Sabtu, 21 April 2018 | 19:37
FOTO HAL 15B 200415 copy

Jurnalis belum Menjadi Pilihan Utama

PELUANG dan tantangan bekerja di media massa cetak lokal di NTT gampanggampang sulit. Eksistensi media massa di NTT, kendati memberikan angin segar bagi perkembangan informasi, namun belum menjadi pilihan utama dibanding minat menjadi PNS. Untuk mendapatkan peluang bekerja di media massa, kompetisi menjadi hal terpenting.

 
Demikian disampaikan Leo Larantukan, Pemimpin Umum Majalah Warta Flobamora, saat memberikan kuliah umum bagi mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dengan tema ‘Peluang dan Tantangan Bekerja di Media Massa Cetak Lokal’ di kampus FISIP Unwira, Kupang, Sabtu (18/4).

 
Leo menegaskan, akar dari profesi para pekerja media adalah nilai dan kejujuran. Nilai dan kejujuran adalah yang utama. Nilai dan kejujuran menjadi modal profesonalisme pekerja media. Hal itu, katanya, terkait dengan penyajian fakta dan informasi kepada publik. “Kami di media budaya, tentunya konsen mewartakan NTT dari sisi budaya.
Kami tidak sentuh ranah politik,” katanya.

 
Dia menambahkan bahwa meskipun aspek ekonomi, politik, dan visi-misi sangat melekat dengan perjalanan setiap media. Akan tetapi, semangat untuk meciptakan sebuah jurnalisme damai tetap menjadi perhatian demi kebangkitan generasi di NTT. “Inilah yang kami lihat, juga perhatikan, agar kita tetap menjaga lokalitas kita,” katanya.

 
Sekretaris Jurusan Ilmu Komunikasi Lucy Max menjelaskan, kuliah umum tersebut merupakan salah satu cara untuk mendekatkan mahasiswa dengan dunia kerja. “Ini yang coba kami dorong bagi mahasiswa,” katanya.

 

Menurut Lucy, kuliah umum dapat juga memberikan sebuah refleksi mengenai ketertarikan dan antusiasme mahasiswa terhadap dunia kerja jurnalistik. “Ini yang mau kami sentil agar mereka lebih peka dan dapat semakin bulat menentukan pilihan, baik sebagai PR (public relation) maupun sebagai jurnalis,” tegasnya.

 
Bagi Jurusan Komunikasi, menurut Lucy, kuliah umum tersebut merupakan bagian dari upaya untuk membangun jaringan, sekaligus menciptakan keseimbangan antara proses akademik dan kebutuhan dunia kerja. “Ini yang mau kita lihat, sehingga anak-anak kita juga harus dapat bersaing. Networking dan agar matching dengan ilmu,” katanya. (mg-07/R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz