Jumat, 20 April 2018 | 16:57
7

Menyederhanakan Acara Adat

IA bukan lagi menjabat sebagai Bupati Sumba Timur, tetapi pengabdiannya untuk kabupaten itu belum habis. Di usianya yang sudah kepala tujuh, Lapoe Moekoe tetap aktif berkarya dengan menjabat Ketua Forum Peduli Adat Kabupaten Sumba Timur Pangadang Mahamu.

 
“Saya terlibat dalam forum adat ini karena ingin melestarikan budaya Sumba Timur. Budaya itu peninggalan leluhur yang harus dipertahankan,” ujar Lapoe Moekoe kepada VN di Waingapu, Selasa (14/4).  Budaya, baginya, adalah salah satu unsur dalam kehidupan yang mengatur hubungan antar-manusia agar tetap harmonis. Untuk Sumba Timur, adat masih berjalan seperti sedia kala. Akan tetapi, ada beberapa unsur adat istiadat yang terkesan membebani, bahkan menyusahkan masyarakat.

 

Ada juga yang condong ke arah yang kurang tepat, salah satunya adalah pemborosan. Padahal, mempertahankan budaya bukan berarti masyarakat harus hidup boros.  “Misalnya, saat adanya kematian, setiap keluarga atau kerabat yang hendak melayat harus membawa satu ekor hewan yang diberikan kepada keluarga yang berduka.

 

Demi mempertahankan prestise dan harga diri dalam adat, walau harus berhutang sekalipun, kerabat tersebut pasti akan membawa hewan untuk diserahkan kepada keluarga yang berduka,” ungkap Lapoe.  Pemborosan tidak hanya pada acara kematian. Pada acara adat pernikahan pun terjadi pemorosan melalui mas kawin. Untuk mas kawin ini, menuru Lapoe, keluarga pihak pria harus memberikan hewan hingga mencapai puluhan ekor, bahkan ada yang mencapai ratusan ekor kepada pihak keluarga wanita dari keturunan bangsawan atau keluarga berada.

 
Bagi mantan Direktur RS Kristen Lendemouripa Sumba Barat ini, pemborosan dalam dua acara adat itu otomatis menyusahkan masyarakat sendiri, terutama masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Karena itu, melalui Forum Adat Pangadang Mahamu, Lapoe ingin mengurangi pemborosan dalam acara adat tanpa harus menghilangkan unsur adatnya.

 
“Pada dasarnya, makna mas kawin adalah simbol hubungan antara pihak pria dan pihak wanita, dan mas kawinnya tidak harus mencapai ratusan ekor hewan hingga masyarakat harus berhutang,” tegas Lapoe.  Gagasan Lapoe bukan tanpa halangan. Ada masyarakat yang mendukung, ada pula yang menolak.

 

Meski begitu, sudah ada 46 desa yang menerima gagasan penyederhaan acara adat. Dari jumlah itu, 22 desa bahkan sudah melakukan deklarasi untuk menyederhanakan acara adat kematian.
Meski begitu, masyarakat menyadari bahwa gagasan tersebut demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sumba Timur.
Jaga Kesehatan Walau sudah sudah berkepala tujuh dengan banyak kesibukan, Lapoe tetap bersemangat dalam beraktivitas. Semua itu, menurutnya, karena kesehatannya tetap terjaga dengan disiplin dan menjaga pola makan.  “Saya juga beruntung karena memiliki istri yang selalu menjaga kadar gizi dan protein dari setiap menu makanan yang disajikan,” ungkapnya.

 
Untuk menjaga tubuh tetap bugar, Lapoe yang pernah menjabat sebagai Kepala PT Askes Provinsi NTT ini juga rutin berolahraga, terutama renang. “Salah  satu olahraga yang sampai hari ini saya selalu lakukan adalah berenang di kolam renang swembak Waingapu. Saya juga menghindari rokok dan minuman keras,” ujarnya.

 
Tak hanya itu, demi tetap sehat, Lapoe selalu berusaha menghindari stres. “Jadi kalau selama bekerja, saya tidak ingin membawa masalah yang ditemui di kantor untuk terbawa hingga ke rumah, biarlah masalah itu selesai seiringnya berlalunya waktu,” tuturnya.
Perjalanan Karier Usai menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya tahun 1965, Lapoe sempat menjadi dokter militer melalui wajib milier di Angkatan Laut Surabaya. Setelah kembali ke kampung halamannya, Lapoe terpilih menjadi Bupati Sumba Timur pada periode 1978-1983.

 
Setelah melepas jabatan bupati, Lapoe menduduki posisi Kepala PT Askes Provinsi NTT hingga 1989. Setelahnya ia kembali ke Sumba Timur dengan bergelut di dunia pendidikan dengan menduduki posisi Ketua Yayasan Usaha Pendidikan Kristen (Yupenkris) Sumba Timur.

 
Saat ini, meski bukan muda lagi, Lapoe masih terus berkarya bagi daerah dan masyarakat Sumba Timur dengan memegang sejumlah jabatan penting. Selain sebagai Ketua Forum Adat Sumba Timur, ia juga menyumbangkan pikiran dan karya di bidang kesehatan melalui Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) Sumba Timur dan aktif dalam upaya perlindungan anak melalui Komisi Perlindungan Anak Sumba Timur. (mg-06/R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz