Jumat, 20 April 2018 | 17:05
2

Kartini NTT dan Problem TKW

BULAN lalu, tepatnya tanggal 8 Maret, seluruh jagat memperingati Hari Perempuan Internasional. Dua hari setelah itu Annrianus Laba menurunkan sebuah catatan melalui harian ini untuk warga NTT berhubungan dengan peringatan tersebut (VN, Selasa 10 Maret 2015).

 

Catatan kritis yang digarisbawahi Annrianus Laba menjelang akhir tulisannya adalah bahwa sekarang waktunya bagi perempuan Indonesia untuk tegak berdiri, bersama-sama (berorganisasi) menuntut kesetaraan hak-haknya dengan kaum pria tanpa harus terperangkap isu bias gender.

 
Hampir seminggu kemudian, dalam halaman Inspirasi, koran ini menampilkan profil seorang aktivis muda bernama Aby Yerusa yang tercatat sebagai Ketua Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini Cabang Kupang (VN, Sabtu 14 Maret 2015).

 

Senada dengan apa yang ditegaskan Annrianus, Aby Yerusa pun menekankan pentingnya berorganisasi bagi kaum perempuan agar suara mereka lebih terakomodir dalam memperjuangkan kesejajaran eksistensinya dalam masyarakat.

 

Kedua orang ini berbicara tentang perempuan, ketersampingan mereka, dan upayanya dalam mencapai kesetaraan dengan kaum pria di berbagai sektor. Mereka, yang seorang pria dan yang lain perempuan, sama-sama bertutur tentang perempuan karena memiliki titik temu yang sama: peduli dan terpanggil untuk terlibat.

 

Lalu apa kata kita yang lain ketika kita sebagai anak bangsa (putra-putri NTT secara khusus) memperingati Hari Kartini setiap tanggal 21 April? Berbicara tentang perempuan Indonesia, Kartini adalah tokoh sentral.

 

Tanpa mengecilkan peran begitu banyak perempuan lain dalam mengubah persepsi bangsa ini tentang kaum hawa, Kartini adalah tokoh penting yang meletakkan dasar bagi perjuangan hak-hak perempuan dalam era Nusantara modern.

 

Tokoh-tokoh perempuan yang menggagas dan membawa perubahan bagi bangsa ini pun kemudian semakin diidentikkan dengan Kartini. Kesan yang sangat kuat bagi segenap rakyat Indonesia adalah bahwa Kartini dan perempuan-perempuan yang disejajarkan atau dibandingkan dengannya merupakan figur-figur hebat.

 

Hal ini terlepas dari anggapan sebagian orang bahwa penghormatan besar kepada Kartini terjadi karena pengkultusan. Pada beberapa titik, sejarah bangsa kita memang bergelimang kontroversi. Saya tidak bermaksud membahas soal tersebut dalam tulisan ini. Para sejarahwan yang lebih mengerti dan memiliki kapasitas lebih mumpuni untuk memberikan pandangan kritis.

 

Kartini-Kartini Kita yang Bergeliat Di ranah NTT, sudah banyak perempuan yang diberi penghargaan atas prestasinya di berbagai bidang. Penghargaan-penghargaan itu tidak terkecuali dalam bidang perjuangan kesetaraan gender. Sebut saja yang terakhir Rambu Atanau Mella dan Veronica Ata Tori, dua perempuan NTT yang mendapat penghargaan sebagai Women of Change (IWOC) dari Amerika Serikat atas jasa mereka dalam mengubah dan memberdayakan perempuan NTT.

 
Rambu Atanau Mella adalah “first lady” Kabupaten TTS, Ketua Tim Penggerak PKK TTS. Perannya dalam mengangkat harkat dan memberdayakan kaum perempuan semakin jelas terlihat melalui kiprah Yayasan Sanggar Suara Perempuan yang dipimpinnya. Victoria Ata Tori di sisi lain, juga bukan tokoh isapan jempol.

 

Dedikasi yang lama dan intens terhadap kemajuan kaum perempuan di NTT lewat Jaringan Perempuan Politik yang digagasnya menunjukkan keperpihakan dan perjuangannya yang gigih. Posisinya sebagai Ketua Badan Pengurus LBH Justitia dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Provinsi NTT turut mempertegas pentingnya peran Veronika.

 
Melihat kiprah kedua tokoh di atas, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa mereka telah menjelma menjadi Kartini di mata masyarakat NTT. Mereka adalah dua dari sekian banyak Kartini bagi NTT.

 
Masih ada figur perempuan NTT lain yang memiliki prestasi luar biasa yang pantas diberi penghargaan. Garis linear yang menghubungkan orang-orang hebat ini adalah pencapaian yang mereka raih. Perempuan NTT dengan dedikasi yang diberikan, prestasi yang digapai, adalah kebanggaan tak ternilai mengingat hegemoni budaya patriarkal yang masih sangat sulit digeser.

 

Sebagian besar perempuan di NTT terlahir dan tumbuh untuk kemudian merasa inferior di hadapan kaum pria dalam banyak hal. Oleh karena itu, prestasi dan penghargaan untuk perempuan NTT yang berjuang dan berpihak untuk kaumnya, entah di level lokal, nasional, atau internasional adalah ekspresi tegas geliat perempuan NTT yang berbicara dan bertindak atas nama kesetaraan gender.

 
Ironi TKW Kita Kita tidak selalu melihat Kartini-Kartini kita menghiasai halaman-halaman surat kabar. Yang lebih sering kita baca di koran, dengar di radio atau nonton di televisi adalah laporan mengenai TKW yang bermasalah, termasuk TKW asal NTT. Mereka menjadi objek berita karena terlilit masalah, baik sebagai penyebab timbulnya masalah maupun korban.

 
Seiring pesatnya kemajuan teknologi dan komunikasi, perempuan NTT semakin mengerti dan menyadari bahwa kesempatan memperoleh pekerjaan di luar lebih besar dan karena itu memiliki peluang lebih terbuka. Mereka tahu, tenaga mereka dibutuhkan di luar NTT dan di luar negeri.

 

Dengan kecakapan standar memang sulit mendapatkan pekerjaan berkelas di luar. Karena itu mereka menyasar pekerjaan rumah tangga. Mereka lalu bermigrasi ke luar. Yang cukup mengerti melalui jalur legal, sementara tak sedikit melewati kanal ilegal; ditipu bahkan lebih miris, dijual.

 
Sejauh ini TKW NTT sejajar dengan kaum pria dalam hal bekerja di luar NTT atau di luar negeri. Sejatinya mereka adalah “money maker” seperti semua pria yang bekerja di sana. Jargonnya mereka adalah bagian penting dari “pahlawan devisa”. Seperti Kartini, mereka juga pahlawan. Meski demikian, sederetan kasus pernah ditimbulkan atau sebaliknya menimpa TKW asal NTT.

 
Dua alasan  besar yang melatarbelakangi peristiwa-peristiwa miris ini selalu pendidikan dan ekonomi. Rendahnya pendidikan dan terpuruknya perekonomian disebut-sebut menjadi faktor di balik mudahnya perempuan NTT tergiring menuju penderitaan dalam dunia kerja.

 

Fakta ini berbanding terbalik dengan usaha gigih Kartini-Kartini NTT yang menginginkan kaum hawa NTT terlepas dari berbagai persoalan, baik di rumah tangga maupun lingkungan kerja dan masyarakat secara umum. Semoga geliat Kartini-Kartini kita semakin membuat kaum perempuan Flobamora semakin sepadan dengan pria sebagaimana yang dikehendaki-Nya.

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz