Kamis, 26 April 2018 | 23:39
32

Jangan Tergiur Rayuan Calo PJTKI

MARAKNYA kasus perdagangan manusia dengan modus pengiriman TKI ke luar negeri sangat marak terjadi saat ini, membuat para Suster dari Yayasan Regina Angelorum mengajak masyarakat agar jangan tergiur dengan rayuan calo perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).

 
Ajakan itu disampaikan Suster Fatima SSps dalam sosialisasi upaya pencegahan perdagangan manusia kepada masyarakat di Dusun Welolon, Desa Umanen Lawalu, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Sabtu (25/4).

 
Menurut Suster Fatima, pertemuan yang dilaksanakan dari kampung-kampung merupakan tugas dan panggilan terhadap kemanusiaan, khususnya kasus perdagangan manusia yang marak terjadi saat ini.  Dalam pertemuan itu, Suster Fatima berkisah tentang Agustina, TKW asal Lidak, Kabupaten Belu yang terpaksa pulang, karena diancam untuk dibunuh majikan. Dia (Agustina) berhasil melarikan diri setelah mengetahui rencana pembunuhan atas dirinya.

 
Dari kisah itu, Suster Fatima menjelaskan bahwa masyarakat perlu waspada dengan PJTKI yang datang untuk merekrut tenaga kerja supaya dikirim ke luar negeri.  “Jangan tergiur dengan rayuan calo PJTKI. Kalau mereka (calo) datang dan memberi sejumlah uang, jangan terima. Karena anak-anak perempuan yang mau dibawa untuk dikirim akan menderita di tempat kerja,” kisahnya.

 
Menurutnya, TKW yang bekerja di luar negeri pada umumnya diperlakukan tidak adil. Kisah tentang kekerasan terhadap TKW tidak sedikit jumlahnya. Hal ini disebabkan oleh keterampilan yang dimiliki TKW sangat minim.  Diharapkan, agar perlu ada latihan keterampilan bagi angkatan kerja di Kabupaten Malaka.

 

Angkatan kerja itu harus dilatih supaya bisa bekerja tanpa harus mencari pekerjaan ke luar negeri. Untuk itu, pemerintah pun perlu menyediakan balai latihan kerja.  “Kan sama juga, kerja di luar negeri. Di sana petik kelapa sawit. Apa bedanya petik kelapa di sini. Pohonnya milik sendiri dan hasilnya untuk diri sendiri,” lanjutnya.

 
Sebelumnya, mantan wakil Gubernur NTT Esthon Foenay mengatakan, ada sekitar 5.000 tenaga kerja ilegal asal NTT yang ada di Malaysia. Sebagai pahlawan devisa, Pemkab Malaka perlu mengambil langkan rekonsiliasi supaya tenaga kerja ilegal asal Malaka bisa dilegalkan. Selain itu, lanjut Esthon, Pemkab Malaka juga perlu menyiapkan balai latihan kerja bagi pencari kerja untuk latihan keterampilan, sehingga bisa laku di pasar tenaga kerja.

 
Aktivis relawan J-RUK Adrianus Tey Seran mengatakan, komponen terkait tidak boleh sebatas sosialisasi, tetapi perlu ada langkah konkrit di tingkat akar rumput dan pemerintah desa untuk mencegah pengiriman tenaga kerja ilegal. (man/R-3)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz