Jumat, 20 April 2018 | 16:56
57

Membendung Pergerakan ISIS di NTT

PERGERAKAN Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Suriah menjadi perbincangan internasional selama beberapa waktu belakangan. Halaman-halaman media cetak maupun tayangan media elektronik ramai memuat berita soal pergerakan ISIS yang semakin tak terbendung.

 
ISIS diduga kuat merupakan kelompok radikal yang hendak membangun negara berbasis agama dengan jaringan global. Ini menyusul kehadiran mereka yang secara tiba-tiba menggunakan bendera dan berbagai perlengkapan lainnya, hingga mempersuasi masyarakat untuk bergabung bersama ISIS.

 

Tak terkecuali di NTT, Harian Umum Victory News edisi Kamis 23 April 2015 menurunkan berita “Polsek Lobalain di Kabupaten Rote Ndao terpaksa mengamankan 11 orang yang dicurigai oleh warga setempat sebagai anggota ISIS. Ke-11 orang itu diamankan untuk menghindari aksi main hakim sendiri oleh warga. Sebelumnya, empat dari 10 warga negara Bangladesh,  ditangkap Warga Desa Lite, Kecamatan Adonara Tengah, Kabupaten Flores Timur”.

 
Lepas dari apakah kejadian seperti yang diwartakan itu terkait ISIS atau tidak, yang jelas pergerakan kelompok ISIS kini sudah menjadi kekhawatiran global. Kekhawatiran itu timbul, karena disinyalir, kelompok ini membawa ideologi baru yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kekhawatiran tersebut pun turut dirasakan setiap anak bangsa di Indonesia.

 

Ini menyusul, Bumi Pertiwi menjadi incaran empuk pergerakan kelompok radikal ISIS. Pengamat konflik, Muhammad, mengemukakan bahwa dirinya tak heran bila ISIS hendak mempersuasi masyarakat Indonesia. Hal itu karena Indonesia merupakan negara dengan penduduk Islam terbesar dunia. Tak tanggung-tanggung, ia pun menyebut Indonesia sebagai “pangsa pasar” terbesar kelompok radikal ISIS (kompas.com).

 
Meskipun ISIS disinyalir baru muncul paska-konflik Gaza tahun ini, namun, sebenarnya kelompok ini telah dibentuk pada tahun 2013 silam, dan memiliki kesamaan ideologi dengan kelompok dan jaringan teroris sekelas Al-Qaeda Iraq.

 

Ini dapat dilihat dari pemimpin ISIS sekarang, Syaik Abu Mush’ab Az Zarqawi yang notabene merupakan mantan pemimpin jaringan teroris Al-Qaeda Iraq. Kondisi ini, jelas merupakan skenario besar yang dimainkan Al-Qaeda untuk membentuk negara dengan syariah Islam melalui pergerakan ISIS. Meski demikian, beberapa ulama dan petinggi Islam pun telah mengecam kehadiran ISIS yang hendak “membumikan” daulah dan syariah ISIS dengan mengatasnamakan agama tertentu (Islam).

 
Namun, realitasnya praktik mereka jauh dari ajaran agama. Ini karena ISIS menghalalkan kekerasan. Padahal, tidak ada ajaran agama yang membenarkan adanya kekerasan, temasuk agama Islam. Di Idonesia, tokoh Muslim seperti Din Samsudin dan Alwi Syihab pun telah mengecam kehadiran kelompok radikal baru di negara ini.

 

Ini menyusul adanya informasi yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bahwa ISIS telah berkembang pesat di sejumlah wilayah di Indonesia seperti Solo, Bandung, NTB, Sulawesi, Ambon, Banjarmasin dan Bengkulu. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan, ISIS akan terus melebarkan sayap di wilayah sasaran lainnya di Indonesia.
Bendung Pergerakan ISIS  Hemat penulis, tidak ada kata diam dan terlambat untuk membendung pergerakan kelompok radikal ISIS di Indonesia, termasuk di Provinsi NTT. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa NKRI telah dibangun dengan ideologi Pancasila dengan lima silanya yang sangat tepat dengan kondisi pluralitas bangsa dan perubahan zaman. Jelas, lima sila Pancasila itu tidak bisa ditambah maupun dikurangi oleh siapapun.

 

Pasalnya, the founding fathers (para pendiri bangsa), Soekarno-Hatta cs telah menetapkan dasar negara ini dengan baik. Dan, itu sudah final. Oleh karenanya, hemat penulis, ideologi yang telah ditetapkan the founding fathers ini patut dijunjung tinggi dan dilaksanakan dalam setiap praktik kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk digunakan untuk menghalau pergerakan dan pengaruh ISIS yang semakin masif di Indonesia; mempersuasi dan mengajak setiap anak bangsa untuk bergabung.

 

Karena, disinyialir salah satu tujuan hadirnya ISIS di Indonesia adalah untuk memecah belah kerukunan beragama, berbangsa dan bernegara. Ini tentu menentang sila pertama yakni Ketuhanan yang Maha Esa. Oleh karenanya, upaya membendung pergerakan ISIS mutlak dilakukan. Karena doktrin mendasarnya adalah soal ideologi, maka tidak berlebihan bila kita semua anak bangsa wajib membendung dan melawan pergerakan ISIS dengan ideologi yang kita anut yakni Pancasila.

 

Pada tataran ini, Pancasila perlu mendapat tempat di hati setiap anak bangsa. Inilah tindakan wajar nan mulia yang perlu dilakukan dan dikedepanan, karena bila kita tidak mampu menjaga dan menerapkan ideologi Pancasila dalam kehidupan kita, maka pada saat yang sama kita akan terjerumus dengan ideologi-ideologi baru yang akan muncul, termasuk ideologi yang disebarkan ISIS.

 
Terlepas dari itu, beberapa kalangan menilai pergerakan ISIS di Indonesia merupakan bentuk kebebasan berkumpul dan berserikat. Oleh karena itu, ISIS perlu dilindungi. Hemat penulis ini adalah pemikiran kerdil dan keliru. Karena pada titik ini negara harus berani dan tegas menolak tumbuh dan berkembangnya kelompok-kelompok radikal.

 

 

Apalagi kelompok tersebut menghalalkan kekerasan dalam memaksakan ideologinya. Kita tentu saja mendukung, bila ideologi tersebut mengedepankan nilai-nilai kemanusiaaan; kebenaran, keadilan, perdamaian dan lain sebagainya. Karena, secara terang benderang ideologi yang dibawa ISIS kontra kemanusiaan, maka pergerakan ISIS di Indonesia, khususnya di Bumi Cendana perlu dibendung dan dihentikan. Semoga.

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz