Jumat, 20 April 2018 | 16:57
65

Satpol PP Tertibkan Pedagang

PENERTIBAN pedagang yang masih berjualan di lokasi eks Pasar Inpres (Paris) Bajawa dilakukan ratusan anggota Satpol PP Kabupaten Ngada. Hal tersebut, sebagai langkah tindak lanjut dari kebijakan relokasi pasar, dan pengukuran ulang luas lahan milik pemerintah yang sebelumnya di gunakan sebagai Pasar Inpres Bajawa. Dalam Penertiban itu, semua barang dagangan milik puluhan pedagang disita petugas.

 
Penertiban dilakukan Kamis (9/4) sekitar pukul 08.00 Wita dengan mengerahkan ratusan anggota Satpol PP, dibantu aparat kepolisian dan Anggota TNI dari Kodim 1625/Ngada. Sayuran, buah, dan seluruh barang dagangan diangkut menggunakan satu unit kendaraan truk milik Pemkab Ngada.

 
Satuan Pol PP yang jumlahnya lebih banyak dari para pedagang, dengan leluasa melakukan penertiban terhadap semua barang dagangan di lokasi eks Pasar Inpres Bajawa, tepatnya di rumah milik salah seorang warga yang selama ini digunakan untuk berjualan oleh sebagaian kecil pedagang yang tidak mau direlokasi ke Pasar Boubou.

 
Sehari sebelum dilakukan penertiban oleh Satpol PP, Pemkab Ngada mengajukan permohonan kepada Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk melakukan pengukuran ulang luas lahan yang menjadi milik Pemkab Ngada, dan menertibkan para pedagang yang masih berjualan di lokasi eks Pasar Inpres Bajawa.

 
Sebelumnya, Bupati Ngada Marianus Sae, saat mengunjungi para pedagang di Pasar Boubou kepada VN mengatakan, kebijakan relokasi pasar dilakukan Pemkab telah melalui proses panjang dan juga telah mendapatkan persetujuan dari DPRD Kabupaten Ngada.

 

Pemerintah akan terus melakukan pembenahan fasilitas di Pasar Boubou, karena tempat itu disiapkan agar para pedagang bisa berjualan secara aman dan nyaman, tanpa harus takut apabila hujan. Tidak seperti kondisi di Pasar Inpres Bajawa, para pedagang berjualan sampai ke trotoar dan badan jalan, sehingga sangat membahayakan keselamatan mereka.

Perlawanan Saat ditertibkan Satpol PP, tidak ada perlawanan yang berati dari para pedagang yang didominasi kaum ibu. Hanya teriakan teriakan sebagai ungkapan kekecewaan dan rasa sakit hati yang mereka alami saat barang dagangan mereka disita Satpol PP.

 
Setelah semua dagangan mereka di sita, para pedagang secara bersama sama menyalakan lilin merah di sekitar tempat jualan mereka, sambil mengungkapkan ucapan perlawanan menggunakan bahasa daerah setempat. Usai menyalakan lilin sebagai simbol perlawanan, para pedagang tetap bertahan di tempat jualan mereka. Dengan wajah sedih dan kecewa, mereka sesekali meneriaki para petugas Pol PP. (mg-02/R-3)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz