Minggu, 22 April 2018 | 18:10
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ketika melakukan panen rumput laut di Kabupaten Sumba Timur
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ketika melakukan panen rumput laut di Kabupaten Sumba Timur

Segera Bangun Pabrik Rumput Laut

PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) NTT terus mendorong pembangunan pabrik pengolahan rumput laut di wilayah ini. Pasalnya, budidaya dan produksi rumput laut dari waktu ke waktu semakin bertambah tapi petani rumput laut masih kesulitan dalam memasarkan panenannya.

Demikian dikemukakan Kadis DKP NTT Abraham Maulaka ketika tampil sebagai pembicara pada kegiatan “Temu Lapang Penguatan Manajemen Kelembagaan Pembudidaya Rumput Laut dan Hama Penyakit Rumput Laut serta Penanggulangannya” di aula kantor Desa Bolok, Selasa (16/2).

Abraham mengatakan, pihaknya saat ini terus mengupayakan pabrik pengolahan rumput laut di NTT, yang dalam rencana ditempatkan di Kawasan Industri Bolok. Karena itu, pihaknya menjalin kerja sama dengan semua unsur, terutama perguruan tinggi, baik yang ada di dalam maupun luar NTT guna membantu menyediakan sumber daya manusia (SDM).

“Kerja sama yang kita lakukan ini berbasis potensi dan pemberdayaan masyarakat yang implementatif. Ini sangat penting guna memecahkan persoalan yang dihadapi masyarakat. Kita minta pihak perguruan tinggi, seperti Undana, UKAW, UGM, dan perguruan tinggi lainnya supaya siapkan SDM kita, sehingga kalau sudah pabrik rumput laut, tinggal mereka kelola,” kata Abraham.

Basis argumentasi dibangunnya pabrik rumput laut, kata Abraham, karena NTT memiliki potensi rumput laut yang luar biasa. Dari 22 kabupaten/ kota, 20 di antaranya memiliki budidaya dan produksi rumput laut yang sangat baik, minus TTS dan Kota Kupang.

“Produksi rumput laut kita meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2012, produksi rumput laut sebesar 1,1 juta ton, 2013 (1,8 juta ton), 2014 (1,9 juta ton) dan 2015 (2,1 juta ton). Melihat produksi seperti ini, memang sangat penting dibangun pabrik. Soalnya, petani rumput laut juga sering terkendala harga dan pasar. Akibatnya, eknomi masyarakat lesu di sektor budidaya rumput laut,” sebutnya.

Kaur Pembangunan Desa Akle, Kecamatan Semau Selatan, Kabupaten Kupang Absalom Munah mengusulkan agar dibangun segera pabrik pengolahan rumput laut di Kupang, NTT. Pasalnya, rumput laut yang dihasilkannya rata-rata per bulan bisa mencapai 100 ton.

“Kita juga kewalahan dalam pasarkan rumput laut yang kita panen. Setiap lima ton rumput laut yang diangkut memakan biaya Rp 1 juta. Kalau pabrik sudah ada, sangat mudahkan kita dalam jual rumput laut. Biaya transportasi pasti akan murah,” ucapnya.

Menanggapi hal itu, Peneliti Senior dari UGM Jogyakarta Prof Sri Rahardjo mengungkapkan, pihaknya siap bekerja sama dengan Pemprov NTT dalam hal penyiapan SDM untuk mengembangkan rumput laut, juga mengoperasikan pabrik pengolahan rumput laut nantinya .

“Kita juga harapkan kerja sama dengan perguruan tinggi yang di sini (NTT) supaya mendampingi para pembudidaya rumput laut. Para akademisi di sini harus bisa menerapkan ilmu budidaya rumput laut kepada masyarakat yang bekerja di sektor budidaya rumput laut,” ungkapnya.

Rumput laut dengan kualitas yang baik, kata dia, bisa meningkatkan kesejahteraan dan membantu perekonomian masyarakat di Kupang, NTT. UGM akan selalu siap bekerja sama dalam membantu masyarakat mengembangkan rumput laut.

Sementara itu, Ketua Panitia Sulastry Rasyid menyebutkan, kegiatan itu diselenggarakan di Desa Bolok, Kabupaten Kupang karena kabupaten itu merupakan penghasil rumput laut tertinggi di NTT setiap tahun.

“Tiap tahun, Kabupaten Kupang hasilkan 1,5 juta ton rumput laut. Khusus Desa Bolok, terdapat 700 pembudidaya sepanjang 10 kilometer. NTT dan Kabupaten Kupang, khususnya memang sangat potensial untuk dikembangkan rumput laut,” kata Sulastri.

(R-2)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz