Sabtu, 21 April 2018 | 19:34
10

Peduli Anak-anak Rote

DATANG dari Jakarta sebagai Pengajar Muda pada Program Indonesia Mengajar tidak membuat Virly Yuriken merasa terasing. Ia justru dapat berbaur dengan masyarakat dan anak-anak didiknya di Rote Ndao.  Dia juga bukan berasal dari Rote, tetapi peduli pada perkembangan pendidikan dan kemajuan anak-anak Rote. Karena itu, setelah sepuluh bulan mengajar melalui Program Indonesia Mengajar, Virly bersama delapan rekannya menggagas kegiatan yang sama dengan nama ‘Rote Mengajar’.

 
Awalnya, ia mendaftar di Indonesia Mengajar, namun tidak memilih daerah penempatan sendiri. Penempatannya di Rote dilakukan oleh pengurus Indonesia Mengajar di tingkat Pusat.
“Tetapi secara pribadi, sejak awal sudah ingin agar bisa ditempatkan di Rote, Kabupaten Rote Ndao,” tutur Virly di Kupang, Selasa (7/4).

 
Kesan pertama senang karena masyarakat Rote ramah, selalu menyapa para Pengajar Muda Indonesia Mengajar. Anak-anak juga bersemangat dan rajin bersekolah. Sayangnya, semangat anak-anak ini sering terbentur dengan keinginan orangtua.  “Harus kerja sawah, harus bantu tarik air, kerja macam-macam, sehingga anak-anak kurang semangat dalam belajar,” katanya.

 
Bagi Virly, jika anak-anak memiliki role model yang pas, akan punya motivasi belajar yang tinggi. Mereka pasti memiliki cita-cita tidak akan berhenti bila memiliki role model yang tepat.
“Akan tetapi, anak-anak didik saya di Rote kebanyakan tidak tinggal dengan orangtuanya, kebanyakan tinggal sama om, tante, opa, atau omanya, karena orangtua jadi tenaga kerja Indonesia (TKI) atau bercerai. Jadi mereka tidak punya role model yang tepat di rumah,” katanya.

 
Hal itu bisa saja berubah bila om, tante, opa, atau oma bisa memberikan contoh yang tepat dan baik, tetapi tidak semuanya seperti yang diharapkan. “Guru-guru juga begitu. Kalau guru-guru bisa memberikan contoh, role model yang baik, paling tidak disiplin atau tidak melakukan kekerasan fisik, itu saja sudah menjadi fondasi awal bagi anak untuk melihat pendidikan sebagai hal yang penting,” ucapnya.

 
Menurutnya, pendidikan bukan suatu keharusan, melainkan suatu kebutuhan. Akan tetapi, kenyataan belum menunjukkan pendidikan sebagai sebuah kebutuhan.  Selama hampir sepuluh bulan berada di Rote, pendekatan yang dilakukan para Pengajar Muda Indonesia Mengajar adalah pendekatan personal, langsung kepada orangtua, anak, guru, untuk melakukan motivasi bahwa pendidikan itu adalah kebutuhan yang sangat mendasar. Karena itu, bila ingin keluarga dan daerah berubah, maka jangan berhenti sekolah, tetapi lanjutkan pendidikan.

 
“Jangan berhenti dengan kata-kata ‘biar kita begini sudah’. Jangan berhenti di situ, Itu mitos yang harus dibongkar. Kalau sampai tua kata-kata itu terus terdengar atau diucapkan, maka  kita akan terus dengan kondisi seperti sekarang,” paparnya.

 
Untuk itu, perlu ada keinginan untuk berubah, paling tidak dimulai dari dalam diri sendiri. Dia mencontohkan guru-guru yang datang tepat waktu saja sudah menjadi sebuah perubahan dan menenamkan pada anak-anak bahwa waktu sangat berharga.

 
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rote Ndao, katanya, sebenarnya sudah cukup mendukung perkembangan pendidikan, dengan peduli pada peningkatan kompetensi guru, kepala sekolah di wilayah terselatan Indonesia itu. Tetapi, bila melihat output pendidikan dari sisi peserta didik, maka hambatan pengembangan pendidikan di Rote ada pada orangtua.

 
“Kalau guru dipersiapkan, sedangkan orangtua tidak dipersiapkan. Siapa yang mempersiapkan orangtua, misalnya untuk melahirkan anak? Jika dipersiapkan, maka dari awal orangtua sudah punya keinginan bahwa ketika memiliki anak akan dididik dan diasuh dengan baik,” tuturnya.

 
Orangtua, katanya, paling tidak dipersiapkan dengan baik. Padahal, anak lebih banyak anak bersama orangtua dibanding guru. Anak berada di sekolah hanya pada waktu pelajaran, sisanya ada di rumah. Karena itu, walau di sekolah anak diajarkan dengan baik, namun tidak diulang oleh orangtua di rumah, maka pasti akan berbeda.

 
Dari kondisi dan pemikiran-pemikiran itu, Virly bersama ketujuh temannya sesama Pengajar Muda Indonesia Mengajar menggagas Program Rote Mengajar. Rote Mengajar, tidak untuk mempengaruhi semua orang. “Yang penting ada satu dua orang yang terpengaruh, tetapi pengaruhnya tidak pernah hilang dari dalam ingatan anak untuk melakukan inovasi, kegiatan-kegiatan, aktivitas-aktivitas yang mem-promote pendidikan di daerahnya sendiri,” katanya.

 
Menghimpun hingga ratusan relawan untuk mengajar pada Program Rote Mengajar, menurut Virly, dilakukan dengan memanfaatkan media online. Awalnya, kata dia, setelah muncul ide itu, lalu dibuatlah blog Rotemengajar.blogspot.com. Untuk pertama kalinya di blog tersebut, pihaknya hanya membuat satu poster untuk disebar di akun Facebook sembilan penggagas kegiatan itu.
“Ditambah lagi teman-teman di Geng Motor Imut, KAMU Rote Ndao. Dari situ kemudian banyak yang masuk ke blog Rote Mengajar dan mendaftar,” tuturnya.

 
Kini, Rote Mengajar sudah mengumpulkan lebih dari 200 orang untuk mengajar pada 40 sekolah di Rote Ndao, mulai hari ini, Rabu (8/4) hingga Sabtu (11/4) mendatang.  Virly menambahkan, setelah sepuluh bulan di Rote Ndao, dirinya sudah mulai memahami budaya dan bahasa Rote. “Sudah bisa bahasa Rote sedikit-sedikit,” imbuhnya.

 
Ia bahkan mulai kerasan di Rote, walau orangtua sudah menginginkan dirinya kembali untuk berkarya di Jakarta. Tetapi, dia punya prinsip, masih muda, punya potensi, keinginan, tujuan, dan merasa dibutuhkan oleh orang lain, dan bisa menjadi berkat bagi orang Rote. “Itu lebih berarti buat saya ketimbang hanya ada dan bekerja di Jakarta,’ tukasnya. (R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz