Kamis, 26 April 2018 | 23:29
14

PT ERI Diultimatum 3×24 Jam

PULUHAN tokoh masyarakat (tomas) dan tokoh adat (Toda) Desa Oenbit, Kecamatan Insana mengultimatum PT Elgari Resources Indonesia (ERI)  segera angkat kaki dari lahan milik mereka dalam tempo 3×24 jam.

 
Hal tersebut disampaikan juru bicara perwakilan masyarakat adat dan tokoh masyarakat Desa Oenbit Gregorius Taneo, kepada VN Senin (20/4), usai menyerahkan surat penolakan kepada Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes melalui Bagian Umum Setda TTU.

 
Gregorius mengatakan, tujuan kedatangan perwakilan tokoh adat dan tokoh masyarakat Desa Oenbit adalah untuk menyampaikan kepada Kepala Daerah dan dinas terkait, di antaranya Dinas Pertambangan, Kehutanan, BLHD, DPRD, Polres TTU, Kejaksaan Negeri Kefamenanu untuk segera menghentikan kegiatan penambangan mangan di Oenbit yang dilakukan PT ERI. Tanah yang dijadikan lahan pertambangan tersebut merupakan tanah milik masyarakat yang telah dikelola sejak tahun 1938.

 
Menurutnya, dalam melakukan penambangan batu mangan di Desa Oenbit, PT ERI telah menyerobot lahan milik warga dan melakukan perampasan tanpa izin masyarakat selaku pemilik lahan. Hal tersebut bertentangan dengan hak konstitusi yang diatur dalam Undang-Undang Pertambangan Nomor 4 Tahun 2009, pasal 135 yakni perusahaan tambang hanya dapat melaksanakan kegiatannya setelah mendapat persetujuan dari pemegang hak atas tanah.

 
Masyarakat Oenbit, memberikan ultimatum terakhir kepada PT ERI untuk segera mengosongkan lahan dan memindahkan alat-alat berat yang ada dalam tempo 3×24 jam. Jika tidak, maka masyarakat akan berjuang hingga titik darah penghabisan untuk mempertahankan tanah yang telah diwariskan oleh leluhur mereka.

 
“Pemerintah melindungi PT ERI. Ini kebijakan yang keliru dan kami akan terus melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan,” tegasnya. Ia menambahkan, kehadiran Bupati beberapa waktu lalu bersama sejumlah masyarakat yang menunjuk dan menegaskan bahwa kehadiran PT ERI telah sah dan memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku adalah sangat keliru.

 

Sebab, kepemilikan atas lahan tersebut adalah warisan leluhur suku Ataupah, Naikofi, Mantonas, Haukilo, Kofi Oli, Pakaenoni, Kefi Finit, Neon Beni, dan Taesbenu.
Perwakilan Suku Ataupah Nikolaus Ataupah mengatakan, pihaknya tetap pada prinsip untuk menolak keberadaan PT ERI untuk melakukan tambang mangan di Desa Oenbit.

 

Masyarakat telah membulatkan tekad untuk menutup aktivitas pertambangan mangan tersebut dan meminta pihak perusahaan segera angkat kaki dari lahan mereka. Ia menambahkan, jika dalam waktu 3×24 jam pihak perusahaan tidak segera angkat kaki dari lahan milik masyarakat, maka masyarakat akan memblokade seluruh area pertambangan. Masyarakat siap menerima apapun konsekuensi yang terjadi jika pemerintah tetap mempertahankan keberadaan perusahaan tersebut. (R-3)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz