Kamis, 26 April 2018 | 23:28
15

Mengangkat Martabat Petani Kopi Bajawa

BERBICARA tentang kopi Arabika Flores Bajawa (AFB) yang kini menembus pasar mancanegara, tidak bisa dipisahkan dengan perjuangan Bernadinus Dhey Ngebu. Lulusan Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta ini adalah seorang pecinta kopi dan berjuang dari awal dengan memberdayakan petani hingga memperkenalkan kopi AFB ke mancanegara.

 
Tak hanya mencintai kopi, dia juga pemerhati petani dan pendamping para petani kopi di Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores. Dari kecintaannya itu, Bernadinus kemudian membidani lahirnya Unit Pengelola Hasil (UPH) kopi. Bersama para petani kopi, Bernadinus yang juga penikmat kopi ini berjuang menyejahterakan petani kopi.

 
Lulus kuliah tahun 1995, alumnus SPP St Isidorus Boawae tahun 1990 ini sempat mengabdi di PT Aek Tarum Palembang, Sumatera Selatan. Dia menjabat sebagai Asisten Pembina Kemitraan pada perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut.

 
Tujuh tahun di negeri orang, pada 2002 Bernadinus memutuskan pulang kampung. Sarjana pertanian yang disandangnya menjadi aset berharga untuk berkarya di tanah kelahirannya. Suami dari Maria FD Djeradut itu memanfaatkan masa-masa awal pulang kampung dengan mengurus satu hektare kebun kopi milik ayahnya di Desa Beiwali.

 
Namun, apa yang dilihat pria yang akrab disapa Berny di kampung halamannya itu membuatnya prihatin. Pohon-pohon kopi yang ada lebih tepat disebut sebagai hutan kopi, bukan kebun kopi. Sebab, pola tanam tidak sesuai dengan standar teknis budidaya. Belum ada keseimbangan antara luas lahan dan jumlah pohon kopi dengan produksi kopi. Kenyataan itu membuatnya semakin menyadari bahwa orang Ngada kaya akan kopi, tetapi tidak sejahtera dengan hasil yang mereka peroleh.

 
Alumnus SMPN 1 Bajawa ini juga menyadari merosotnya harga kopi, terutama sebelum tahun 2004. Pada tahun-tahun itu, harga kopi gelondong merah berkisar Rp 800-Rp1.200 per kilogram.
Dari berbagai kenyataan dan kondisi para petani di Ngada, sejak 2004 Berny mulai melakukan terobosan.

 

Ia menjalin kerja sama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslit Koka) Jember, Jawa Timur dan mengangkat kembali harga kopi gelondong merah dari Rp 800-Rp 1.200 menjadi Rp 3.000 per kilogram.  Pria kelahiran 27 April 1966 ini juga bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Ngada dan bersama-sama menggagas terbentuknya UPH kopi.

 

Melalui UPH (Unit Pengelola Hasil), Berny bersama tiga rekannya, Stanis Fernandes Vera Killa, Petrus Sue, dan Fabianus Pesek, mendampingi dan melatih para petani kopi. Berny dan ketiga sahabatnya bertindak sebagai fasilitator pelatihan dinamika bagi anggota kelompok tani.

 
Untuk pertama kalinya, UPH diperkenalkan yang ditandai dengan terbentuknya UPH Famasa di Desa Beiwali dan UPH Suka Maju di Desa Ubedolumolo. Berny rutin melakukan pendampingan terhadap Kelompok Tani Famasa yang kala itu masih bergerak di bidang penghijauan. Tidak mudah memulai pendampingan awal. Meski belakangan berkembang banyak UPH, saat pembentukan UPH hanya didukung oleh satu kelompok tani dengan 34 anggota.

 
Untuk meningkatkan pendapatan petani kopi, menurut Berny, kopi tidak hanya bisa dijual secara gelondongan. Harus diolah agar nilai jualnya tinggi dan pendapatan petani semakin membaik. Karena itu, diperlukan kehadiran teknologi pengolahan kopi.

 
Sebelum mendatangkan dan memperkenalkan teknologi kepada para petani, alumnus Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman ini mulai menyiapkan SDM para petani, memberikan pendampingan teknis pengelolaan.

 

Dia juga mencari dan membuka akses modal dengan menggandeng Dinas Perkebunan Provinsi NTT. “Upaya itu kami lakukan karena ingin agar kopi dari Ngada bisa diekspor. Tetapi kopi yang diekspor itu sudah harus dalam bentuk setengah jadi dengan harga yang lebih bersaing, dan bukan kopi gelondong merah,” ujar Berny kepada VN, baru-baru ini.

 
Berkat usaha dan kerja kerasnya bersama para petani, sejak 2005, UPH Famasa dan Suka Maju menghasilkan kopi beras atau kopi setengah jadi yang siap ekspor, bukan lagi kopi gelondongan. Kopi beras adalah biji kopi kering yang sudah siap jual atau siap ekspor.

 
Harga kopi beras kala itu untuk ekspor Rp 17.500 per kilogram. Sementara harga di tingkat petani (di luar UPH) masih Rp 11.000 per kilogram. Satu kilogram kopi beras dihasilkan dari enam kilogram gelondong merah. Jika dikalkulasikan, menjual kopi beras jauh lebih untung karena harga kopi gelondong merah hanya Rp 2.000 per kilogram.

 
Sejak tahun 2007, UPH Famasa dan Suka Maju memproduksi kopi beras menjadi kopi bubuk (kopi jadi) yang dikemas dengan bentuk yang menarik. Jika awalnya menggunakan plastik biasa, maka kini telah menggunakan kemasan berlapis aluminium foil.

 
Apa yang dimulai Berny bersama teman-temannya dan Dinas Perkebunan Kabupaten Ngada telah berbuah manis. UPH Famasa dan Suka Maju pun menjadi embrio lahirnya 16 UPH lain di daerah-daerah penghasil kopi di Ngada seperti Bajawa, Golewa, dan Golewa Barat. Tak sampai di situ, UPH Famasa pun telah dibawanya menjadi sebuah Koperasi Serba Usaha (KSU) dengan jumlah anggota 182 orang dan dukungan 11 kelompok tani.

 
Menurut Berny, apa yang dilakukannya semata-mata untuk mengangkat harkat dan martabat para petani kopi Ngada. “Apa yang kami lakukan hanya ingin agar para petani bermartabat di kebun kopi miliknya,” ujar Berny.

 
Berny pun aktif di UPH Famasa yang mengembangkan sayap usaha dengan memasarkan hasil produksi kepada publik. Berny dipercayakan sebagai manajer pemasaran.  “Kopi yang mantap, rasanya harus nendang. Dulu kopi Arabika Flores Bajawa lumpuh. Sekarang rasanya nendang, bahkan hingga mencanegara,” tukasnya. (R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz