Jumat, 20 April 2018 | 17:00
FOTO HAL 7 METRO KUPANG After midnight copy

Gairah Malam di Cafe Yakusa

WAKTU menunjukkan pukul 01.00 Wita saat VN melewati Jalan Bundaran PU, Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM), Kota Kupang, Sabtu (4/4). Sekitar 400 meter dari Bundaran PU, tepatnya di sisi kiri jalan, ada belasan motor parkir di depan sebuah cafe sederhana.

 

Ada apa gerangan? Rasa ingin tahu membuat penulis berhenti dan memarkir sepeda motor persis di depan cafe sederhana yang bernama Cafe Yakusa. “Malam bang”, sapaan pembuka dari pemilik cafe yang belakangan diketahui bernama Mocha Zoel.

 
Sapaan Mocha dengan senyuman manisnya, membuat hati ini semakin menggebu-gebu ingin mencoba menu favorit cafe ini. Di dalam cafe yang dicat hijau dan beratapkan seng, terlihat belasan pemuda ngobrol sambil menikmati segelas minuman berwarna putih. Cafe yang dibuka sejak pukul 17.00-03.00 Wita dini hari ini, memang berbeda dibandingkan dengan cafe lainnya di Kota Kupang.

 
Mocha Zoel mengungkapkan, cafe ini sudah mulai dikenal di Kota Kupang. “Baru satu minggu kami buka di sini. Sebelumnya, kami buka di Jalan Thamrin, Kelurahan Fatululi. Di sana pelanggan kami sudah banyak, namun karena lebih dekat dengan rumah tinggal, maka saya putuskan pindah,” ujar alumnus Faperta Undana ini.

 
Bagi Mocha, menu yang paling digandrungi anak muda yang sering nongkrong di sini adalah Wedang Jahe Yakusa dan Nasi Goreng Yakusa. Perbedaan dua menu ini dengan cafe lainnya terletak racikannya. “Khusus wedang jahe Yakusa, ada racikan khusus, sehingga rasanya berbeda dengan wedang jahe yang ada di hotel atau cafe lainnya di Kota Kupang.

 
Apalagi nasi goreng Yakusa, bumbu dan racikannya memang beda,” ujarnya. “Harga wedang jahe Rp 5.000-Rp 15.000, bisa dijangkau kantong warga Kota Kupang,” ujarnya.
Masih banyak menu lainnya yang disediakan Cafe Yakusa. Ada nasi goreng hitam dan nasi goreng mawut.

 
Harganya pun sesuai kantong anak muda Kota Kupang. Karena, prinsip cafe ini adalah rasa bintang lima harga kaki lima. Aroma nasi goreng dan wedang jahe Yakusa racikan chef Andre membuat pengunjung semakin betah berlamalama di Cafe Yakusa. “Kaka, kalau jam begini yang kami sukai yaitu wedang jahe.

 

Setelah minum wedang, kami seperti kembali bergairah di malam hari, karena itu kami datang di cafe ini,” ujar Satria Mandala, yang mengaku tinggal di Perumnas ini. Cafe Yakusa memang unik namanya. Apabila orang mendengar Yakusa berarti mengingat organisasi kriminal di Jepang.

 

Tapi, Yakusa ini bukan kriminal, Yakusa ini merupakan kependekan dari Yakin Usaha Sampai (Yakusa). “Dengan keyakinan dan usaha keras, apa yang kita cita-citakan akan kesampaian,” ujar Mocha. Bagi para pecinta kuliner di malam hari, Cafe Yakusa menjadi salah satu pilihan tempat nongkrong yang sehat dan segar. Selamat mencoba! (abdul muis/S-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz