Minggu, 22 April 2018 | 18:15
Aktivitas menambal ban di tempat tambal ban milik Bernabas Snae di Jalan Frans Seda
vn/nahor fatbanu

Mencari Berkah di Kampung Sendiri

Victory-News, MERANTAU adalah keiginan untuk mengubah nasib di tempat yang baru. Biasanya, di Provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya dari wilayah daratan Timor, paling banyak pemudanya merantau ke Negeri Jiran Malaysia, menjadi tenaga kerja wani-ta (TKW) atau tenaga kerja laki-laki.

Bagi mereka, merantau ke Malaysia, walaupun melakukan perjalanan ile-gal, tetpa menjadi tujuan kehidupan. Hal yang berbeda dilakukan Barnabas Snae, pria asal Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Nabas, biasa dia dipanggil, memilih tidak mengikuti jejak rekannya yang lain, yang memilih berbondong-bendong menjadi tenaga kerja Indoesia (TKI).

Nabas lebih memilih merantau di Kota Kupang, yang jaraknya tidak lebih 100-an kilometer dari Kota Soe, tempat kelahirannya.  Bagi Nabas, bekerja di mana saja bisa menghasilkan uang, asalkan memiliki tekad untuk memulai ber-usaha.

Sampai di Kupang, ia mulai bin-gung mau bekerja apa. Mau mem-buka kios, tidak memiliki modal besar. Namun, Nabas memiliki feeling bisnis yang kuat. Dia melihat ada potensi ekonomi melalui usaha tambal ban. Lagi-lagi kendala modal menjadi masalah utama kemauan berusahanya.

Rupanya perjuangan yang sung-guh-sungguh dengan tekad yang kuat, pasti di dengar Tuhan. Akhirnya membuka usaha tambal ban merupakan profesi kehidupannya sampai saat ini.

“Awalnya saya kumpul modal untuk membeli perlengkapan usaha tambal ban mulai dari yang kecil sampai yang besar seperti kompresor yang cukup mahal. Semua itu saya kumpulkan satu persatu sampai leng-kap. Proses pengumpulannya pun tidak gampang, karena harus dimulai dari bekerja sebagai kuli bangunan.

Usaha keras saya mulai terbuka hasilnya. Tepat Juni 2013, usaha tambal ban motor dan mobilnya resmi bero-perasi,” ujarnya.  Nabas membuka usaha tambal bannya di Jalan Frans Seda, sampai pukul 03.00 Wita. Tarifnya relatif murah baik pagi maupun malam.

Untuk ban motor Rp 10 ribu, dan ban mobil Rp 20. Rata-rata pelanggannya adalah kenalan yang membawa bus daratan Timor dan trukk. “Kadang-kadang saya sudah beristirahat. Namun, ada saja yang masih membutuhkan jasanya walaupun sudah hampir pagi,” ujarnya.

Nabas berpesan kepawa kawula muda NTT khususnya sesamanya dari daratan Timor, berkah di negeri sendiri lebih mulia daripada men-cari berkah di negeri orang. (nahor fatbanu/H-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz