Senin, 23 April 2018 | 19:44

Jaksa Bidik Pembangunan SDK Ni’i

REALISASI proyek rehabilitasi gedung SDK Ni’i di Desa Oekopa, Kecamatan Biboki Tanpah, Kabupaten TTU dengan pagu anggaran Rp 162 juta lebih yang tak tuntas dikerjakan, mendapat respons dari Kejaksaan Negeri Kefamenanu. Kejaksaan segera berkoordinasi secara internal untuk selanjutnya melakukan pengumpulan bahan dan keterangan di lapangan guna melidik dugaan penyimpangan tersebut.
Demikian disampaikan Kasi Intel Kejaksaan Negeri Kefamenanu Kundrat Mantolas ketika dikonfirmasi VN, Kamis (31/3), di Kefamenanu.
Kundrat mengatakan, pihaknya baru mengetahui informasi rehabilitasi dua buah gedung SDK Ni’i yang tak tuntas itu dikerjakan melalui media massa. Informasi tersebut bakal menjadi referensi untuk ditindaklanjuti dengan dilakukannya pengumpul bahan dan keterangan. Langkah dimaksud bertujuan mencegah praktik-praktik penyimpangan terhadap para pihak yang hendak mengambil keuntungan dengan cara-cara melawan hukum.
Menurut Kundrat, sebelum langkah pengumpulan bahan dan keterangan dilakukan, secara internal pihaknya terlebih dahulu menggelar informasi tersebut untuk melaporkan kepada pimpinan guna memperoleh petunjuk. Selain itu, pihaknya juga mempersilahkan auditor pemerintah atau Inspektorat untuk menempuh mekanisme pengauditan terhadap pembangunan rehabilitasi dua ruang kelas SDK Ni’i.
“Kita tetap menghargai mekanisme yang ada. Inspektorat silahkan mengaudit pembangunan itu, kalau terbukti ada penyimpangn kita proses. Kami juga akan melakukan pulbaket dan puldata. Apabila di lapangan ada indikasi penyimpangan dalam pembangunan, maka kami tindak secara hukum,” tegas Kundrat.
Kepala Sekolah SDK Ni’i yang enggan dikorankan namanya ketika dikonfirmasi per telepon menjelaskan, proyek pekerjaan rehabilitasi dua ruang kelas tak tuntas dikerjakan oleh kontraktor Bea Kefi. Tembok dan lantai bangunan tersebut belum diperbaiki. Demikian pula keramik dan plafon yang hingga kini belum dipasang. Padahal, bangunan dua ruangan tersebut direnovasi dengan anggaran sebesar Rp 160.520.000 (bukan 162 juta lebih) yang bersumber dari DAK tahun 2015.
Ironisnya, pekerjaan tersebut telah ditinggalkan kontraktor Bea Kefi dan telah berhasil mengantongi seluruh anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan rehabilitasi. Sang kontraktor membiarkan pekerjaan itu begitu saja tanpa berniat untuk menyelesaikannya. Untuk kepentingan pembangunan tersebut, pihaknya bertanggung jawab dan segera menuntaskan sisa pembangunan yang ada. (gus/C-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz