Sabtu, 21 April 2018 | 19:21
37

Dishub Derek Angkota Nakal

DINAS Perhubungan (Dishub) Kota Kupang mulai menertibkan angkutan kota (Angkota) nakal, seperti melanggar izin trayek dan parkir bukan pada tempatnya. Angkutan kota yang melanggar trayek itu diderek petugas ke kantor Dinas Perhubungan untuk diberi tindakan tegas. Penegasan itu disampaikan Kadis Perhubungan Kota Kupang Yogerens Leka, kepada VN, Rabu (8/4).

 
Leka mengatakan, tindakan penertiban berupa menderek mobil harus dilakukan setelah peringatan demi peringatan tidak digubris para supir. Karena itu, kami diingatkan bahwa tindakan penertiban itu terus dilakukan sampai para supir sadar. “Kita minta kerja sama para supir agar mulai tertib diri sendiri, sehingga suasana di jalan raya aman, dan para penumpang juga tidak mengomel terus akibat ulah para supir,” ujarnya.

 
Dia mengatakan, sesuai undang-undang yang berlaku, para pelanggar trayek akan dihukum pidana selama satu bulan dan denda sebesar Rp 250 ribu. Namun, dalam pelaksanaannya, tidak serta-merta aturan tersebut dijalankan. “Saat ini, kita masih menunggu peraturan Wali Kota (Perwali) berkaitan dengan sanksi yang baru kepada pelanggaran trayek,” ujarnya.

 
Belum Serius Sementara beberapa warga Kota Kuang masih menilai Dinas perhubungan Kota Kupang masih kurang tegas dalam menjalankan Peraturan Daerah mengenai pelanggaran trayek yang dilakukan oleh supir angkot, sehingga tidak ada efek jera dari para supir.

 
Fera Boimau, warga Jalan Timor Raya, tepatnya di depan Subasuka mengatakan, dirinya kecewa terhadap sikap Dinas Perhubungan Kota Kupang yang kurang tegas saat memberikan sanksi kepada para pelanggar. Walaupun sudah ditertibkan berkali-kali, namun para supir angkot masih mengulangi pelanggaraan yang sama. “Ini salahnya di Dinas Perhubungan, mereka tahu aturan namun tidak tegas,” ungkapnya.

 
Fera melanjutkan bahwa pelanggaran yang selalu diulangi para supir adalah pelanggaran trayek, dan menurunkan penumpang tidak pada tempatnya. Pelanggaran tersebut dinilainya sangat merugikan karena para penumpang sering diturunkan di tengah jalan dan diminta untuk menganti angkot lain jika di dalam angkot tersebut hanya satu penumpang.

 
Ibu Erna, warga Kelurahan Oesapa mengatakan, masalah pelanggaran trayek akan terus dilakukan para supir angkot jika Dinas Perhubungan tidak menunjukkan giginya sebagai pemegang aturan. “Sering sekali Dinas Perhubungan hanya menahan angkot yang ditertibkan di kantor selama beberapa jam, setelah itu dilepaskan kembali tanpa ada sanksi yang lebih keras, sehingga para supir tersebut akan mengulangi kesalahan yang sama,” ujarnya. (mg-04/S-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz