Kamis, 26 April 2018 | 23:38
67

Menjaga Hubungan Sinode-Jemaat

BICARANYA ceplas-ceplos dan apa adanya. Begitulah kesan pertama saat bertemu dengan Pendeta Laazar de Haan. Meski usianya sudah hampir mencapai kepala enam, namun semangatnya tetap membara.  Baginya, usia bukan menjadi halangan untuk beraktivitas atau memimpin sebuah organisasi. Ia selalu bersemangat meski guratan lelah tampak di wajahnya.

 
Sebagai Ketua Majelis Klasis Kota Kupang, Pendeta de Haan tampak bersemangat ketika memimpin sidang Majelis Klasis Kota Kupang di Gereja Kemah Ibadat Airnona, Kota Kupang. Di antara kata-katanya yang serius, selalu terselip candaan. Itulah yang membuat suasana sidang selalu hidup.

 
Ketika ditanya tentang Klasis Kota Kupang yang dipimpinnya, de Haan mengatakan, klasis merupakan organisasi yang menjadi jembatan penghubung antara Sinode GMIT dengan jemaat dan gereja-gereja di Kota Kupang. Meski hanya meneruskan kepemimpinan dari ketua klasis sebelumnya, bagi de Haan, itu bukan soal. “Papa ini hanya ketua klasis antar-waktu sampai periode 2016 nanti,” ungkapnya kepada VN, Kamis (9/4).

 
Sebagai penghubung Sinode GMIT dengan gereja-gereja, dia melihat komunikasi sebagai hal terpenting. Komunikasi tidak hanya agar hubungan baik Sinode GMIT dan gereja tetap terjaga, tetapi juga untuk membangun Klasis Kota Kupang yang dipimpinnya.  Komunikasi itu harus terwujud demi membangun persatuan mulai dari tingkat jemaat, gereja, hingga bermuara pada Sinode GMIT.

 
“Dengan teman-teman sesama pendeta, komunikasi harus terus dibangun dan terjaga,” katanya. Meskipun masih bergumul untuk menghadirkan gedung Klasis Kota Kupang yang tetap, namun hal itu tidak menjadi penghalang baginya untuk mengembangkan jemaat. Namun, usaha dan pergumulan itu akhirnya berbuah dengan diberikannya sebidang tanah oleh Wali Kota Kupang Jonas Salean pada pembukaan sidang Majelis Klasis Kota Kupang, Rabu (7/4).

 
Tanah pemberian Pemkot Kupang itu yang akan dimanfaatkan untuk pembangunan gedung Klasis Kota Kupang.  “Selama ini kami pakai rumah yang diberikan, tapi tahun ini kami mulai untuk membangun,” ujarnya. Fasilitas seperti gedung, menurut de Han, bukan merupakan sebuah hal utama. Pada tataran yang jauh lebih luas, klasis memainkan peranan sebagai mediator bagi terciptanya komunikasi yang harmonis antara jemaat dan Sinode GMIT.  “Ini barulah merupakan fungsi dari klasis,” katanya.

 
Pada tingkatan jemaat, sering terjadi perpecahan dan berjalan sendiri-sendiri. Ada banyak faktor yang melatarbelakangi terciptanya jarak atau ruang pemisah, baik di jemaat maupun majelis.
Untuk itu, dibutuhkan kekuatan dan penghayatan terhadap arti kebersamaan mulai dari hulu hingga hilirnya.  “Dengan kebersamaan, apa pun dapat kita lakukan,” tegasnya.

 
Tak banyak yang diinginkan di sisa masa kepemimpinannya. De Haan hanya ingin merakit sebuah kebersamaan melalui Klasis Kota Kupang yang dipimpinnya, dengan tetap menjunjung tinggi kepedulian. Klasis, katanya, lebih mengutamakan kepedulian yang berbasis kebersamaan dengan cara saling menolong, terutama di tingkat jemaat.  Jemaat memiliki peranan yang paling penting dalam melihat dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

 
“Ini masalah beruntung dan tidak saja. Karena itulah, yang lebih beruntung harus lihat mereka yang kurang beruntung di sampingnya,” katanya.  Ketika terpilih sebagai Ketua Majelis Klasis Kota Kupang antar-waktu, de Haan mengungkapkan, segala sesuatu yang dialaminya merupakan rencana Tuhan seutuhnya.

 
“Peristiwa besar yang terjadi pada kesempatan ini, boleh terjadi karena penyelenggaraan Tuhan. Manusia boleh berencana dan bercita-cita, tapi Tuhan sebagai penentu terakhir. Tuhan telah mempersiapkan segala sesuatu yang baik bagi hamba-hamba-Nya” ungkapnya ketika memberikan sambutan pada serah terima jabatan Ketua Majelis Klasis Kota Kupang.  De Haan menegaskan bahwa dia akan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.

 
“Saya bekerja sesuai dengan apa yang dapat saya kerjakan. Tuhan berkarya sesuai dengan kehendak-Nya,” katanya.  Saat itu pun, meski telah menyandang predikat sebagai Ketua Majelis Klasis Kota Kupang, dia menyatakan bahwa akan tetap bersedia memberikan pelayanan kepada kelompok jemaat mana pun di dalam Klasis Kota Kupang yang membutuhkan pelayanannya.

 
”Jabatan sebagai Ketua Klasis, tidak serta merta menghapus profesi saya sebagai pendeta. Saya tetap pendeta, sekaligus hamba Tuhan untuk melaksanakan tugas sebagai pelayan jemaat,” tandasnya. (mg-07/kka/R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz