Jumat, 20 April 2018 | 16:51
17

Disperindag Turunkan Tim Pantau Sukiran

TERKUAKNYA daging yang dipenuhi belatung di tempat produksi oleh-oleh khas NTT Sukiran mengungkap banyak kelemahan. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Kupang tak pernah memantau langsung ke tempat produksi untuk melihat dari dekat proses produksi oleh-oleh khas NTT Sukiran. Karena itu, Disperindag Kota Kupang menurunkan tim untuk memantau langsung persoalan di pusat oleh-oleh Sukiran.

 
Kepala Dinas Perindustrian dan  Perdagangan Kota Kupang Mesak Bailaen kepada VN, Senin (20/4) mengatakan, selama ini pihaknya memang tak pernah memantau ke lokasi usaha untuk melihat proses produksi oleh-oleh khas NTT Sukiran tersebut. Dinas hanya memantau di kios tempat penjualan produk Sukiran.  “Kita hanya awasi hasil produksi yang dijual di toko, karena kita tidak tahu tempat produksinya,” kata Bailaen.

 
Dengan temuan daging berbelatung tersebut, lanjutnya, pihaknya sudah menurunkan tim untuk memantau langsung lokasi tersebut. Dari hasil kerja tim, nantinya dievaluasi untuk melihat tingkat kesalahan mereka.

 
Terkait pencabutan izin usaha, kata Bailaen, akan dievaluasi terlebih dahulu tingkat kesalahannya. Jika masih tingkat ringan, maka diberikan pembinaan. Namun, jika kesalahannya sudah sampai pada tingkat kesalahan berat, maka bisa sampai pencabutan izin usaha. “Tapi kita akan koordinasi terlebih dahulu dengan instansi terkait seperti Dinas Kesehatan dan Balai POM (balai Pengawasan Obat dan Makanan),” katanya.

 
Dikatakannya, dengan temuan tersebut, ke depan pihaknya akan memperketat pengawasan dan pemberian izin usaha. Pemantauan juga akan dilakukan ke tempat-tempat usaha agar memantau semua proses produksi untuk memastikan proses produksinya layak secara kesehatan.

 
Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Kupang Ebend Ndapamerang yang dihubungi ke ponselnya mengatakan, selama menjalankan usahanya, pusat produksi oleh-oleh khas NTT Sukiran belum mengantongi izin Analisis Dampak Lingkungan (Amdal).

 

 

“Setelah kita cek, sampai saat ini usaha oleh-oleh Sukiran belum  memiliki izim Amdal,” ujarnya. Soal pengawasan, kata dia, berada di bawah Dinas Kesehatan. Sehingga, pihaknya belum melakukan pengawasan ke lokasi produksi Sukiran.

 
Sebelumnya, produk olahan makanan khas NTT bernama Oleh­ oleh Sukiran yang terletak di Jalan Oe’ekam RT 09/RW 04 Kelurahan Sikumana yang terkenal itu, diproses dengan standar kesehatan yang sangat buruk. Produk olahan emping jagung, dendeng sapi, se’i sapi, abon sapi, dan abon ikan yang diproduksi sang pemilik bernama Samuel Santoso yang sudah beroperasi selama 10 tahun itu, akhirnya digerebek warga, Jumat (17/4) sekitar pukul 09.00 Wita.

 
Disaksikan VN, bersama Ketua RT 09, warga berbondong­bondong menda­tangi bangunan sekitar 500 m2 karena merasa sangat terganggu dengan bau busuk dari lokasi itu. Aparat Polsek Maulafa yang turut dalam penggerebekan mendapati belatung dalam freezeer rusak dan menimbulkan bau busuk. Daging sapi dan ikan di dalam karung penuh dengan belatung. Daging yang berada dalam panci pun tampak tak layak karena menebar bau busuk. (S-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz