Jumat, 20 April 2018 | 17:03
58

Lestarikan Budaya dengan Menari

BAGI Febryani Wunga, menari tidak hanya sekadar hobi, tetapi juga salah satu cara mengungkapkan rasa cinta akan budaya dan seni tradisi Sumba Barat Daya (SBD). Tarian tradisi Wejewa, misalnya, merupakan aset dan identitas Sumba Barat Daya.

 

Menurut remaja yang akrab dipanggil Ety ini, kecintaan dan ketertarikannya pada tarian daerah sewaktu ia di bangku SD. “Dulu masih kecil kalau ada acara saat lihat orang menari dan bergerak gemulai, saya dalam hati langsung ingin menari seperti itu,” tutur dara kelahiran Kanelu, Sumba Barat Daya, 1 April 2002 ini.

 
Kepada VN, baru-baru ini, siswi SMPN 2 Wewewa Timur ini mengungkapkan, dia sangat mengaggumi tarian tradisi daerah karena memiliki banyak ragam gerakan dan membangkitkan semangat. “Busana dan musik pengiringnya sangat bagus dan membuat bersemangat, apalagi disertai pekik peyawau dan pakala,” katanya.

 
Untuk melatih kemampuan menari, Ety kini belajar menari pada Sanggar Tari Wolla Ua Tana Mema di Limbu Watu, Wewewa Timur. Bersama sanggar tempatnya belajar, dia pernah mengikuti Kongres Seni Budaya se-Sumba di Anakalang, Sumba Tengah.

 
Dia menambahkan, kawula muda sekarang kurang memperhatikan dan tidak banyak tertarik pada seni tradisional. Remaja lebih senang dengan budaya asing dan cenderung meninggalkan tradisi. “Anak muda sekarang lebih suka dance modern seperti breakdance, shuflle, dan lain-lain, sedangkan tarian sendiri kurang diminati. Padahal, itu warisan nenek moyang yang harus dilestarikan,” terangnya.

 
Kaum muda memiliki tanggung jawab terhadap keberlanjutan budaya dan tradisi Sumba. Karena itu, dia berharap para kawula muda Sumba mencintai dan menggunakan budaya sendiri, bukannya budaya orang lain. (mg-11/R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz