Kamis, 26 April 2018 | 23:29
22

Perjuangan sang Letkol untuk Air Bersih

SEKARANG sumber air su dekat. Beta sonde pernah terlambat lagi, lebih mudah bantu mama ambil air untuk mandi adik karena mudah ambil air, katong bisa hidup sehat Bapak ikut bantu bapak desa. Kalimat ‘sumber air su dekat’ tersebut tak asing lagi di telinga masyarakat NTT khususnya daratan Timor sampai saat ini. Kondisi nyata sulitnya mendapatkan air bersih memang telah menjadi masalah turun-temurun yang dialami warga NTT.

 
Persoalan kurangnya air bersih, khususnya di Pulau Timor itu membuat pria kelahiran Desa Sunu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) Letnan Kolonel (Letkol) Cpl TNI Simon P Kamlasi mengembangkan idenya agar masyarakat di desanya lebih mudah mendapatkan air bersih.

 
“23 tahun sejak saya meninggalkan desa sampai kembali lagi, tidak ada perubahan sama sekali. Masih saja anak-anak harus turun ke kali yang jauhnya bisa mencapai lima kilometer,” tuturnya.
Hal inilah yang mendorong pria berkulit sawo matang tersebut berniat menciptakan sebuah pompa air hidrolik yang dapat menarik air dari kejauhan, hingga satu sampai lima kilometer.

 

Setelah menyelesaikan sekolah Taruna pada 2014, melihat kondisi desanya masih seperti saat ia meninggalkannya, Simon membulatkan tekad untuk menguji coba ilmu fisika yang dipelajarinya saat masih berada di bangku sekolah.

 
Sistem mekanika fluida dalam ilmu fisika digunakannya sebagai bahan acuan untuk menciptakan sebuah pompa air hidrolik yang dapat mendorong air dari daerah yang terendah menuju ke tempat yang tinggi. Mekanika Fluida adalah cabang ilmu fisika yang mempelajari mengenai zat fluida (cair, gas, dan plasma), dan gaya yang dapat bekerja padanya.

 

Hal tersebut merupakan pemanfaatan tekanan akibat tekanan air yang meningkatkan gas dalam tabung.“Potensi dari tekanan gas inilah yang menekan air sejauh-jauhnya selama ada dorongan dari air,” jelasnya.

 
Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Seksi Logistik Korem 161/Wira Sakti ini pun harus mengeluarkan biaya pembuatan dari kantongnya sendiri untuk meyakinkan warganya dengan bantuan dari beberapa sanak keluarga serta teman-teman tentaranya. “Ujicoba pertama saya lakukan sendiri di kampung saya dengan dana hanya mencapai delapan juta rupiah, dan akhirnya berhasil lalu sekarang telah dinikmati oleh seribu kepala keluarga,” tuturnya.

 
Pada musim panas tahun lalu, tepatnya Oktober-November 2014, dua desa tetangganya harus datang ke desanya dengan menempuh perjalanan enam kilometer agar bisa mendapatkan air bersih di Desa Sunu. Hal itu setelah mendengar kabar bahwa Desa Sunu tidak mengalami kesulitan air lagi.

 
Ia kemudian mendapat bantuan dari TNI serta Kopassus yang langsung turun ke lokasi-lokasi yang dianggap menjadi daerah yang kekurangan air.  “Ekspedisi NKRI saat ini telah menyumbang 30 pipa air yang digunakan untuk menjalankan program ini. Tinggal mencari tempat yang wilayahnya kekurangan air kemudian kita pasang,” paparnya.

 
Simon pun bersyukur karena dari idenya tersebut wilayah-wilayah di NTT yang mengalami krisis air pada musim kemarau dapat diatasi dengan menggunakan pompa tersebut, walaupun belum semua. Sampai saat ini, 103 unit pompa hidrolik telah ia pasang hampir di seluruh NTT. Bukan hanya warga NTT saja yang telah menikmati pompa tersebut. Beberapa provinsi seperti Kalimantan Barat, Timur dan Utara serta di Pulau Jawa, khususnya di Gunung Kidul Wonosari.

 
Berkat keuletannya itu, pada 27 Januari lalu, ayah empat anak tersebut diberikan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai orang pertama yang memprakarsai pembuatan alat pompa air hidrolik secara massal. Pada tahun depan, pangkatnya akan dinaikkan menjadi Kolonel setelah mendapat promosi langsung dari Kepala Staf TNI Angkatan Darat. “Semua prestasi yang sudah saya dapat, tidak membuat saya untuk bergeser dari niat awal saya untuk membantu masyarakat Indonesia, khususnya warga NTT dari masalah kekurangan air bersih,” tegasnya.

 
Baginya, pangkat dan posisi yang ia peroleh saat ini hanyalah alat yang dapat membantunya memperlancar apa yang telah ia mulai. “Masih banyak warga NTT yang mengalami masalah dengan air, sehingga sampai kapan pun saya akan tetap membantu warga saya,” kata pria yang lahir 14 April 1975 itu. (miR-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz