Kamis, 26 April 2018 | 23:27
20

Industri Garam di Mbay dan Kupang belum Berproduksi

INDUSTRI garam yang dibangun di dua lokasi di NTT yakni Mbay, Kabupaten Nagekeo  dan Kabupaten Kupang belum bisa berproduksi. Proses penyelesaian lahan di dua lokasi ini belum tuntas.
Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo Julius Lawotan yang ditemui di Kupang belum lama ini membenarkan industri garam di Mbay oleh PT Cheetam Salt belum beroperasi.

 
Dia mengatakan, saat ini pemerintah setempat sedang mengupayakan penyelesaian masalah lahan, termasuk menyelesaikan berbagai hal terkait administrasi. Sebagai pemerintah, pihaknya mendukung investasi apa pun di daerah itu, termasuk investasi garam yang sedang dalam proses. Namun pemerintah mengupayakan agar lahan yang dipakai harus bebas dari konflik sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

 
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi NTT Bruno Kupok membenarkan kalau industri garam di dua lokasi itu belum berjalan. PT Cheetam Salt dan PT Garam Indonesia yang akan beroperasi di Kabupaten Kupang  masih dalam tahap persiapan dan belum melakukan proses produksi.

 
Saat ini, kata dia, pihaknya mendorong industri garam rakyat yang sedang diusahakan kelompok masyarakat di sejumlah kabupaten dengan teknologi geomembran. Potensi lahan garam tersebut antara lain di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Timor Tengah Utara (TTU), Alor, Flores Timur, Lembata, Ende, Nagekeo, Manggarai, Sumba Timur, Sabu Raijua dan Rote Ndao.

 
Bruno mengatakan, untuk garam rumah tangga, produksi garam dari Sabu Raijua yang terbaik, diikuti beberapa daerah lain yang sudah memproduksi dengan teknologi geomembran. “Di Kabupaten Sabu Raijua, sebelumnya ada 20 hektare (ha) untuk industti garam dan saat ini sudah ditambahkan menjadi 100 ha. Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua suportnya cukup bagus, dari 20 ha yang dikelola tahun ini mereka ajukan menjadi 100 ha,” ujarnya.

 
Dia mengatakan, industri garam rumah tangga menggunakan teknologi geomembran menghasilkan garam berkualitas siap pakai. Selain memproduksi garam yang berkulitas, teknologi geomembran memproduksi garam lebih banyak dan cepat dari cara tradisional.

 
Data yang diperoleh dari Disperindag NTT, luas lahan potensial untuk  garam rakyat di NTT, yakni Kabupaten Kupang  6.363 ha, TTS 150 ha, TTU 120 ha, Alor 40 ha, Flores Timur 50 ha, Lembata 60 ha, dan Ende 1.120 ha, Nagekeo 1.765 ha, Manggarai 50 ha, Sumba Timur 644 ha, Sabu Raijua 100 ha, dan Rote Ndao 30 ha. (slb/C-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz