Kamis, 26 April 2018 | 23:30
OPINI JUMAT 17042015

Ketika Keluarga Kehilangan Fungsi

MEDIA massa memberitakan maraknya penjualan dan bisnis narkotika dan obat-obat terlarang (Narkoba) di Tanah Air. Aparat penegak hukum terlihat sibuk menangkap dan menggeledah rumah, kos-kosan sampai menggeledah tempat mengubah perilaku buruk manusia bernama Lembaga Pemasyarakatan (LP).

 

Atas semua usaha itu, kita patut memberikan penghargaan setinggi-tingginya. Sebab, tanpa ada usaha dari kita semua, narkoba akan merusak masa depan bangsa. Bahaya kehilangan generasi berkualitas dan berbobot akan terus membayangi bangsa kita.

 
Tulisan ini ingin mengingatkan semua pihak bahwa narkoba akan terus menghantui masyarakat kita. Sebabnya adalah karena Indonesia merupakan salah satu negara dengan potensi ekonomi luar biasa besar. Jumlah penduduk yang besar merupakan pasar potensial, termasuk obat-obatan terlarang itu.

 
Kuratif belum Cukup  Dalam ilmu kesehatan, terdapat beberapa pendekatan dalam menangani sebuah kasus atau penyakit. Oleh banyak ahli, beberapa tindakan itu adalah pencegahan (preventif) dan pengobatan (kuratif). Dua hal ini mesti dilakukan bersamaan agar sakit dan penyakit bisa diantisipasi, dan kalau sudah masuk ke ranah sakit maka sebisa mungkin bisa diminimalisir.

 

Pencegahan merupakan usaha yang dilakukan untuk mengantisipasi munculnya penyakit. Sedangkan langkah kuratif adalah upaya untuk mengobati pasien yang telah mengalami sakit atau penyakit.

 
Di media ini saya pernah menulis tentang paradigma kesehatan. Yang terjadi saat ini kita sering menggunakan pendekatan kuratif langkah preventif. Kita baru memikirkan sehat ketika sudah jatuh sakit. Kita jarang mendiskusikan kesehatan di kala kita sehat. Akibatnya, yang ada di pikiran manusia Indonesia bukan sehat, malah sakit.

 

Itulah yang memperlemah usaha berbagai pihak dalam menangani beberapa penyakit kronis di negara kita ini. Kita bisa menggunakan pendekatan kesehatan di atas dalam menjelaskan realitas narkoba di negara ini. Menurut saya, selama ini kita lupa membangun ketahanan diri dan sosial kita.

 

Kita hanya sibuk menggenjot ekonomi. Aspek sosial benar-benar dilupakan. Saya tidak menyebut siapa benar dan siapa salah di sini. Yang pasti bahwa ketika kita melupakan aspek sosial maka itu berarti kita tinggal menunggu saat untuk menerima akibatnya.

 

Maraknya penjualan narkoba di negara kita merupakan bukti bahwa kita terlena dengan kondisi sosial kita. Kita hanya sibuk mengedepankan pendekatan pengobatan (kuratif) tetapi tidak intens mengantisipasi dengan pendekatan preventif.

 
Usaha yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam menggeledah dan menangkap para pengedar dan pebisnis narkoba merupakan bentuk usaha kuratif. Kerja BNN, menurut saya, harus dimulai dari proses pencegahan, dan langkah pencegahan itu BNN tidak bisa dibiarkan bekerja sendiri. Di situlah kita perlu mendiskusikan peran keluarga.

 
Menurut saya, persoalan terbesar bangsa ini adalah ketika keluarga kehilangan fungsinya sebagai tempat bertumbuh dan berkembangnya nilai. Nilai yang dimaksudkan adalah semua hal baik yang diingini masyarakat. Keluarga Indonesia saat ini tidak lagi menjadi ruang sosialisasi aktif (home) tetapi hanya sebagai rumah (house) singgah tempat anggotanya berhenti sejenak. Banyak hal yang menyebabkan berubahnya fungsi keluarga.

 

Selain karena perkembangan teknologi, keluarga Indonesia saat ini dipengaruhi oleh berkembangnya kebutuhan anggota keluarga. Akibatnya, yang menjadi prioritas orangtua bukan lagi anak-anak tetapi uang untuk mencukupi kebutuhan anak-anak. Dengan demikian, fungsi sosial keluarga telah digantikan oleh fungsi ekonomi semata.

 
Jika kita memeriksa keluarga Indonesia saat ini, sulit untuk tidak mengatakan bahwa orangtua bukan lagi menjadi guru yang baik bagi anak-anak. Fungsi orangtua telah digantikan oleh media audiovisual.

 

Fungsi sosialisasi keluarga telah digantikan oleh televisi dan teknologi informasi. Anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi daripada bersama orangtua. Fatalnya, orangtua pun ternyata menjadi orang yang paling pertama dan utama membawa anak-anak ke depan televisi. Akibatnya, anak-anak lebih mengenal nama pesinetron daripada nama bapa atau mama besarnya. Anak-anak lebih dekat dengan aktor dan aktris ketimbang nama om dan tantanya sendiri.
Fungsi Sosial Keluarga Dalam hal sosialisasi nilai pun, kita bisa melihat jika anak-anak lebih senang mengulangi pernyataan beberapa pemain iklan ketimbang mengikuti petunjuk orangtuanya. Di sini, anak-anak tidak bisa disalahkan. Yang harus segera dicek adalah orangtua. Masalahnya, orangtua telah banyak pula kehilangan nilai.

 

Seorang ibu lebih senang membentang kasur di depan televisi ketimbang mengajak anaknya berceritera di tempat tidur di kamar tidur. Mendongeng misalnya, perlahan-lahan hilang dari keluarga. Padahal, dongeng memiliki nilai yang sulit ditandingi oleh nilai lain yang berasal dari luar.

 

Nilai yang diajarkan media televisi jelas lebih mengutamakan hasrat daripada kebutuhan nyata. Anak-anak sejak kecil sudah diajarkan cara memakai dan menggunakan uang secara tidak wajar. Berkembangnya nilai ekonomi terutama disebabkan karena orangtua pun tidak memahami bahwa nilai ekonomi merupakan nilai yang datang dari luar dan bukan asli Indonesia.

 
Di situ jelas terlihat bahwa fungsi sosial keluarga benar-benar hilang. Fungsi sosial digantikan oleh fungsi ekonomi. Saya tidak mengatakan bahwa ekonomi tidak penting. Namun, Masalah kita sebenarnya adalah terlalu mendewakan ekonomi dan melupakan sosialisasi nilai dalam keluarga.

 

Perkembangan dunia modern memang menjadi sebab utama di sini. Semua orang mengejar harta ekonomis ketimbang mempersiapkan generasi bangsa dengan beragam nilai sosial budaya. Padahal, dari banyak bahan yang saya baca, ekonomi akan jatuh jika tidak didukung dengan landasan nilai sosial dan budaya.

 

Ekonomi akan menunjukkan sifat penjajah jika tidak disertai penanaman etika dan moral. Masyarakatnya pun harus memiliki fondasi sosial, budaya, etika dan moralitas.
Kembali ke persoalan maraknya peredaran narkoba, menurut saya, kenyataan ini bisa diatasi jika usaha meminimalisir narkoba dimulai dari keluarga.

 

Keluarga harus benar-benar sadar bahwa bahaya narkoba masih terus menghantui kita. Usaha kuratif itu baik sejauh dari dalam keluarga dan anggota keluarga telah ditanamkan beragam nilai baik. Praktik nilai baik harus dilakukan oleh orangtua terlebih dahulu.

 

Orangtua harus memberi contoh. Anak-anak akan mengikuti contoh baik yang ditunjukkan orangtua.  Maka, mengembalikan peran dan fungsi keluarga merupakan hal utama yang wajib dilakukan agar bisa mengurangi berkembangnya peredaran narkoba di Tanah Air.

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz