Kamis, 26 April 2018 | 23:36
59

Tangkal Radikalisme dengan Tri Sakti

GUBERNUR NTT Frans Lebu Raya menyatakan, radikalisme dapat dihalangi dengan menerapkan Tri Sakti. Tri Sakti itu yakni berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi,
dan berkepripadian dalam bidang kebudayaan. Hal itu disampaikan Lebu Raya dalam dialog dengan pimpinan lembaga-lembaga agama di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Senin (27/4).

 
Dialog tersebut mengangkat tema ‘Sehati Sesuara Menciptakan Kerukunan Beragama se-NTT’. Selain Tri Sakti, menurut Lebu Raya, kerukunan antaragama juga dapat menangkal aliran jahat atau radikalisme. Kerukunan agama dapat terjaga dalam wujud penghargaan atas perbedaan. Soal masalah radikalisme, termasuk ISIS, menurut Gubernur, telah didiskusikan bersama Pemprov NTB dan Bali.

 
“Kami telah mengadakan rapat bersama Forkompimda dari tiga provinsi yakni Bali, NTB, dan NTT, untuk mendiskusikan persoalan terkait ISIS dan telah menetapkan strategi antisipasi,” kata Frans. Di hadapan para pimpinan lembaga agama, Gubernur juga menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT terus bersinergi dengan semua pihak untuk memperjuangkan kemajuan dari hari ke hari.

 

Hal itu diharapkan dapat mewujudkan NTT yang lebih baik. Dia menyebutkan, pada tahun 2014 ekonomi NTT 5,04 persen lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional 5,02 persen. Inflasi di NTT 7,76 persen, juga lebih rencah dari inflasi nasional 8,36 persen. Penduduk miskin pun mengalami penurunan pada 2010-2014 yakni sebesar 3,43 persen.

 
Hargai Perbedaan Uskup Agung Kupang Mgr Petrus Turang mengatakan, kerukunan di NTT cukup baik dan sangat menjanjikan. Penghargaan terhadap perbedaan, kesadaran menghormati dan
menghargai tercermin dalam keseharian masyarakat NTT. “Jika tidak ada penghargaan, maka akan memicu munculnya radikalisme,” kata Uskup Turang.

 
Menurutnya, kemiskinan juga bisa menjadi pintu masuk radikalisme. Kapolda NTT Brigjen Pol Endang Sunjaya mengapresiasi kerukunan agama di NTT. Kerukunan beragama itu menjadi
kekuatan yang harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. Endang mengharapkan agar kerukunan beragama ditingkatkan lewat diskusi dan sharing antar-agama.

 
“Anak-anak sejak dini harus diberi kemahiran agar tidak menambah jumlah pengangguran, tidak terlibat dalam human trafficking dan ancaman narkoba. Itu yang harus kita hindari,” tegas Endang. Sekretaris Sinode GMIT Pendeta Benjamin Nara Lulu menambahkan, ancaman yang saat ini dihadapi sekarang tidak hanya ISIS, tetapi juga kemiskinan, HIV dan AIDS, serta human trafficking.

 
“Radikalisme datang dari masalah sosial. Oleh karena itu, pendekatan keagamaan dan program-program pemerintah diharapkan dapat menangkal ancaman tersebut,” kata Benjamin. Dialog itu dirangkai dengan penyerahan bantuan sosial secara simbolis kepada pimpinan lembaga keagamaan dalam rangka pemberdayaan ekonomi umat. (R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz