Jumat, 27 April 2018 | 08:58
2

Lagi, Wisatawan Tewas saat Diving

UNTUK yang kesekian kalinya, wisatawan luar NTT yang mengunjungi Taman Nasional Komodo (TNK), Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), harus meregang nyawa saat sedang melakukan diving di perairan Kristal Rock, sekitar Pulau Komodo.

 
Asri Sofia Marwah, warga Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (27/4) siang, harus menghembuskan nafas terakhirnya di Puskesmas Labuan Bajo setelah sempat menjalani perawatan selama dua jam. Informasi yang dihimpun VN di Puskesmas Labuan Bajo kemarin menyebutkan, Asri diduga dihantam gelombang tinggi ketika sedang menyelam (diving) bersama suaminya dan sembilan orang teman mereka yang juga warga Kota Bandung.

 
Asri yang kesehariannya berjilbab, adalah korban keempat. Sebelumnya, pada 16 Maret 2009 lalu, Syiromi Nakauz Mikael (45), wisatawan asal Rusia, tewas tenggelam saat sedang melakukan penyelaman bersama tujuh rekan lainnya di kedalaman sekitar 25 meter.

 
Pada 20 Agustus 2014, Ana Maria Gota Gonsales (40), seorang warga Spanyol juga tewas saat menyelam di perairan Kristal Rock Gili Laba. Dan, 1 September 2014, Juningsih Jecelin Letik, karyawati PT XL Axiata Tbk, Jakarta Pusat, juga tewas saat menyelam di perairan Kristal Rock Gili Lawa.

 
Sedangkan wisatawan asal Thailand bernama Thapana Thiracharcenpanaya tenggelam di perairan Gililawa Laut pada Kamis 17 April 2014 dan hingga kini belum diketahui nasibnya. Hari ini Diterbangkan Usai dinyatakan meninggal dunia oleh petugas medis puskesmas, jasad Asri kemudian dibawa suaminya Giri Firmansyah beserta rombongan menuju Masjid Raya di Kampung Ujung, Labuan Bajo untuk disemayamkan.

 
Disaksikan VN, suami Asri tampak terpukul dan hanya bisa memandangi jenazah istrinya. Kepada Wakil Bupati Mabar Maksimus Gaza yang mengunjungi mereka di Masjid Raya, Giri mengatakan, jenazah istrinya akan diterbangkan hari ini menuju Bandung. “Mohon doanya ya Pak. Semoga istri saya diterima di surga,” ujarnya.

 
Mendengar itu, Maksimus Gaza kemudian meminta Giri agar tidak segan-segan menghubungi pemerintah jika membutuhkan sesuatu. “Nanti malam kita jaga sama-sama di sini,” kata Gaza. Stanislaus Stan, salah seorang Master Dive kepada VN mengaku sangat kesal dengan peristiwa itu. “Sebenarnya Asri bisa diselamatkan karena datang dari lokasi kejadian masih hidup.

 

Persoalannya, di Puskesmas Labuan Bajo tidak memiliki hyperbarick chamber. Alat itu sudah diusulkan sebelum Sail Komodo tapi pemerintah diam,” bebernya. Selama ini, lanjut dia, sudah empat korban yang meninggal di Puskesmas Labuan Bajo karena tidak ada hyperbarick chamber.

 

“Para Dive Master sudah mengusulkan melalui surat resmi, namun tidak ada tanggapan. Diving adalah jualan di Mabar. Tapi jika alat tidak ada bagaimana bisa menangani para penyelam yang kecelakaan?” tegasnya. (nan/M-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz