Minggu, 22 April 2018 | 18:10
Inilah surat perintah Kajati NTT kepada Djami Rotu Lede untuk mengamankan aset eks sitaan PT Sagared. Namun, berdasarkan surat tersebut Djami Rotu Lede menjual aset kepada Paulus Watang.Inilah surat perintah Kajati NTT kepada Djami Rotu Lede untuk mengamankan aset eks sitaan PT Sagared. Namun, berdasarkan surat tersebut Djami Rotu Lede menjual aset kepada Paulus Watang.
istimewa

Kejati NTT Bantah Oknum Jaksa GK Terlibat

PIHAK Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) membantah adanya keterlibatan oknum jaksa lain dalam skandal kasus penjualan aset negara eks PT Sagared.

Demikian diungkapkan Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati NTT Ridwan Angsar kepada wartawan, Rabu (18/2) di ruang kerjanya.
Menurutnya, dalam kasus tersebut Kasi Pidsus Gasper Kase (GK) disebut oleh penasehat hukum tersangka Paulus Watang ada dalam rekaman video saat pertemuan dengan para pengusaha karena Gasper Kase merupakan saksi yang melaporkan adanya permufakatan jahat antara Paulus Watang dan Djami Rotu Lede dalam proses lelang aset sitaan tersebut.

Menurut Ridwan, pihaknya juga telah memeriksa tiga orang personel Kejati NTT yakni LA, MB, dan salah satu pejabat Kasi Pidsus Gasper Kase yang bertemu dengan Paulus Watang terkait Surat Perintah Kajati NTT Nomor Print/86/P.3/CPL.2/05/2015 tentang Perintah Pengamanan Aset eks PT Sagared ke kantor Kejati NTT.

“Paulus Watang datang ke kantor guna mengajukan penawaran pelelangan, dan berusaha untuk menyogok Kajati NTT, namun ditolak mentah-metah karena harga lelang aset tersebut sangat tinggi. Selanjutnya, tanpa sepengetahuan pimpinan, Paulus Watang membiayai proses pembongkaran gedung aset eks PT Sagared dan mengambil aset besi, baja, exavator, besi kanal C, WF, dan lainnya yang terdapat di dalam gudang yang kemudian dalam laporan pemberitahuan yang dibuat oleh DRL dinyatakan telah hilang dicuri orang,” ungkap Ridwan.

Dia menambahkan, dengan adanya Surat Perintah Kejati NTT yang dibuat oleh DRL, maka secara leluasa Paulus Watang mempergunakannnya pada saat eksekusi atap gedung kedua dan ketiga eks PT Sagared. Masyarakat sekitar pun hanya mengetahui bahwa aset gedung sitaan tersebut telah dijual kepada Paulus Watang, dan menjadi hak milik dari Paulus Watang.

“Dengan dilakukannya eksekusi gedung eks PT Sagared tentunya harga jual aset tersebut menjadi turun. Sebab, satu unit gedung memiliki luas 8.000 meter persegi, sehingga nilai empat unit gedung itu mencapai Rp 7,9 miliar. Paulus Watang pun mendapatkan untung dari pelelangan gedung tersebut, karena yang dihitung hanyalah luas tanah dan bangunan saja, sementara aset yang terdapat di dalamnya tidak diperhitungkan,” ungkap Ridwan.
Ditambahkan Ridwan, pemilik Hotel Ima Fredy Ongkosaputra mengakui bahwa dirinya membeli aset sitaan, karena dia mendapatkan informasi bahwa tersangka Paul Watang merupakan pemilik sah dan pemenang lelang eks PT Sagared. Namun, dia juga telah mengembalikan uang Rp 75 juta kepada Paulus Watang dan semua barang sitaan yang ada dalam penguasaannya kepada Kejati NTT.

Sementara, pemilik Gudang Ramayana Divianto Amstrong mengakui, dia hanya menampung barang sitaan tersebut dari Paulus Watang pasca-eksekusi gedung eks PT Sagared di wilayah Takari. Semua barang sitaan telah dikembalikan kepada Kejati NTT.

Sebelumnya, pemilik Hotel Ima Fredy Ongkosaputra mengaku, dirinya telah diperiksa oleh tim penyidik Pidsus Kejati NTT dalam kasus itu. Dirinya siap memberikan keterangan tambahan jika diperlukan.

(R-3)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz