadi murni bila ada respek terhadap suara hati.

 
Sebelum merayakan Paskah, kita melewati Jumat Agung sebagai peristiwa tersalibnya nurani. Oleh berbagai modus untuk memperkaya diri dan menguntungkan kelompok sendiri, nurani seringkali disepelekan dan tidak digubris. Peristiwa 2000 tahun lalu, di mana telah terjadi penyaliban nurani seharusnya tidak terulang lagi saat ini, di sini.

 

Paskah mesti membebaskan kita, pemimpin dan masyarakat NTT dari jebakan nafsu ingat diri, dari hasrat korupsi, hasrat kolusi dan nepotisme dalam berbagai kesempatan dan kepentingan. Paskah 2015 ini mesti menjadi kesempatan untuk mempertajam nurani dalam mengurus kepentingan bersama, mengurus ke-NTT-an kita.

 

Wahai para pemimpin masyarakat NTT, jangan lagi menjadi orang Romawi dan Yahudi bagi masyarakat NTT, yang tega menggadaikan dan menyalibkan nurani demi kepentingan individu dan hasrat KKN. Semoga tidak ada lagi tragedi penyaliban nurani di NTT. Selamat Pesta Paskah.

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz