Sabtu, 21 April 2018 | 19:32
Pdt Robert Litelnoni Ketua MS GMIT 2011-2015
Istimewa

Penempatan Pendeta Program Sinode Lama

Victory-News, KETUA Majelis Sinode (MS) GMIT periode 2011-2015, Pdt Robert Litelnoni menegaskan penempatan sejumlah pendeta baru ke tempat tugasnya di jemaat, sudah dilakukan jauh hari sebelum Sidang Raya Sinode (SRS) GMIT XXXIII di Kabupaten Rote Ndao. Namun, program itu sampai saat ini belum terealisasi.

Dengan demikian, jika ada pendeta yang ditempatkan di beberapa gereja jemaat saat ini, maka itu bukanlah mutasi melainkan pelaksanaan program MS Sinode lama yang masih tertunda. Dan jumlahnya pun hanya beberapa orang pendeta saja, bukannya ratusan.

“Kita tidak pernah melakukan mutasi pendeta. Saat ini kami hanya mempersiapakan notulensi dan memori akhir masa jabatan kami sebagai Majelis Sinode kepada Majelis Sinode yang baru. Jadi informasi itu sama sekali tidak benar,” ungkap Litenoni.

Menurut Pdt Litelnoni, SRS GMIT di Rote Ndao (20 September-2 Oktober 2015), telah melahirkan kepengurusan baru MS GMIT untuk periode 2015-2019. Dan sejak saat itu, tidak pernah ada kebijakan-kebijakan strategis yang bersifat mengikat termasuk mutasi pendeta.

Pdt Litelnoni mengaku sangat menyayangkan sikap para pendeta yang memberikan pernyataan di media bahwa ada mutasi besar-besar di tubuh GMIT.

“Seharusnya mereka bertanya dulu ke organisasi induk terkait kebenaran informasi itu. Sebagai organisasi gereja, kalau ada persoalan, mestinya bicarakan baik-baik sebelum memberikan pernyataan ke publik,” katanya.

Pelantikan Dipercepat
Pada bagian lain, Pdt Litelnoni juga menampik bahwa pihaknya telah melanggar tradisi GMIT terkait pelantikan/pengukuhan para pengurus MS GMIT baru periode 2015-2019 hasil SRS GMIT Rote Ndao.

Menurutnya, dalam SRS GMIT di Rote Ndao telah diputuskan bahwa pelantikan MS GMIT yang baru, akan dilakukan Januari 2016.
“Tetapi sekali pun keputusan sidang demikian, namun akan kami usahakan dipercepat sebelum bulan Januari,” tegasnya.

Penundaan pelantikan MS GMIT yang baru, lanjutnya, sudah dibahas di tingkat komisi dan diputuskan secara bersama-sama dalam pleno. “Ini keputusan sidang bukan keinginan satu atau dua orang saja. Kalau ada satu atau dua orang yang tidak sependapat, itu hal biasa dalam sebuah organisasi,” jelasnya.

Ketua MS GMIT periode 2015-2019 Pdt Dr Mery Kolimon yang dikonfirmasi terkait mutasi 121 dari 211 pendeta yang baru ditahbis Agustus lalu di GMIT Paulus, mengaku belum tahu soal itu. “Sejauh ini belum ada komunikasi dari MS periode lalu dengan kami sebagai MS terpilih,” tulis Pdt Merry dalam emailnya.

Terkait serah terima pengurus MS GMIT yang baru dilakukan Januari 2016, Pdt Merry meminta VN untuk menanyakan kepada panitia pemilihan MS GMIT sebab sesuai tata gereja yang berwenang untuk mengatur serah terima adalah panitia pemilihan.
Tabrak Tata Gereja
Terpisah, anggota GMIT Matheos Victor Messakh menilai, penundaan pelantikan adalah sebuah pelanggaran terhadap tata gereja. Karena hasil SRS GMIT Rote Ndao tak bisa mengalahkan aturan gereja.

“Itu melanggar aturan dan tata gereja yang lebih tinggi tingkatnya dari pada hasil sidang Rote yang menunda pelantikan. Dalam negara kita ini yang menganut undang-undang dan beberapa peraturan jelas mengatakan bawa segala kebijakan hasil musyawarah atau hasil sidang, tidak boleh bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi,” tegasnya.

Oleh karena itu ia meminta agar MS GMIT periode sebelumnya, untuk tidak membuat kebijakan apa pun yang sifatnya mengikat. Karena sangat bertentangan dengan aturan dan tata gereja yang selama ini menjadi acuan atau rujukan sidang sinode.

Sebelumnya, Pdt Yanche Nayoan menilai, serah terima MS seharusnya dilakukan pada 31 Oktober 2015, bertepatan dengan HUT GMIT, yang selama ini dijadikan sebagai tanggal pergantian MS GMIT.

“Jika berita acara serah terimanya pada bulan Januari 2016, maka masa tugas menjadi empat tahun dua bulan, dan itu melanggar Pasal 7 ayat 12 PP-MS (Peraturan Pemilihan Majelis Sinode). Semua orang tahu kalau 31 Oktober itu adalah HUT GMIT dan hari raya besar gereja, sehingga dijadikan juga tanggal pergantian kepengurusan majelis gereja,” jelasnya.

Pdt Suneb Blegur menegaskan, pada persidangan sebelumnya sudah diwanti-wanti bahwa penahbisan 211 pendeta jika dilakukan pada Agustus 2015, maka akan bermasalah, berkaitan dengan kewenangan mutasi oleh MS GMIT.

Pdt Orderius Laiskodat mengaku prihatin tentang mutasi yang terjadi setelah SRS. “Itu program bulan Agustus tetapi masih gantung sampai dengan penyelenggaraan sidang Sinode di Rote,” katanya.

Terkait mutasi, dan juga penundaan serah terima sampai Januari 2016, dinilainya sebegai kegagalan MS GMIT periode lalu. (nus/M-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz