Sabtu, 21 April 2018 | 19:33
32

Proyek Air Minum di TTS Mubazir

PROYEK air minum di Desa Nekmese, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang berasal dari APBD Provinsi NTT Tahun Anggaran (TA) 2013/2014 mubazir. Karena, air minum yang dibangun dari proyek tersebut sampai saat ini belum bisa dimanfaatkan.

 
Hal itu dikemukakan anggota DPRD NTT Ampere Seke Selan, kepada VN Rabu (8/4), di gedung DPRD NTT. Menurut dia, dari laporan masyarakat yang disampaikan kepadanya, proyek perpipaan untuk air minum tersebut sampai saat ini belum dimanfaatkan. Padahal proyek tersebut telah dikerjakan pada TA 2013/2014, dan pekerjaan di lapangan telah selesai sejak akhir tahun 2014.

 
Sementara masyarakat setempat selaku subjek pembangunan air minum bersih tersebut, kata Seke Selan, masih mengkonsumsi air di luar dari air bersih proyek perpipaan Pemprov NTT itu. Padahal, debit air tersebut semakin hari terus menurun akibat musim kemarau saat ini. Implikasinya, masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih.

 
“Jadi proyeknya sudah dua tahun lalu, tetapi sudah satu tahun setelah pekerjaan selesai belum dimanfaatkan. Sementara kebutuhan air bersih bagi masyarakat meningkat, kalau tidak dimanfaatkan tentu jadi mubazir pekerjaan proyek air minum tersebut,” kata Seke Selan.

 
Mantan Wakil Ketua DPRD TTS tersebut mengaku, sampai saat ini belum mengetahui alasan apa sehingga proyek tersebut mubazir. Dirinya berencana untuk langsung turun ke lokasi proyek guna memastikan hambatan, sehingga belum digunakanya air minum bersih tersebut.

 
Dapat diduga, kata dia, salah satu penyebabnya karena belum dilaksanakannya serah terima dari pemerintah selaku pengelola proyek kepada badan pengelola air minum di desa. Kemungkinan lain, bisa juga disebabkan adanya permainan di tingkat kabupaten. Guna memastikan semua dugaan tersebut, Seke Selan berjanji untuk segera berkoordinasi dengan Dinas Pengairan Pemprov NTT dan PAM Kabupaten TTS guna memastikan duduk perkara sehingga belum dimanfaatkannya air minum dari proyek APBD tersebut.

 
Dari data yang dikumpulkannya, anggaran untuk proyek air minum tersebut sebesar Rp 8,72 miliar, dalam bentuk Program Sistem Pengendalian Air Minum untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (SPAM-MBR) yang bersumber dari APBD NTT. Program dilaksanakan dalam bentuk proyek perpipaan untuk air minum bersih.

 
Selain itu, Seke Selan menjelaskan, ada tiga proyek SPAM MBR, lainnya di Kabupaten TTS yang akan diawasinya ke depan, yakni di Desa Kualin, Kecamatan Kualin, sebesar Rp 6 miliar lebih, Desa Kesetnana, Kecamatan Molo Selatan, sebesar Rp 900 juta, dan Desa Noebana, Kecamatan Noebana sebesar Rp 1 miliar lebih. Semua proyek tersebut dikerjakan oleh PT Karang Teguh Abadi.

 
“Saya juga segera memantau ke tiga lokasi proyek tersebut untuk memastikan agar tidak terjadi permasalahan yang sama,” tandasnya. Kepala Desa Nekmese, Marsel A Selan, yang dihubungi ke ponselnya menjelaskan, dari data yang dipegangnya menunjukkan serah terima proyek tersebut telah dilaksanakan, namun air minum tersebut belum dimanfaatkan masyarakat Desa setempat.

 
Hal itu disebabkan, air minum tersebut masih terkunci sementara petugas pemegang kunci yang ditunjuk PDAM Kabupaten TTS hingga kini tidak membuka air minum tersebut. Saat ini masyarakat setempat mengalami kekurangan air minum bersih, sementara air minum yang telah dibangun dibiarkan mubzir. Dirinya mengkhawatirkan jika masalah tersebut berlarut-larut bisa saja pipa yang ada akan rusak atau dicuri orang. (R-2)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz