Kamis, 26 April 2018 | 23:36
3 copy

Perketat Pengawasan Makanan

HOMO homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya), keyakinan Thomas Hobbes. Intinya, manusia cenderung mengorbankan yang lain demi keuntungan diri. Ia mematikan yang lain agar dirinya hidup. Ia mencampakkan yang lain asal saja dirinya selamat. Realitas egoisme radikal manusia. Praktik egoisme itu masuk hingga pengolahan makanan dagangan.

 
Penggerebekan usaha makanan khas NTT, bernama Oleh-Oleh Sukiran Santoso menjadi contoh buruk praktik “membunuh” sesama. Menjual hasil olahan berbahan ikan dan sapi busuk. Demi keuntungan pengusaha makanan khas NTT Samuel Santoso, diduga memproduksi dan memasarkan makanan berbahan dasar ikan dan daging sapi yang telah berbelatung.

 
Proses pengolahannya tanpa memperhatikan aspek kesehatan. Persoalan serupa memang lagi menjadi perbincangan serius secara nasional. Pastinya kita tidak kelewatan
berita penggerebekan tempat-tempat pengolah makanan. Banyak stasiun televisi tak bosan-bosan mewartakannya kepada publik tentang standar kesehatan makanan yang diproduksi.

 

Mulai dari kasus formalin, bahan dasar makanan tak layak konsumsi dan bahan pengawet beracun yang membahayakan kesehatan. Oleh-Oleh Sukiran yang bermasalah itu rasanya hanya salah satu dari sekian banyak usaha olahan makanan yang bermasalah di NTT. Karena itu, kita terus mendorong agar BPOM dan instansi-instansi terkait untuk terus membersihkan praktik-praktik curang tersebut.

 
Tindak tegas lewat proses hukum dan hukuman berat. Proses hukum yang tengah berlangsung bagi yang bersangkutan harus dilakukan sampai tuntas. Belum lama ini kita disuguhkan kabar ikan berformalin dari Maumere. Kini berita buruk itu mengintai kita lewat makanan-makanan khas yang dikelola secara tidak sehat dan jauh di bawah standar kebersihan dan kesehatan. Karenanya, kita mendorong pihak berwenang (BPOM dan aparat hukum) untuk segera bertindak.

 

Tindakan jangka pendek dengan mencabut izin usaha dan menarik kembali makanan bermasalah itu dari peredaran. Tindakan jangka panjang berupa pemeriksaan berkelanjutan terhadap seluruh usaha makanan perdagangan. Kiranya BPOM dan aparat penegak hukum mengambil kasus Oleh-Oleh Sukiran sebagai starting line guna mengecek seluruh usaha makanan yang ada. Yang tidak memenuhi standar kesehatan dan kebersihan harus ditindak tegas.

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz