Jumat, 20 April 2018 | 17:03
OPINI AKMIS 02052013

Korupsi: Tabiat atau Watak?

PEMBICARAAN tentang korupsi dan koruptor rasanya sudah bosan mendengung di tengah kita. Hampir tiap hari persoalan ini diberitakan media massa. Sekian tahun bicara korupsi namun belum ada solusi yang tepat untuk membebaskan negeri ini dari cengkeraman korupsi.

 
Bahaya korupsi memaksa Pemerintah Indonesia membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tugas khusus memberantas korupsi. Dalam perjalanannya KPK pun dilanda goncangan internal maupun eksternal yang terkesan sebagai upaya pelemahan tugas dan fungsi lembaga ini.

 

Alhasil, korupsi tetap subur di lereng–lereng pemerintahan yang semakin sulit terdeteksi. Korupsi di Indonesia saat ini sudah menjelma menjadi tabiat tetap setiap orang yang duduk di suatu jabatan tertentu. Korupsi dilakukan oleh individu–individu yang memiliki tabiat yang sama yaitu keinginan untuk memperkaya diri dengan cara pintas.

 

Korupsi juga dilakukan oleh orang yang berpendidikan dan cerdas. Mengingat situasi dan kondisi masa kini, tidak mungkin korupsi dilakukan oleh orang bodoh dan tak berpendidikan, karena untuk melakukan korupsi dibutuhkan suatu keahlian khusus dalam mengelabui para pengawas keuangan di lembaga tempat korupsi itu dipraktikkan.

 
Tabiat seseorang tidak hanya ditentukan oleh nafsu dan keinginan pribadi, tetapi juga akibat tuntutan lingkungan. Malcolm Brownlee dalam bukunya “Pengambilan Keputusan Etis dan Faktor-faktor di Dalamnya” (BPK Gunung Mulia, 2011), mendefinisikan kata “tabiat” sebagai susunan bathin yang memberi arah dan ketertiban kepada keinginan, kesukaan dan perbuatan orang itu. Ia juga menyebutkan bahwa susunan tersebut terbentuk oleh interaksi antara seseorang dengan lingkungan sosialnya.

 

Perbuatan seseorang yang sesuai dengan tabiatnya akan lebih mudah dilakukan. Sebaliknya, ketika seseorang melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan tabiatnya, maka ia akan mengalami konflik bathin.

 
Tabiat tidak sama dengan “watak”. Watak adalah sesuatu yang telah ada dalam diri manusia sejak lahir yang bersifat tetap, sedangkan tabiat berkembang dan berubah sepanjang hidup. Banyak orang berpendapat bahwa watak lebih penting daripada tabiat, karena apa yang sifatnya tetap lebih penting dari yang berubah dan berkembang.

 

Menurut pandangan kebanyakan aliran ilmu jiwa, sebenarnya tabiat yang dapat kita ubah jauh lebih penting daripada watak yang bersifat tetap.  Tabiat juga berbeda dengan “kepribadian”; keduanya sama-sama mempunyai kontinuitas yang tetap, berkembang dan berubah, namun kepribadian lebih luas. Tabiat lebih mengandung sifat-sifat moral sedangkan kepribadian mengandung sifat-sifat emosional dan mental.

 
Tabiat hampir sama dengan budi pekerti, akan tetapi pada umumnya budi pekerti selalu bersifat baik sedangkan tabiat bisa baik, bisa buruk.  Pengaruh  Pembentukan Tabiat
Beberapa pengaruh yang membentuk tabiat, yaitu, pertama, pembawaan, yaitu sifat-sifat yang diwariskan orangtua/nenek moyang.

 

Kita tidak dapat memilih atau mengubah pembawaan yang diwariskan kepada kita. Pembawaan itu akan terus berkembang dalam diri kita dan tergantung bagaimana kita menggunakannya. Pembawaan yang ada pada kita menentukan beberapa pembatasan dan kemungkinan, dan kita bertanggung jawab untuk mengembangkan, mengendalikan dan mengarahkan pembawaan kita.

 

Misalnya, seseorang yang secara alamiah lebih cerdas dari temannya. Akan tetapi, jika ia tidak belajar dan temannya lebih rajin belajar, maka bisa saja temannya akan menjadi lebih pintar. Atau bisa saja kecerdasan yang secara alamiah telah ada dalam diri, bisa saja digunakan untuk hal yang jahat, atau hal yang baik.

 
Kedua, lingkungan sosial dengan segala aspek di dalamnya juga turut mempengaruhi pembentukan tabiat seseorang. Pengaruh atau peranan orang-orang di sekitar (keluarga maupun masyarakat), petunjuk-petunjuk yang sering diberikan, kebudayaanserta situasi-situasi yang sering dialami memiliki peranan besar mempengaruhi pembentukan tabiat.

 
Ketiga, pengalaman-pengalaman dan hubungan seseorang dengan orang lain Pengaruh ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh lingkungan sosial karena keduanya berkaitan. Akan tetapi ketika membahas lingkungan sosial, hal yang diutamakan ialah pandangan moral yang diterima seseorang dari keluarga dan kebudayaannya, sedangkan untuk pengaruh ini, yang menjadi perhatian ialah peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman.

 

Pengalaman-pengalaman yang dialami seseorang melalui setiap peristiwa yang dialami, baik atau buruk, turut membentuk tabiat seseorang. Pengaruh tersebut sering tidak dapat dihapuskan tetapi dapat dikembangkan, dilawan atau sedikit diabaikan.

 
Keempat, keputusan dan perbuatan diri sendiri dan motif perbuatan itu. Perbuatan dan tabiat seseorang memiliki hubungan yang timbal-balik dan saling mempengaruhi. Misalnya, orang dengan tabiat jujur cenderung tidak berdusta. Sedangkan orang yang berdusta memperlemah tabiat kejujuran, sehingga kecenderungan untuk berdusta lebih kuat. Keputusan untuk tidak berdusta menjadikan kejujuran orang itu lebih teguh.

 

Keputusan-keputusan dan perbuatan-perbuatan kita serta motif-motif yang mendasari perbuatan itu juga turut membentuk tabiat seseorang. Misalnya, seorang pria berlaku sopan di depan wanita untuk mengambil hati wanita tersebut, tidak akan menjadi lebih baik budi. Atau seorang pencuri yang mengurungkan niatnya untuk mencuri karena ada polisi, juga tidak akan menjadi lebih jujur.

 
Kelima, hubungan kita dengan Tuhan yang seharusnya menjadi pengaruh pokok dalam pembentukan tabiat seseorang. Tuhan telah menawarkan kekuatan dan pembaharuan dalam hidup kita, dan akan menjadi dasar bagi setiap pembaharuan yang kita lakukan sebagai umat beragama.

 

Pembaharuan hidup ini juga diterangkan dalam setiap ajaran yang ada di muka bumi ini tentang pembenaran dan pengudusan yang adalah anugerah dari Sang Pencipta untuk kita. Tabiat Korupsi Dari yang telah diuraikan di atas mengenai tabiat, maka dapat disimpulkan bahwa tabiat merupakan sumber perbuatan-perbuatan lahiriah.

 

Tabiat dapat juga diidentikkan dengan susunan bathin seseorang yang memberi arah dan ketertiban kepada keinginan. Ada bermacam-macam pengaruh yang dapat membentuk tabiat seseorang. Akan tetapi, pengaruh-pengaruh tersebut hanya sebagai bahan mentah untuk pembentukan tabiat seseorang.

Tabiat seseorang sesungguhnya dibentuk oleh diri sendiri. Termasuk dalam hal korupsi, yang menjadi penentu korupsi itu terjadi bukan semata–mata faktor eksternal melainkan di cetuskan oleh diri sendiri sebagai pengambil keputusan.

 
Tabiat merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam mengambil tindakan dalam kehidupan bernegara. Demikian pula halnya dalam kasus korupsi. Apakah memang korupsi sudah menjadi watak atau tabiat kita? Kitalah yang memutuskan.

 

Jika tabiat kita baik, maka tentunya tindakan kita juga menghasilkan keputusan-keputusan yang baik tanpa merugikan orang lain dengan cara korupsi. Kehidupan setiap anak bangsa harus mencerminkan ciri-ciri Pancasila yakni memiliki integritas, kebajikan dan nasionalisme. Inilah yang menjadi suatu kekuatan bagi seseorang dalam bersikap, bahkan dalam mengambil keputusan. Dengan demikian, menumbuh kembangkan mental dan karakter yang baik akan membebaskan Indonesia dari tabiat korupsi.

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz