Kamis, 26 April 2018 | 23:28
Romo Leo Mali membacakan pernyataan sikap didampingi Ketua MS GMIT Pdt Mery Kolimon dan Ketua MUI NTT H Abdulkadir Makarim. (450 x 600)
vn/zakarias tola

Perdamaian Jadi Modal Persatuan

Victory-News, PERDAMAIAN di Kota Kupang khususnya, dan NTT secara umum, sesungguhnya menjadi modal terbesar bagi warga Kota Kupang guna tetap menjaga dan membina persatuan dan kesatuan di antara sesama warga anak bangsa.

Untuk menciptakan persatuan di lingkup yang lebih luas (Indonesia), setiap anggota masyarakat Kota Kupang, harus memandang Indonesia sebagai rumah bersama. Sehingga, semua kasus yang terjadi, harus juga menjadi kasus bersama seluruh masyarakat Indonesia.

Demikian intisari pernyataan sikap Ketua Majelis Sinode GMIT terpilih periode 2015-2019 pdt Mery Kolimon yang mewaliki unsur Protestan, Romo Leo Mali (Katolik) dan Ketua MUI NTT H Abdulkadir Makarim (Islam), pada kegiatan Kegiatan Komunitas Bersama Pemuda Jemaat GMIT Paulus, Oepura, Kupang, Rabu (28/10) malam, di halaman gereja setempat.

Disaksikan VN, acara yang mengambil tema; “Mari Berdoa untuk Katong Pung Indonesia Tercinta!” tersebut, diawali dengan pendarasan lagu-lagu rohani dan kata pengantar dari Pdt Anis Ratu.

Dalam sambutannya, Pdt Anis mengatakan bahwa semangat dasar dari digelarnya kegiatan itu adalah sebuah refleksi atas berbagai kasus yang terjadi belakangan ini seperti Tragedi Tolikara, Tragedi Aceh Singkil, kabut asap, dan kasus pelecehan dan kekerasan terhadap anak di bawah umur.

Doa bersama tersebut, lanjut dia, dilakukan demi menjaga kesatuan dan persatuan di Kota Kupang dan NTT secara keseluruhan sebagai salah satu daerah contoh untuk toleransi antarumat beragama.

Berlangsung Khusuk
Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan sebuah drama fragmen yang dibawakan empat orang pemuda-pemudi Jemaat GMIT Paulus. Dalam fragmen itu, para pemuda menampilkan sebuah diskusi menanggapi berbagai kasus kekerasan beragama yang terjadi beberapa waktu terakhir yang sudah mencederai kehidupan masyarakat Indonesia.

Fragmen itu menampilkan perasaan masyarakat minoritas yang dicederai kebebasannya sekaligus cara damai untuk mengatasinya.

Seusai fragmen, para tamu yang hadir diajak untuk mendengarkan pembacaan firman yang diambil dari kitab Hagai tentang pembangunan kembali rumah Tuhan. Dalam renungan atas firman tersebut, Pdt Mery mengawinkan isi firman dengan refleksi Hari Sumpah Pemuda.

Dia mengatakan bahwa sumpah pemuda merupakan tonggak utama kedaulatan bangsa, kristalisasi semangat yang menunjukkan persatuan sebagai dasar untuk kedaulatan bangsa. Persatuan dan perdamaian di Kota Kupang dan NTT baru bisa terjadi apabila seluruh anggota masyarakat dapat membangun wilayah ini sebagai rumah Tuhan.

Seusai permenungan tersebut, para tamu dan hadirin dibawa dalam suasana khusuk ketika sekelompok anak-anak menghampiri para tamu undangan sambil membawa lilin untuk menyalakan lilin yang dipegang para tamu undangan.

Bersama para tokoh para tamu diajak untuk membentuk lingkaran dan saling bergandengan tangan untuk berdoa bersama bagi persatuan Indonesia. Doa yang dipimpin oleh Pdt Mery itu diiringi oleh instrumen yang dipersiapkan oleh panitia.

Pernyataan Sikap
Di penghujung acara, ketiga tokoh agama diajak ke atas panggung untuk membacakan pernyataan sikap masing-masing. Rm Leo yang didaulat pertama membacakan pernyataaan sikapnya, menyatakan bahwa semua agama diawali dari kelompok kecil yang berjuang melawan arus zaman dan mendapat penolakan dan penyiksaan.

Namun ketika kelompok itu menjadi besar, para tokoh agama itu justru melakukan hal yang buruk. Mereka telah diubah untuk kekuasaan duniawi. Semuanya itu, perlu diperbaiki dengan memupuk semangat perjuangan awal mereka.

Dia mengajak seluruh masyarakat untuk mengingat mukadimah UUD 1945 yang menyatakan bahwa atas berkat rahmat Allah yang Mahakuasa masyarakat Indonesia mengusahakan kemerdekaan dan persatuan mereka.

H Abdulkadir Makarim mengatakan, perdamaian belum bisa tercapai karena masih terjebak dalam hawa nafsu sehingga menggelapkan nurani mereka. Peristiwa buruk yang terjadi menjadi bukti bahwa manusia gagal menjinakkan hawa nafsu mereka.

Sedangkan Pdt Mery mengatakan bahwa semua kasus yang terjadi, menjadi hendaknya kasus bersama seluruh masyarakat. Dan untuk menciptakan persatuan Indonesia, setiap anggota masyarakat harus membangun Indonesia jadi rumah bersama. Acara kemudian ditutup dengan foto bersama semua tamu yang hadir dengan para tokoh agama. (ias/M-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz