Kamis, 26 April 2018 | 23:38
15

Pemimpin ‘Satria Biru’

SUDAH 18 tahun Agus Ririmasse mengabdikan diri di Kota Kupang. Namun baru sekitar dua bulan, pria kelahiran Ambon, Maluku ini dipercayakan menahkodai pasukan pemadam kebakaran di Kantor Pemadam Kebakaran Kota Kupang.

 
Meski terbilang baru, namun sosok yang selalu terlihat rapi dan elegan ini membuat gebrakan di lingkungan kantor yang dipimpinnya. Salah satu yang ditanamkan pada ‘Satria Biru’ (sebutan untuk pasukan pemadam kebakaran), adalah menjaga tutur kata dan kerapihan dalam bertugas. Meski harus bersikap tegas dan tangkas, pasukan penyelamat nyawa dan harta benda masyarakat itu harus menjaga dua hal tersebut.

 
Bagi Agus, demikian dia disapa, penampilan dan tutur kata menjadi kunci utama, selain kemampuan teknis penanganan bahaya kebakaran. Kepada para ksatria tersebut, Agus selalu mengingatkan agar tidak hanya menjaga etika dalam berkomunikasi, tetapi juga kerapian. Etika dalam berkomunikasi, katanya, merupakan bagian penting dalam melaksanakan tugas demi memberikan kesan sempurna bagi para ‘Satria Biru’.

 
“Setiap hari biar setengah jam saja, kami selalu latihan PBB (peraturan baris-berbaris),” tutur suami dari Yohana Pakereng ini.  Komunikasi yang baik juga dapat meneduhkan korban dan tidak membuat mereka panik. Sementara kerapian memberikan kesan bahwa seorang petugas pemadam kebakaran selalu siap setiap saat, kapan pun, dan di mana pun.

 
“Dengan tutur kata, kita dapat menenangkan orang dan dengan kerapian kita bisa membuat orang tidak memandang kita sebelah mata,” katanya. Kedua hal itu selalu ditanamkan pada petugas pemadam kebakaran, sebab kerja mereka bersentuhan langsung dengan masyarakat dan menjadi bagian pertama dan terdepan dalam menangani masalah kebakaran.

 
Menjalankan tugas, katanya, petugas pemadam kebakaran harus menjadi pribadi yang lengkap dan disiplin agar dicintai masyarakat. Menjadi petugas pemadam kebakaran yang memiliki tugas mulia, bukan hal mudah. Sering petugas pemadam kebakaran bertaruh nyawa untuk menyelamatkan nyawa warga yang dilanda musibah kebakaran.

 
Petugas pemadam kebakaran pun, diakuinya, kadang memikirkan masalah kesejahteraan dalam melaksanakan tugas. “Mereka kadang melaksanakan tugas dengan pemikiran pinjaman yang belum lunas, atau gaji yang minus,” katanya.

 
Keresahan itu, menurut Agus, mempengaruhi kualitas kerja petugas pemadam kebakaran. Menghadapi persoalan itu, ia selalu rutin berkomunikasi dengan stafnya. Komunikasi dimaksudkan untuk mengetahui setiap persoalan yang mereka hadapi. Agus juga sering memberikan solusi alternatif untuk setiap persoalan yang dihadapi anggota pasukannya.  “Saya tidak mau mereka kerja dengan penuh beban keluarga atau yang lainnya,” kata Agus.

 
Demi meningkatkan kesejahteraan, Agus berani mengambil kebijakan lain, mengizinkan stafnya bekerja sambilan di luar waktu kerjanya di Kantor Pemadam Kebakaran. “Saya tidak melarang mereka untuk melakukan aktivitas di luar kedinasan atau piket. Saya dorong itu agar mereka sejahtera,” katanya.

 
Bahkan, tak jarang ia mengeluarkan biaya untuk membantu anak buahnya. Itu dilakukannya semata-mata agar anak buahnya bisa melaksanakan tugas dengan tenang. “Tanya saja ke mereka, karena itu tanggung jawab saya juga untuk selalu berpikir tentang apa yang mereka alami. Pemimpin itu harus hikmat dan bijaksana,” tegas Agus.

 
Tak hanya bisa memimpin, Agus juga memberikan contoh dengan terjun langsung menangani masalah kebakaran di Kota Kupang. “Karena itu, saya punya satu HP lagi yang nomornya hanya diketahui oleh piket. Kalau  HP itu berbunyi, berarti ada kebakaran dan saya harus segera turun,” Katanya.

 
Agus menyatakan, mencegah kebakaran di Kota Kupang tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas pemadam kebakaran. Proteksi terhadap bahaya kebakaran harus dilakukan semua pihak. Untuk itu, dia menganjurkan agar semua hotel di Kota Kupang memiliki fasilitas untuk memproteksi kebakaran. “Kami sudah beritahu dan kalau tidak ada, kami akan tegur. Apabila imbauan itu tidak diindahkan, maka kami akan keluarkan status hotel tidak aman,” katanya.

 
Tidak hanya pihak hotel, proteksi bahaya kebakaran menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, terutama keluarga-keluarga. Sebab, kasus kebakaran paling banyak menimpa rumah-rumah warga. “Pola hidup sangat menentukan diri kita terhindar dari kebakaran,” tukasnya. (R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz