Kamis, 26 April 2018 | 23:32
OPINI RABU 18032015

Membangunkan ‘Kartini’ NTT

FIGUR Kartini yang diperingati hari ini, Selasa (21/4) selalu merupakan refleksi identitas perempuan. Refleksi akan identitas tidak melulu dimengerti sebagai sebuah ingatan (memory) atau hanya membangunkan ingatan sosial akan hadirnya seorang perempuan bernama Kartini yang bisa mendobrak mainstream pada kehidupan sosial Jawa waktu itu. Membangunkan ingatan bisa saja dimengerti sebagai mengingat sosok tersebut sembari melakukan refleksi atas apa yang telah Kartini lakukan.

 

Namun yang kini biasa dilakukan pada hari spesial ini hanyalah hal non-substantif seperti pawai kebaya, masak memasak.  Kita pasti membutuhkan sebuah refleksi filosofis yang lebih, sebab dunia sekarang (khususnya NTT) sedang dikelilingi berbagai realitas perempuan yang sangat memperihatinkan.

 

Selain kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), kasus human trafficking yang menjadi momok provinsi ini belum tuntas diurai benang kusutnya, dan masih jauh dari penyelesaian. Beberapa usaha konkret sudah dilakukan pemerintah namun hingga kini belum membuahkan hasil.

 

Hingga kini, kasus human trafficking masih tetap terjadi di provinsi yang merepresentasikan diri sebagai masyarakat yang beragama dan berbudaya. Hal tersebut membawa kita pada sebuah refleksi bahwa kita butuh membangunkan “Kartini-Kartini” NTT.

 

Pertanyaanya adalah bagaimana membangunkan figur-figur Kartini di NTT? Saya sengaja menggunakan kata “membangunkan” dalam judul tulisan ini sebab saya percaya bahwa perempuan NTT memiliki kualitas untuk hidup berdampingan dengan laki-laki dalam membangun dunia, hanya saja habitus dan mainstream NTT kadang mengungkung perempuan NTT untuk berkembang lebih.

 

“Membangunkan” (Dunia) Perempuan  Perempuan secara substantif memiliki kualitas dan hak untuk mengubah dunia yang sama dengan laki-laki. Kita pun masih teringat dengan perempuan-perempuan hebat dunia yang telah mencatatkan namanya sebagai “wonder women” yang selalu dikenal.

 

Di Indonesia, kita tidak melupakan sosok Kartini yang kita peringati hari ini. Di lingkup yang paling kecil yakni NTT, kita tidak bisa menutup mata dengan sososk Rambu Atanau dan Veronica Ata Tori yang mendapatkan penghargaan Indonesian Women of Change (IWOC) 2015 dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Realitas perempuan tersebut menunjunkan betapa perempuan telah menampilkan diri mereka yang sesungguhnya.

 
Namun di balik beberapa kisah sukses perempuan di atas, masih banyak perempuan yang harus dibangunkan dari hegemoni habitus sosial dan budaya (jika meminjam kalimat sang filsuf Prancis Pierre Bourdieu) yang selama ini mengungkung dirinya. Tidak mudah membangunkan perempuan dari habitus yang selama ini melilit kehidupannya.

 

Namun demikian, hal dasar yang harus segera dilakukan adalah dengan menggugat dominasi budaya patriarki yang hingga kini dianggap sebagai sebuah kebenaran. Wacana patriarki, bahkan di titik tertentu dianggap sebagai dasar pembedaan secara substantif antara laki-laki dan perempuan.

 

Wacana patriarki merupakan kekerasan sebab menjebak setiap orang (termasuk perempuan) dalam menentukan cara melihat, merasakan, berpikir dan bahkan bertindak (Haryatmoko, 2010: 128).

 

Ketika cara berpikir, cara kerja dan bertindak seseorang atau masyarakat didasarkan pada prinsip patriarki, maka di saat yang sama kekerasan itu terjadi. Wacana yang menganggap bahwa perempuan lebih rendah martabatnya dari laki-laki harus segera ditinggalkan dari kehidupan konkret masyarakat yang lebih benar dan adil.

 

Perempuan mempunyai hak untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan apa yang mereka pikirkan dan bukan terkungkung oleh wacana yang dibangun oleh kaum laki-laki.
Kekerasan yang dirasakan perempuan hadir dalam beberapa bentuk. P Lardellier (2003: 18) mengartikan kekerasan sebagai prinsip tindakan yang mendasarkan diri pada kekuatan untuk memaksa pihak lain tanpa persetujuan.

 

Dengan demikian, arti kekerasan tidak hanya terkungkung pada kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan simbilok atau psikis. Inilah yang terjadi pada dunia perempuan selama ini.  Hari Kartini yang diperingati hari ini tidak hanya melulu mengenai mengingat (memory) figur RA Kartini yang hadir beberapa abad silam, juga bukan mengenai parade kebaya dan lomba masak-memasak.

 

Hari Kartini tahun ini harus diisi dengan refleksi kritis bagaimana membangunkan figur perempuan dari dominasi wacana patriarki. Kemitraan dengan kaum laki-laki menjadi modal dasar pembangunan dunia perempuan secara lebih adil dan benar. Inilah inti kehidupan yang harus diperjuangkan pada refleksi hari ini.

 

Tujuan akhir adalah bahwa perempuan merasa keadilan dalam hidup dan pada akhirnya seperti yang dilukiskan oleh Annie Leclerc bahwa “perempuan harus belajar menilai apa pun dengan cara pandang mereka sendiri dan bukan melalui mata laki-laki”. Dengan demikian, kesetaraan hidup antara laki-laki dan perempuan semakin mendapatkan tempatnya. Selamat menyongsong hadirnya “Kartini-Kartini” baru NTT!

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz