Jumat, 27 April 2018 | 08:36
42

Pendidikan di Sekolah dan Rumah Harus Selaras

KEBERHASILAN anak dalam pendidikan sangat bergantung dari bagaimana anak mendapatkan pendidikan sejak di rumah. Pendidikan dari keluarga merupakan kunci keberhasilan seorang anak. Melalui keluarga pula, anak mendapatkan motivasi positif yang akan menjadi penyemangat dan kelangsungan hidup serta cita-citanya ke depan.

 

Inilah pemikiran mendasar Pendeta Bram Soei Ndoen ketika berbicara tentang pendidikan anak di NTT.  Bagi Bram, tidak mungkin anak-anak NTT tidak bisa bersaing. Sebab, sudah banyak orang NTT yang berkiprah di level nasional dengan menduduki sejumlah psosisi penting, baik di pemerintahan, perusahaan, dalam politik, maupun dalam lingkup kreativitas.

 
“Saya seorang pribadi yang tidak bisa menjadi lebih. Inilah yang seringkali dirasakan dan tertanam dalam pikiran anak-anak NTT. Dalam pendidikan di keluarga, orangtua sangat jarang memberikan apresiasi kepada anak ketika mereka berprestasi.

 

Bila yang dilakukan adalah sebuah kesalahan, maka bukan tak mungkin umpatan ataupun makian yang sering keluar dari bibir orangtua. Umpatan itulah yang tertanam dan terngiang-ngiang sepanjang hidup anak,” katanya di Kupang, baru-baru ini.

 
Umpatan-umpatan yang sering diterima anak, akan membuatnya rendah diri. Sebab, kata-kata itu secara tidak sadar melecehkan pribadi anak. Hasil akhirnya, menurut Bram, terwujud mentalitas pecundang dalam diri sang anak akibat secara terus-menerus diberikan suguhan under pressure. “Cepat berpuas diri, cepat menyerah, dan tidak ada fighting spirit, ini semua adalah faktor yang dibentuk di dalam rumah,” tegasnya.

 
Padalah, menurut penulis yang telah menghasilkan 25 buku itu, anak NTT memiliki sebuah potensi besar dibandingkan dengan anak-anak daerah lain yang ada di Indonesia. Potensi tersebut adalah kemampuan berbahasa dan kemampuan belajar yang baik. “Saya sering berkeliling Indonesia dan sebagai orang NTT saya bangga punya potensi besar itu,” ujarnya.

 
Yang diperlukan, katanya, adalah mengubah cara berpikir dan pola perilaku. Untuk itu, orangtua perlu diberikan edukasi agar bisa memberikan pendidikan dan mengarahkan anak sejak berada di keluarga. Semua anak punya DNA brilian. DNA brilian anak tidak dapat ditemukan di sekolah, melainkan di rumah. Namun ini kembali kepada orangtua bagaimana menemukan potensi dan DNA brilian anak.

 
Arahan orangtua pada anak perlu didasarkan pada kesukaan dan potensi anak. Hal itu, kata Bram, harus terus didorong dan dijaga orangtua.  Kesukaan dan potensi anak menjadi patokan, sebab umumnya orangtua mengarahkan anak untuk menjadi atau menggeluti dunia yang sangat jauh dari cita-cita anak.

 
Orangtua umumnya mengarahkan anak untuk memilih profesi yang menjanjikan prestise dan penghasilan yang dianggap dapat menyejahterakan anak. Dengan mengarahkan seperti itu, kata Bram, orangtua lupa bahwa mereka secara mutlak telah mencabut kebebasan anak.

 
“Anak kalau tidak bisa di ilmu Matematika, jangan dipaksa. Pasti dia mempunyai potensi lain, mungkin menulis, menggambar, atau menjadi pemusik,” paparnya. Sebuah bangsa sangat bergantung pada dunia pendidikan, dan pendidikan dari rumah (parenting) adalah sebuah kunci utama. “Kalau faktor kognitif kita dapat di sekolah, maka sekolah dan orangtua harus bersinergi, bersama-sama mendidik anak,” katanya.

 
Seringkali, kata dia, apa yang diajarkan di sekolah tidak dilanjutkan di rumah. Bila di sekolah diajarkan tentang nilai kejujuran, maka pendidikan di rumah pun seharusnya sejalan dengan apa yang diajarkan di sekolah. “Namun, orangtua sering ajar anaknya berbohong apabila ada tamu yang datang dan tak ingin dijumpai. Bilang saja papa atau mama sedang keluar,” katanya mencontohkan.

 
Bram sangat tertarik dengan dunia pendidikan karena pendidikan berkaitan erat dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Akan tetapi, hal itu tidak didukung oleh kurikulum di Indonesia yang selalu berubah-ubah. “Rangking yang diberlakukan oleh sekolah sangat menjustifikasi dan membentuk paradigma yang berujung pada penilaian antara baik dan buruk,” katanya.

 
Pendidikan yang terlalu menekankan sisi IQ (Intelligence Quotient) juga terkesan mengungkung kreativitas dan potensi anak. “Saya secara IQ juga rendah, namun saya bisa kembangkan potensi diri saya,” jelasnya.  Bram adalah penulis beberapa buku laris, di antaranya Fly Like an Eagle; Born to be History Maker; Beyond the Secret; Glory of Marriage.

 
Hingga saat ini, Bram yang juga motivator ini telah memberikan seminar pengembangan kepribadian unggul dan kepemimpinan di hadapan lebih dari 30 ribu orang di berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara seperti Australia, China, Hong Kong, Vietnam, Brunei, Malaysia, dan Singapura. Ia juga telah melayni sekitar 50 perusahaan atau organisasi dan 400 klien pribadi, berupa motivational seminar dan training, konsultasi, dan assessment. (R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz