Kamis, 26 April 2018 | 23:37

Guru Harus Jadi Role Model

GURU adalah pahlawan dengan jasa yang besar di bidang pendidikan. Banyak sekali pengorbanan yang telah diberikan guru agar anak didik bisa merdeka dari kebodohan, dari penjajahan buta huruf, dari kekejaman buta angka, dan dari kebejatan gagap berbicara. Karena itu, bagi Yohanis Rana, dalam pendidikan sosok guru memiliki andil yang besar dan tidak bisa dipisahkan apalagi dihilangkan.

 

 

Sebab, dalam proses pendidikan ada dua unsur penting, yakni murid sebagai yang diajari dan guru atau fasilitator untuk mentransfer ilmu kepada murid. Kualitas guru dapat
menentukan kualitas murid. Menurut Yohanis yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Sikka, untuk mencetak guru, terutama guru yang profesional dan berkualitas tidak semudah membalikkan telapak tangan, dan tidak segampang mengedipkan mata.

 

 

Butuh serangkaian proses untuk menjadikan seseorang sebagai guru yang benar-benar berjiwa mulia, tidak hanya sekadar menjadi guru yang mengincar materi semata. Kata-kata Yohanis begitu mengalir ketika diajak berbicara tentang dedikasi guru. Tidak heran, sebab dia adalah guru yang melewati sejumlah jenjang hingga akhirnya menempati posisi tertinggi dalam dunia pendidikan di daerah, yakni kepala Dinas PPO.

 

 

Yohanis menyelesaikan pendidikan D-3 pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang tahun 1982. Dua tahun berselang, dia mengabdi sebagai guru di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Katolik Bhaktiarsa Maumere. Dia mengabdikan diri di sekolah itu hingga tahun 1992.

 
Pada tahun yang sama, ketika SPG dihapus, Yohanis ditarik ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sikka. Dari situlah, kariernya mulai menanjak. Dua tahun berselang, dia dipercayakan menempati jabatan Kepala Urusan Data dan Informasi pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sikka hingga tahun 1995.

 
Kariernya terus naik. Pada tahun 1995-2000, Yohanis dipercayakan menempati posisi sebagai Kepala Sub Bagian PRD pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sikka. Seiring tuntutan profesi, Yohanis pun melanjutkan pendidikan dan meraih gelar sarjana pendidikan pada tahun 2000 pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Flores (Unflor).

 

 

Menyusul masuknya otonomi daerah pada tahun itu pula, dia naik jabatan menjadi Kepala Seksi Data dan Informasi. Lima tahun menempati posisi itu, pada tahun 2005 ia menjabat Kepala Bidang Pengejaran pada dinas yang sama. Dua tahun setelahnya, Yohanis naik posisi menjadi Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Sikka hingga 2012.

 

 

Sejak 2012 hingga 2014, dia dipercayakan sebagai Kepala Dinas Pariwisata Sikka. Sejak 2014, dia dikembalikan ke ‘habitatnya’ di Dinas PPO sebagai kepala dinas hingga
sekarang. Sebagai putra daerah dan latar belakang sebagai seorang guru, Yohanis memahami betul kondisi pendidikan di Bumi Nian Tana. Dunia pendidikan di Sikka, belum sepenuhnya maju. Karena itu, meski tidak lagi sebagai guru aktif, dia bertekad membebaskan masyarakat Sikka dari belenggu buta huruf.

 

 

Role Model Sebagai seorang yang pernah menjadi guru, Yohanis berpandangan bahwa guru harus mampu menjadi teladan dan contoh yang baik bagi peserta didik. Guru menjadi role model dalam segala aktivitas kehidupannya, tindak tanduknya, prestasinya, sampai gaya kepemimpinannya.

 
Menjadi guru, selain merupakan sebuah profesi yang mulia, juga bisa menjadi ladang amal yang pahalanya akan terus mengalir selama ilmu yang dimilikinya terus dimanfaatkan untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. “Selama ilmu yang diajarkan, selama itu pula pahalanya mengalir. Guru itu harus layak dan pantas untuk digugu dan ditiru oleh para anak didik,” tegasnya.

 
Menjadi guru yang biasa-biasa saja tidak sulit, tetapi tidak mudah menjadi guru yang profesional dan berkualitas. Untuk menjadi sosok guru yang berkualitas di masa datang, harus diupayakan sejak dini dengan membiasakan diri melakukan hal-hal yang mencerminkan perilaku sebagai seorang guru idaman. “Beberapa sifat harus dimiliki oleh kita sebagai guru.

 

 

Di antaranya sifat sabar, pengertian, perhatian, tidak mudah marah, dan memahami psikologi peserta didik,” katanya. Bagi Yohanis, menjadi guru bukan untuk ditakuti murid. Guru yang berhasil adalah guru yang selalu dirindukan kehadirannya oleh peserta didik.

 
“Karena itu, dengan memiliki beberapa sifat tersebut, diharapkan kita menjadi sosok guru yang ideal dan menjadi guru yang selalu dirindukan keberadaannya oleh peserta didik, bukan malah menjadi seseorang yang ditakuti oleh anak didik,” imbuhnya. (R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz