Jumat, 27 April 2018 | 08:55
27

Rancang Ulang Pawai Paskah

SEJAK digelar pertama kali 19 tahun lalu, Pawai Kemenangan Paskah (PKP) yang digagas Badan Pengurus Pemuda (BPP) GMIT, mulai dirasakan monoton dan terkesan tak ada bedanya dengan
pawai dan karnaval biasa yang mengutamakan kemeriahan semata.

 

Padahal, PKP identik dengan namanya yaitu mengambil setingan prosesi kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang sarat nilai religiusitas. Untuk itu, panitia pelaksana diminta untuk merancang ulang prosesi PKP yang bakal masuk paket wisata rohani NTT itu.

 

Demikian intisari pendapat Ketua Pemuda Klasis Kota Kupang Erens Blegur, Sekretaris Pemuda Klasis Kota Kupang Ernes Ludji, Pemuda GMIT Kefas Kampung Baru Yoksan Soden, dan Penasehat Pemuda Gereja Kemah Ibadah Kupang Yus Riwu Hegi kepada VN di sela-sela Sidang Klasis Kota Kupang di Gereja GMIT Kemah Ibadah, Rabu (8/4).
Menurut Erens Blegur, PKP tidak kehilangan makna religius. Namun, ia tidak menampik bahwa PKP telah dipandang sebagian kalangan tak ubahnya pawai dan karnaval biasa yang mengutamakan kemeriahan semata. “Sorak-sorai sebagai refleksi kemenangan Tuhan Yesus atas maut, boleh saja. Tapi jangan lupakan ada fase yang perlu suasana khusuk. Untuk itu perlu diatur agar tak boleh digabung,” bebernya.
Bagi Ernes Ludji, PKP tidak kehilangan makna, namun hanya bergeser sehingga perlu kebesaran hati panitia dan BPP GMIT untuk menerima masukan meskipun ada konsekuensinya. “Ada konsekuensi lain yang harus diterima apabila format diubah. Kemungkinan peserta PKP akan berkurang. Bukan kuantitas, melainkan kualitas PKP yang perlu kita pikirkan bersama,” katanya.
Yoksan Soden menambahkan, tidak dapat dipungkiri juga bahwa warga Kota Kupang semakin kritis sehingga memunculkan penilai bahwa PKP telah bergeser dari sebuah nilai religiusitas. “Semua masukan baik dan sebagai pemuda gereja, saya ajak mari kita samasama memikirkannya,” tambahnya.
Yus Riwu Hegi menilai, memaknai kemenangan Paskah haruslah melalui pemahaman yang mendalam dari sebuah nilai teologis dan pengamalan nilai. “Kalau tidak diubah, maka event sangat baik itu akan semakin terbaca sebagai ajang dentuman-dentuman musik.

 

Saya kira kita perlu menyikapinya (penilaian publik) dengan besar hati,” katanya. Ketua BPP GMIT Winston Rondo menolak berkomentar. “Saya masih di Rote dan belum baca koran terkait dengan tanggapan tersebut. Terima Kasih,” tulis Winston dalam pesan singkatnya. Sedangkan Ketua Sinode GMIT Pdt Robert Liteltoni tidak merespons panggilan maupun SMS. (mg-07/ayu/M-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz