Kamis, 26 April 2018 | 23:38
OPINI KAMIS 02042015

Salib Paskah Salib Perempuan

UMAT Kristiani di seluruh dunia sudah merayakan Pekan Suci yang puncaknya pada perayaan Paskah, Minggu (5/4). Pekan Suci yang puncaknya pada perayaan Paskah merupakan saat-saat di mana manusia kembali memikirkan realitas salib. Kemenangan merupakan warna dasar dalam rangkaian perayaan tersebut. Kemenangan Yesus atas maut.

 

Kita tidak perlu terlalu dalam dan jauh memikirkan makna salib. Setiap saat kita semua memikul salib hidup kita. Yang perlu dilakukan menurut saya adalah mengambil makna dan mempraktikkan makna salib itu.

 
Di sini, salib tidak bisa hanya dilihat sebagai palang kayu; tidak bisa dianggap sebuah benda mati oleh kaum beriman. Dalam refleksi religius, salib menjadi lambang kemenangan. Lambang kemenangan ini pula dapat dibawa ke dalam kehidupan nyata setiap hari.

 
Tulisan ini merupakan refleksi salib bagi kaum perempuan NTT. Kemenangan Yesus Kristus harus dilihat sebagai kemenangan kaum perempuan dari berbagai macam penjajahan dan ketertindasan. Sebab, selama ini, perempuan NTT sering memikul beban yang tidak hanya ganda tetapi sangat banyak.

 

Itulah alasan mengapa salib Paskah harus dianggap sebagai salib perempuan. Kemenangan salib harus juga diselami sebagai kemenangan perempuan dari semua tekanan sistem dan struktur sosial.  Beban Perempuan NTT Dalam beberapa bulan bahkan pekan terakhir, perempuan selalu menjadi bahan diskusi banyak kalangan.

 

Media sering memberitakan banyaknya perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Masih ada perempuan di bawah umur yang dijual untuk berbagai tujuan entah TKW atau tujuan lain. Kematian ibu hamil dan bayi di NTT yang belum menunjukkan penurunan menunjukkan bahwa memang perempuan masih menjadi korban di zaman ini.

 
Merujuk refleksi agama dan kitab suci, kenyataan seperti itu merupakan salib yang sedang berada di pundak perempuan. Kuk ini selalu dipikul dan dibawa ke mana-mana sampai saat ini. Sistem dan struktur sosial harus diperiksa untuk membebaskan perempuan.

 

Sebagaimana sering diulas banyak pihak, sistem sosial kita memang harus bertanggung jawab atas salib yang dipikul perempuan. Sistem sosial yang menempatkan laki-laki di atas segala-galanya menjadikan perempuan benar-benar sebagai hamba. Perempuan ditempatkan sebagai objek dalam stuktur budaya patriarki. Karena objek, maka nasib perempuan sangat ditentukan oleh sistem dan struktur itu.

 

Padahal, perkembangan dunia dan peradabannya telah menempatkan perempuan sama dengan laki-laki. Dengan kata lain, perkembangan pendidikan telah membuat perempuan tidak hanya bergerak di dapur, sumur dan kasur. Betul, perempuan telah berkiprah di dunia publik untuk satu dua pekerjaan yang dahulu hanya menjadi monopoli laki-laki. Itu belum cukup. Kalau ide seperti itu telah berkembang saat ini, mengapa perempuan selalu saja menjadi korban dalam perkembangan sosial masyarakat?

 
Mengambil makna salib Yesus dalam menebus dosa umat manusia, salib yang dipikul perempuan NTT mestinya memberi warna pembebasan. Menurut penulis, perbedaan dasar antara salib Yesus dan salib perempuan terletak pada kepentingan salib itu. Yesus melakukan itu tanpa embel-embel kepentingan.

 

Yesus memikul salib ke Golgota karena pertimbangan membebaskan umat manusia dari jerat dosa dan neraka. Sebaliknya, kepentingan terlalu banyak pada salib perempuan. Kepentingan banyak pihak akhirnya menempatkan perempuan sebagai hamba dan benar-benar hamba yang harus memikul salib peradaban dan salib generasi. Salib perempuan sebenarnya bisa membebaskan manusia di sekitarnya jika sistem dan struktur sosial budaya memahami salib sebagai lambang kemenangan.

 
Ketakutan banyak pihak adalah agama sebagai sebuah lembaga dunia justru menambah berat salib perempuan itu. Saya bukanlah ahli agama. Pemberitaan media tentang aksi seorang pemimpin agama yang menfasilitasi perempuan bekerja di luar negeri bisa dijadikan cermin. Atas nama pemimpin umat dan kebenaran, sang pemimpin yang seharusnya menjaga umat malah menjual umat. Lalu, di mana peran pemimpin sebagai gembala di sini?

 
Di peran gembala inilah yang membedakan kategori pemimpin antara Yesus dengan manusia masa kini. Kepemimpinan Yesus dilandasi oleh semangat kasih kepada umatNya. Kepemimpinan dunia masa kini dilandasi oleh kepentingan diri dan individu. Saya tidak belajar tentang perkembangan ekonomi dunia.

 

Banyak orang menyebut kapitalisme. Mungkin kepentingan kapitalisme itulah yang dibela oleh banyak pemimpin dunia saat ini. Karena yang dibela adalah kepentingan individu dalam diri kapitalisme, maka perempuan harus menanggung salib itu. Perempuan bisa bekerja di dapur, sumur dan kasur. Oleh karena itu perempuan juga merupakan produk yang bisa diperjualbelikan.

 

Setiap kehamilan dan kelahiran yang menjadi tanggung jawab alamiah perempuan dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima dan tidak boleh ditolak. Sistem merancang agar laki-laki bisa bertindak apa pun atas diri perempuan. Itulah salib perempuan.

 

Membumikan Nilai Paskah Paskah harus menjadi peristiwa pembebasan. Dengan begitu, Paskah tidak hanya direfleksikan dan direnungkan. Nilai Paskah harus dipraktikkan. Nilai kemenangan salib Yesus tidak hanya dibacakan di mimbar-mimbar gereja tetapi harus menjadi praktik dalam kehidupan sosial setiap hari.

 

Gerakan membumikan nilai Paskah mesti dilakukan secara simultan dan sinergis. Pemerintah, masyarakat, agama, laki-laki dan perempuan harus benar-benar mempraktikkan nilai salib Yesus. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menatanya mulai dari keluarga kita. Menempatkan laki-laki dalam keadaan sama dan seimbang masih sulit di wilayah kita saat ini.

 

Memang, sudah ada terang yang menyelimuti dunia kita ketika anak perempuan diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, sama dengan anak laki-laki. Dunia bisnis dan birokrasi mulai pelan-pelan menempatkan perempuan sama dengan laki-laki, terutama untuk kategori pimpinan. Meskipun begitu, jumlah mereka masih sangat sedikit.

 

Selain itu, fakta bahwa masih tingginya angka kamatian ibu hamil menunjukkan bahwa nasib perempuan NTT memang belum berubah. Sekarang kita semua tinggal memilih. Membiarkan perempuan memikul salib generasi dan salib peradabannnya sendiri atau membebaskan perempuan untuk sama dengan laki-laki secara sosial dan budaya.

 

Kalau perempuan dibiarkan berusaha sendiri tanpa dukungan perubahan dari sistem dan stuktur, maka yakinlah salib perempuan tetap akan dipikul perempuan selamanya. Maka, salib Yesus pun tetap tidak bermakna apa-apa bagi pemimpin dan generasi kita saat ini. Sebab, diskriminasi terhadap perempuan merupakan bentuk paling nyata dari salib itu. Selamat Paskah!

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz