Kamis, 26 April 2018 | 23:38
25

Jarak tak Surutkan Semangat Gapai Cita-cita

MESKIPUN harus melewati bukit terjal Lianggere, sekelompok bocah tampak tetap melakukan aktivitas rutinya. Setiap pagi harus pergi ke sekolah yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari Kampung Lianggere, Desa Tomberabu 2, Kecamatan Ende ke sekolahnya di Sekolah Dasar (SD) Lianggere.

 
Bagi Hugensia Rasi, Fausta Mbindi, Kaltianus Santo Rango, Damianus Ten, Jordianus Rabu Beja, Yoseph Ekin Fernandes, Oktavianus Kota, dan Kornelius Seru, aktivitas rutin yang dilakukan setiap hari tidak membuat mereka lelah. Sebab, pendidikan merupakan bekal terpenting untuk kehidupan mereka kelak.

 
Kaltianus dengan polos mengungkapkan, SD Lianggere memang sangat jauh dari tempat tinggalnya. Meski setiap hari harus melewati bukit terjal, dirinya harus jalani, karena pesan orangtuanya bahwa ilmu harus ditimba selagi waktu masih memungkinkan, agar tidak menjadi terbelakang.  “Setiap hari saya harus berjalan hampir lima kilometer pergi pulang sekolah,” ujarnya.

 
Dia menambahkan, sebagai seorang anak petani, dirinya tidak main-main dengan sekolah. Dirinya tidak ingin menjadi seorang petani seperti ayahnya. Menurutnya, cita-citanya sebagai seorang polisi harus tercapai, meskipun orang tuanya petani.

 
“Saya sekolah karena tidak ingin seperti bapak saya seorang petani. Saya ingin cita-cita saya sebagai seorang polisi dapat tercapai. Makanya jarak tak menghalangi saya untuk menapaki jalan menuju cita-cita,” ujarnya. Di saat hujan, kisah Tinus, biasa bocah itu disapa, dirinya tetap harus ke sekolah. Sebab, jika tidak ke sekolah maka materi pelajaran pada hari itu tidak didapatnya.

 

“Jadi hanya sakit yang menghalangi saya untuk pergi ke sekolah. Kalau hujan sekalipun saya tetap pergi ke sekolah. Karena yang kita dapat dari teman itu beda dengan yang kita dapat dari guru yang mengajarkan kita,” ujarnya.

 
Hugensia menambahkan, karena jarak sekolahnya jauh, dia harus bangun pukul 05.00 Wita, bersiap-siap sebentar, langsung berangkat sekolah agar tidak terlambat, karena sekolah masuk pukul 07.00 Wita.  Menurutnya, dalam perjalanan pagi buta, dia dan teman-temannya selalu berhati-hati karena medanya sangat berat.

 

Saat pergi ke sekolah, jalan menurun dan sangat licin pada musim hujan. Sebaliknya, waktu pulang itulah saat yang paling tidak disukai. Karena saat itu dirinya harus mendaki Bukit Lianggere sepanjang dua kilometer lebih untuk sampai di kampungnya.  “Kalau sudah pulang kita harus kuat, karena saat kita sudah capek dan lapar, masih harus mendaki Bukit Lianggere untuk tiba di rumah,” ujarnya.

 
Meski demikian, kata Hugensia, dirinya tetap harus bersekolah untuk menggapai cita-cita sebagai seorang bidan di desanya, untuk membantu orang lain. Setamat SMA nanti dirinya melanjutkan pendidikan jurusan keperawatan.

 
Damianus yang bercita-cita ingin menjadi seorang pemain bola profesional mengatakan, dirinya ingin bersekolah dengan serius. Baginya berjalan lima kilometer setiap hari tidak masalah baginya. “Saya anggap jarak tersebut tidak masalah, karena saya anggap sebagai latihan (berolahraga),” ujarnya. (R-3)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz