Kamis, 26 April 2018 | 23:35
3

“Oleh-oleh Soekiran” tak Layak Konsumsi

SIAPA sangka, produk olahan makanan khas NTT bernama “Oleholeh Soekiran” yang terletak di Jalan Oe’ekam RT 09/RW 04 Kelurahan Sikumana yang terkenal itu, diproses dengan standar kesehatan yang sangat buruk.

 

Produk olahan emping jagung, dendeng sapi, se’i sapi, abon sapi, dan abon ikan yang diproduksi sang pemilik bernama Soekiran Santoso yang sudah diretas selama 10 tahun itu, akhirnya digerebek warga, Jumat (17/4) sekitar pukul 09.00 Wita. Disaksikan VN, bersama Ketua RT 09, warga berbondong-bondong mendatangi bangunan sekitar 500 m2 karena merasa sangat terganggu dengan bau busuk dari lokasi itu.

 
Aparat Polsek Maulafa yang turut dalam penggerebekan mendapati belatung dalam freezeer rusak dan menimbulkan bau busuk. Daging-daging sapi dan ikan di dalam karung, penuh dengan belatung. Daging-daging yang berada dalam panci pun tampak tak layak karena busuk.

 
Saat itu juga warga dan polisi memergoki dua orang karyawan yang tengah memproses produk.Tong-tong tampak berisi bahan baku jagung dan daging dalam air yang tampak kotor. Warga dan polisi tak mampu bernafas sehingga terpaksa menutup hidung.

 

Penyidik lalu mengamankan Samuel Santoso ke Mapolsek Maulafa untuk menjalani pemeriksaan, serta mengambil keterangan dari beberapa saksi termasuk para karyawan di tempat itu. Kapolsek Maulafa Polres Kupang Kota Kompol Suryati mengatakan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap tersangka dan para saksi yakni karyawan dan Ketua RT 09 dan RT 11.

 
“Kami akan terus melakukan pengembangan penyelidikan, dan telah melakukan penyegelan tempat usaha. Proses pemeriksaan sudah dilakukan termasuk izin usahanya. Pelaku bisa dijerat dengan UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,” bebernya.

 

Bahan Bekas Salah seorang karyawan yang enggan menyebutkan namanya kepada wartawan mengatakan, dirinya baru dua bulan bekerja di tempat itu dan biasanya dia melihat daging dan ikan yang dibeli sudah tidak laku dijual lagi. Hal ini dimaksudkan untuk menekan biaya produksi.

 
Dia menambahkan, sebelum dia bekerja, banyak karyawan yang bekerja pada tempat itu, namun karena tidak betah dengan bau dari lokasi pengolahan, maka mereka semua berhenti. “Tidak ada alat pengaman dalam bekerja misalnya masker atau sarung tangan. Kini hanya tersisa empat orang karyawan saja,” ungkapnya.

 
Filmon Manafe, warga RT 13/RW 05 Kelurahan Sikumana mengatakan, meski sudah diperingatkan berkali-kali, namun Soekiran tak pernah berubah. Limbah usahanya dibuang begitu saja sehingga mengganggu kenyamanan warga di RT 09, RT 11, dan RT 13.

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz