Jumat, 27 April 2018 | 08:51
OPINI SELASA 07032015

Merangkai Mimpi “Mutiara Pagar Selatan”

ROTE. Pulau ini hanya sejauh seratus dua puluh menit pelayaran dengan ferry cepat dari pelabuhanTenau – Kupang. Sebuah pulau “kecil”  yang bukan apa-apa jika dibanding Republik ini yang mempunyai lebih dari 17 ribu pulau.

 
Pulau ini mungkin hanya satu titik kecil di  bagian terselatan benua Asia.Wilayahnya hanya selebar 2.7 persen wilayah NTT yang mencapai 4.7 juta ha. Penduduk Rote Ndao hanya 2.5 persen total 4.8 juta penduduk NTT (BPS, 2013). Walau kecil terpencil di selatan,  pulau ini adalah salah satu titik terpenting karena merupakan pagar terselatan Republik ini.

 
Nembrala, salah satu ikon pariwisata di wilayah selatan dan terletak di Pulau Rote, mungkin lebih terkenal dibanding Rote. Sama seperti Bali yang lebih terkenal dari Indonesia. Sasando, alat musik asli Rote yang mendunia. Namun ironisnya dalam lirik lagu “Flobamora” bukan anak Rote yang memainkannya, akan tetapi “Anak Timor main sasando dan bernyanyi bolelebo”. Mungkin Rote hanya akan diingat kalau ada nelayan tradisional yang ditangkap di Australia.

 
Rote dikenal juga dengan Pulau Nusa Lontar (Borassusflabellifer). Pulau yang dipenuhi hamparan pohon lontar atau pohon “tuak”. Pulau ini kemungkinan lebih dikenal “orang luar” dibanding anak bangsa ini. Publikasi yang mungkin paling terkenal tentang Rote dan lontarnya ditulis oleh antropolog asing, Prof James Joseph Fox, dariAustralian National University, Canberra  yang berjudul ”Harvest of the Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia” yang diterbitkan oleh Harvard University Press, 1977.

 
Sejarahwan Matheos Messahk pernah menulis di Kompasiana edisi 6 Januari 2013 bahwa sejak abad 19, Eduard Douwes Dekker alias Multatuli sudah menceritakan tentang Rote, dalam novelnya Max Havelaar. “Hidup pasti sangat murah di sana”. Demikian penafsiran salah satu tokoh dalam Max Havelaar yang bernama Drystubble tentang “orang-orang yang tidak makan di Pulau Rote dekat Timor. ”Mereka meminum makanan mereka.

 

Dalam “Harvest of the Palm”, James Fox menegaskan bagaimana “orang Rote yang meminum makanannya” adalah suatu bentuk keunggulan ekonomi atau “economic advantage”. Matheos Messahk menggambarkan bahwa Orang Rote lahir bersama gula aer, minum nira, makan rumput laut, minum laru, makan lawar dengan lalapan daun papaya atau daun kelor, minum susu kerbau, sapi dan domba membentuk suatu metode survival skill yang telah mampu membawa diri mereka sebagai pemain utama sejarah sosial di Timor dan sekitarnya.

 
Ketokohan orang Rote terbukti melewati batas Pulau Timor dan zaman. Kita harus berbangga Rote melahirkan Prof WZ Johannes pada1895; adalah ahli radiologi pertama di Indonesia. Ia adalah dokter  Indonesia pertama yang mempelajari ilmu radiologi di Belanda.

 

WZ Johannes juga menjadi ahli rontgen pertama yang sangat berjasa dalam pengembangan ilmu kedokteran Indonesia sehingga mendapat gelar PahlawanNasional. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) di Kota Kupang.

 
Sementara Prof Dr Ir Herman Johannes, lahir di Rote, 28 Mei 1912, adalah saudara sepupu dari Prof WZ Johannes. Beliau adalah seorang tokoh pejuang paripurna asal NTT yang berjasa di bidang ilmu, tekhnologi, politik bahkan perjuangan bersenjata.

 

Ia ahli merakit senjata api dan membuat detonator serta alat peledak pada masa perjuangan melawan Belanda di Yogyakarta dan memegang jabatan sebagai Kepala Laboratorium Persenjataan, Markas Tertinggi Tentara, Yogyakarta, 1946. Pada Pemerintahan Soekarno, Herman Johannes menjabat Menteri Pekerjaan Umum dalam Kabinet Moh.

 

Natsir (1950-1951). Juga  sebagai akademisi dan ilmuwan, Herman Johannes menjabat sebagai Dekan Fakultas Tehnik UGM, Dekan Fakultas Ilmu Pasti dan Alam UGM dan akhirnya menjadi Rektor UGM 1961–1966. Ia juga menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978).

 
Ketokohan dua Johannes ini telah menyulut semangat anak-anak PulauLontar lainnya. Ada Adrianus Mooy yang pernah menjadi Gubernur Bank Indonesia periode Orde Baru. Setelah itu ada juga Drs ECW Nelu dan Drs Alex Sereh yang sukses sebagai bankir. Di Era Reformasi, masih hangat dalam ingatan kita, Saleh Husin, yang pada masa kecilnya berjualan kue, berhasil menjadi Menteri Perindustrian di Kabinet Kerja Presiden Jokowi.

 
Gerakan Rote Mengajar Keberhasilan para tokoh Rote tidak terlepas dari mimpi-mimpi yang mereka bangun. Memotivasi anak Rote untuk membangun mimpi inilah yang telah mengispirasi sekelompok anak muda yang menyebut dirinya “Komunitas Anak Muda untuk Rote Ndao – KAMU Rote Ndao” bekerjasama dengan “Pengajar Muda 8 Gerakan Indonesia Mengajar”, para aktor lokal dan pemerintah Rote Ndao menggagas “Gerakan Rote Mengajar”.

 
Rote mengajar merupakan gerakan sosial untuk memotivasi anak-anak Rote meraih mimpi-mimpinya. Impian untuk menjadi Johannes-Johannes baru di bidang kedokteran dan sains. Melanjutkan kiprah Mooy, Nelu dan Sereh sebagai ekonom yang berkelas international dan membangun industri yang hebat berbasis lontar dengan dukungan Saleh Husin.

 
Gerakan Rote Mengajar menggugah kesadaran kita bahwa anak harus ditumbuhkan kreativitasnya. Guru-guru harus diasah skill mengajarnya. “The founding father” – penggagas Gerakan Indonesia Mengajar untuk “menyalakan masa depan Indonesia”, Anies Baswedan yang sekarang adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di Kabinet Jokowi mengatakan “Ada 1001 masalah pendidikan di Indonesia”, tapi yang memiliki efek untuk memajukan pendidikan dan mencerdaskan anak-anak adalah guru.

 

Guru adalah orang yang berdiri di depan kelas dan senyatanya mencerdaskan anak-anak. Walaupun kenyataannya kekurangan guru SD masih sangat terasa, baik dalam hal jumlah, penyebaran dan kompetensi.

 
Karena itu Gerakan Rote Mengajar merupakan suatu gerakan membangun inspirasi atas kenyataan bahwa masalah pendidikan adalah masalah bersama. Kalau Gerakan Indonesia Mengajar memberi harapan “setahun mengajar, seumur hidup memberi inspirasi”, maka dengan Rote Mengajar adalah “gerakan membangun masa depan bagi mereka yang memiliki dan percaya pada mimpi-mimpinya”.

 
Gerakan Rote Mengajar tidak hanya membawa harapan baru, tetapi juga menegaskan kembali kedudukan Rote sebagai “pioner” pendidikan pertama di kawasan selatan Benua Asia ini sejak abad XVII pada zaman Belanda. Pada saat itu, pulau kecil yang hidup dar ilontar itu ternyata menghasilkan banyak orang cerdas. Orang-orang cerdas ini yang kemudian dididik menjadi guru, pamong praja dan penginjil awal yang menyebarkan pendidikan ke pulau-pulau lain di NTT, baik di Sumba, Flores, Alor, daratan Timor, bahkan luar NTT.

 
Karena itu Gerakan Rote Mengajar tidak hanya untuk memotivasi dan membangun mimpi, tapi harus berhasil menunjukkan keunggulan pendidikan di Rote. Ke depan, gerakan ini harus bisa mengangkat Index Pembangun Manusia (IPM) di Rote yang saat ini hanya berada di posisi empat belas dari 22 kabupaten/kota di NTT.
Ini adalah perjuangan kita semua. Gerakan Rote Mengajar adalah gerakan perjuangan. KAMU Rote Ndao dan “Pengajar Muda 8 Gerakan Indonesia Mengajar” adalah pejuang. Kita semua adalah penjuang pendidikan dan kita boleh bangga karena ibu-ibu kita melahirkan para pejuang. Sukses untuk Gerakan Rote Mengajar.

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz