Jumat, 20 April 2018 | 16:52
35

Tekan Jumlah Pengguna Narkoba

JABATAN adalah anugerah Tuhan sehingga harus disyukuri dengan melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Itulah prinsip Martha Salendang, Kepala BNN Kota Kupang.  Sebelumnya menjadi Kepala BNN Kota Kupang, Martha telah berpindah tugas dari satu instansi ke instansi lain di lingkup Pemkab dan Pemkot Kupang.

 

Martha memulai karier sebagai penyuluh pada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Kabupaten Kupang. Dalam perjalanannya, ketika Kota Kupang berdiri sendiri, terpisah dari Kabupaten Kupang, pada tahun 2003 dia masuk jabatan struktural pada Dinas Kependudukan Kota Kupang.

 
Dari Dinas Kependudukan, Martha kembali ke BKKBN Kota Kupang hingga instansi tersebut berubah menjadi Badan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera (KBKS). Dari situ, dia dipindahkan ke Rumah Sakit Kota Kupang (sekarang RS SK Lerik).

 
“Ternyata Tuhan punya rencana lain. Tahun 2011 saya dipanggil untuk dilantik sebagai Kepala BNN Kota Kupang. Lantiknya di Pusat,” tutur Martha kepada VN di ruang kerjanya, baru-baru ini.
Langkah-langkah yang dilaluinya hingga merengkuh jabatan Kepala BNN merupakan rencana dan karya Tuhan. “Tuhan yang menaungi, sehingga sampai sekarang masih di BNN Kota Kupang,” katanya.

 
Sejak memimpin BNN Kota Kupang, Martha mulai melakukan berbagai langkah, terutama menggalakan upaya menekan angka penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba). Upaya itu dimulai dari sekolah. Sebab, dalam pandangannya, anak-anak muda perlu dibkali dengan pengethuan tentang bahaya narkoba.

 
“Setiap thun BNN melakukan sosialisasi dan membentuk satgas di tiap sekolah yang akan menjadi jembatan informasi dari sekolah ke BNN dan sebaliknya. Itu dilakukan mulai tahun 2012,” ucapnya. Sejak 2012 pula, kegiatan-kegiatan yang dilakukan BNN Kota Kupang mulai dibiayai dari APBN setelah sebelumnya disokong dana dariPemkot Kupang.

 
Untuk pelajar, menurut Martha, pihaknya melakukan tes urine di sekolah-sekolah. Tes urine sebagai upaya deteksi dini pengguna narkoba di lingkungan sekolah.  “Sejaub ini yang ditemukan hanya mereka yang konsumsi obat atas resep atau saran dokter, mungkin karena sakit. Itu yang kedapatan ketika kita tes urine,” jelasnya.

 
Pada tahun 2014 dan 2015, BNN mulai membangun kerja sama yang lebih intens dengan Puskesmas-Puskesmas di Kota Kupang agar pada setiap kegiatan Posyandu, tim dari BNN dilibatkan untuk melakukan sosialisasi. “Ada tim penyuluh yang diturunkan untuk lakukan sosialisasi, tapi belum semua Posyandu terjangkau karena terbatas tenaga,” katanya.

 
Posyandu, menurut Martha, pilih karena pada kegiatan Posyandu ada ibu-ibu, bapak-bapak, ada juga kakak yang mengantarkan adiknya ke Posyandu. Ada juga ibu hamil, sehingga tepat untuk melakukan sosialisasi anti narkoba. “Mereka ini diharapkan lanjutkan informasi yang didapt ke dalam lingkungan mereka,” imbuhnya. Tak hanya itu, BNN juga melakukan sosialisasi pada pertemuan-pertemuan mahasiswa dan acara-acara gereja.

 
Semua langkah itu, kata Martha, dilakukan BNN dalam rangka menyukseskan rehabilitasi 100 ribu pengguna narkoba tahun 2015 yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Untuk menyukseskan itu, BNN tidak bisa bekerja sendiri. Butuh kerja sama dengan semua stakeholders terkait.

 
“Kita harapkan semua, pemerintah, swasta atau masyarakat, dan LSM supaya bergandengan tangan untuk sukseskan pencanangan rehabilitasi 100 ribu pengguna narkoba tahun ini. Itu yang dicanangkan Pak Presiden,” terangnya. Namun, BNN sedikit terkendala pada terbatasnya kewenangan dan tenaga.

 

Sejauh ini, BNN Kota Kupang belum punya kewenangan panangkapan pengguna narkoba karena belum ada Seksi Pemberantasan. Penangkapan masih dilakukan oleh BNN Provinsi NTT. BNN Kota Kupang, menurutnya, belum punya penyidik untuk menangani kasus narkoba.

 
“Tugas BNN Kota melakukan pemetaan jaringan, sehingga bila jaringan sudah jelas, maka disampaikan ke BNN Provinsi untuk melakukan penangkapan,” paparnya. Untuk menjaring pengguna narkoba di Kota Kupang, yang kebanyakan berusia produktif, BNN Kota Kupang juga menhalin kerja sama dengan LSM. Hal itu dilakukan karena LSM mempunyai jaringan ke bawah.

 
Kerja sama juga dilakukan Dinas Kesehatan serta Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kota Kupang untuk menyukseskan kegiatan tes urine. Dinas Kesehatan akan membantu tenaga ksehatan, sedangkan Dinas PPO digandeng karena mempunyai kewenangan ke sekolah-sekolah.

 
Ke depan, kata Martha, pihaknya juga memikirkan untuk membentuk tim terpadu dengan melibatkan instansi dan stakeholders terkait. Sudah ada petunjuk teknis mengenai hal itu, tinggal tunggu pelaksanaan.  Selain tes urine di sekolah, BNN juga akan melakukan tes urine pada isnstansi-instansi pemerintah dan swasta di Kota Kupang.

 

Sedangkan untuk pendampingan pengguna dan mantan pengguna narkoba, BNN bekerja sama dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas). “Kami harap ada kerja sama yang baik dengan smua stakeholders terkait, baik di tingkat kota maupun provinsi dan seluruh masyarakat bergandengan tangan untuk menekan jumlah penyalahgunaan narkoba,” katanya.

 
Dia menambahkan, pengedar merupakan kunci untuk dapat menekan jumlah pengguna narkoba. Jika pengedar ditekan, maka jumlah pengguna juga bisa berkurang. Namun demikian, Martha mengharapkan keterlibatan orangtua dan lembaga untuk membantu mengurangi jumlah pengguna narkoba.  “Iman harus kuat, iman harus dipupuk. Itu tugas kita sebagai orangtua dan lembaga agama agar anak tidak terpengaruh dengan narkoba. Itu harapan saya,” tukasnya. (R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz