Jumat, 27 April 2018 | 08:58
32

Polisi Cari Dukun Tutup Kasus Usnaat

ADA fakta mengejutkan yang kembali terungkap pada sidang kasus pembunuhan terhadap Paulus Usnaat dalam sel tahanan Polsek Miomafo Timur. Berdasarkan pengakuan saksi di persidangan, para anggota piket Polsek Miomafo Timur yang seharusnya berupaya mengungkap kasus pembunuhan terhadap Paulus Usnaat, malah berupaya meminta bantuan “dukun” untuk menutup kasus tersebut.

 

Langkah yang diambil para anggota Polsek Miomafo Timur itu jelas melanggar Undang-Undang Kepolisian Nomor 2 Tahun 2002. Hal tersebut disampaikan Magnus Kobesi anggota tim kuasa hukum tersangka Balthasar Talan dan Emanuel Talan, kepada VN Senin (6/4), di Kefamenanu.

 
Kobesi mengatakan, dalam persidangan Rabu (1/4), saksi Simon Mela yang juga adalah anggota Polsek Miomafo Timur mengaku pasca terjadi pembunuhan terhadap korban Paulus Usnaat tanggal 2 Juni 2008, ia diminta oleh keempat anggota piket Lalu Usman, Firman Cipto Yuhono, Matias Quelo, Yustinus Keyn untuk mencari dan meminta bantuan orang pintar (dukun) untuk menutup kasus kematian Paulus Usnaat.

 

Simon mengakui permintaan tersebut dan kemudian mencari dukun yang dimaksud di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Keempat anggota piket tersebut patungan sebesar Rp 200 ribu untuk membiayai transportasi Simon. Karena tidak menemukan dukun, Simon lalu pergi ke seorang tim doa yang bernama Yuli Sanam untuk menutup kasus tersebut. Setelah bertemu, Yuli mengatakan bahwa kasus tersebut masih gelap.

 
Simon kemudian pergi ke Soe untuk kedua kalinya dan bertemu dengan Usu Lay yang merupakan perantara dukun. Namun, sayangnya dukun tersebut tidak dapat ditemui dan Simon akhirnya kembali ke Nunpene. Ia kemudian diminta oleh keempat petugas piket untuk kembali mencari dukun. Simon mengaku tidak menunaikan permintaan mereka karena ia merasa takut.

 
Menurut Kobesi, langkah yang diambil para petugas piket Polsek Miomaffo Timur tersebut sangat bertentangan dengan Undang-Undang Kepolisian Nomor 2  Tahun 2002. Mereka yang seharusnya mengayomi dan melayani masyarakat, malah berupaya untuk mengubur kasus pembunuhan terhadap masyarakat kecil yang terjadi di dalam sel tahanan Polsek Miomaffo Timur.

 
Keempat petugas piket, termasuk Simon Mela yang membantu mencari dukun, sudah sepatutnya dipecat dari institusi kepolisian karena telah bersikap dan bertindak tidak profesional. Jika hal tersebut dibiarkan, maka akan ada banyak kasus yang dikubur tanpa keadilan dan kebenaran.

 
“Yang terjadi malah terbalik, setelah masyarakat kecil tidak mendapat perlindungan dalam sel tahanan, mereka malah berupaya mengubur kasusnya. Aparat kepolisian seperti ini harus dipecat karena tidak profesional. Fakta-fakta ini terungkap dalam persidangan,”pungkasnya.

 
Sebelumnya, tim kuasa hukum Baltasar Talan dan Emanuel Talan Freedom Radja mengatakan, anggota piket Polsek Miomafo Timur Firman Cipto Yuhono diketahui telah tiga kali mengubah berita acara pemeriksaan (BAP) atas permintaan Penyidik Polda NTT Simon Buang Sine guna kepentingan P-21 kasus tersebut.

 
Selain itu, hal yang paling fatal adalah rekayasa buku mutasi yang dilakukan oleh para petugas piket sesaat setelah Paulus Usnaat ditemukan tewas di dalam sel tahanan. Hal tersebut semakin memperkuat dugaan ada fakta penting lain yang disembunyikan para anggota piket Polsek Miomafo Timur. (R-3)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz