Jumat, 27 April 2018 | 08:40
FOTO HAL 03 POLHUM RESTIMONI JK 200415 copy

Ketika Harga Diri Johnny Kainde Terluka

SAYA tidak menyangka akan jadi seperti ini. Karir dan nama besar saya hancur berkeping-keping karena masalah ini. Ternyata saya memang tidak bisa melawan ini semua, sungguh tidak bisa. Bukan uang yang saya bicarakan di sini. Bukan pula proses persidangan buruk ini yang saya pikirkan, tapi harga diri saya yang sangat terluka,”.

 
Itulah secuil ekspresi terdalam yang terungkap dari mulut terpidana korupsi, Johnny Kainde ketika dijatuhi hukuman penjara selama delapan tahun oleh majelis hakim. Semua terpidana ataupun terdakwa tentu merasakan hal yang sama, tentang bagaimana harga diri dan martabatnya direnggut dan dicampakkan ke tanah. Namun apa yang akan diungkapkan oleh Johnny seakan menjadi sebuah bunyi gemuruh yang riuh di hati setiap orang yang masih memiliki naluri belas kasihnya.

 
VN berhasil menguak ungkapan yang terselubung di dalam relung batin yang terdalam itu. Ungkapan yang minder untuk unjuk gigi, karena yakin tidak akan dipedulikan oleh mereka yang disebut dan menyebut dirinya aparat penegak hukum itu.

 
Di tengah hiruk pikuknya suasana pengadilan, bercampur dengan rasa cemas para terdakwa yang mencoba dihibur oleh para pengacaranya, Johnny membawa VN masuk ke pengalaman pahit yang ia rasakan selama ini. Berikut penuturan Johnny Kainde. Saya, asli Manado. Lahir tanggal 19 Februari 1959. Sejak usia muda saya cari uang sendiri, saya mulai terjun ke dunia usaha.

 
Pelan-pelan saya menemukan bahwa pekerjaan kontraktor lebih cocok buat saya. Karir yang saya miliki saat ini, saya bangun dengan kerja keras dan susah payah. Tidak sedikit pun waktu yang saya pakai untuk berleha-leha dan bermalas-malasan. Saya mau sukses dan itulah yang saya capai. Grafik kehidupan saya memang selalu menunjukkan indeks meningkat dari waktu ke waktu, tapi tidak sampai saya terjerat masalah ini.

 
Setelah mengucapkan kata terakhir itu, Johnny terdiam. VN yang ingin kembali mendengar kisah itu, merasa tidak sanggup memaksa Johnny yang terdiam dengan wajah tanpa ekspresi itu. Entah itu ekspresi kebencian atau penyesalah atau apapun itu. VN merasa tidak cukup berani unttuk menerka-nerkanya. Akhirnya dengan ketenangan yang begitu dingin Johnny menyambung lagi kisahnya.

 

Jebakan Kemenpera Saya tidak meminta proyek ini. Tidak sama sekali. Kemenpera yang meminta saya untuk mengerjakan proyek itu. Dengan pengalaman dan jam terbang saya sebagai kontraktor selama puluhan tahun, Kemenpera meminta saya sambil membumbuinya dengan kisah tragis masyarakat berpenghasilan rendah di NTT yang tidak memiliki hunian layak tinggal. Saya akui, bumbu terakhir itu menggoyahkan penolakan saya sebelumnya.

 
“Jadi bapak menolak ketika pertama kali diminta pihak Kemenpera?”, potong VN. Johnny kemudian menuturkan, benar pak! Dengan rayuan seperti yang saya bilang tadi, pemerintah bisa meluluhkan hati siapa saja. Ya, jadi begitulah. Saya ikut serta dalam proyek itu. Keikutsertaan saya semata-mata hanya ingin membantu terwujudnya pembangunan rumah sederhana layak tinggal untuk orang-orang susah itu.

 
Tapi saya mau luruskan satu hal di sini. Ini bukan pembelaan diri. Saya hanya ungkapkan apa yang saya alami sendiri. Fakta yang membuat saya yang sudah uzur ini bisa tertipu. Saya tidak mau membela diri lagi. Sudah capek saya membela diri di pengadilan. Jengah saya omongnya, pak. Setebal apapun pembelaan yang kami buat tapi itu hanya sekadar basa-basi persidangan. Efeknya? Nol besar!

 
Walau berusaha tenang, tapi guratan amarah masih bisa terlihat dari wajah pria berusia 56 tahun ini. Lalu bagaimana sikap keluarga terhadap persoalan yang dihadapi Johnny? Silakan ikuti edisi Selasa (21/4). (mg/R-2)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz