Minggu, 22 April 2018 | 18:21
OPINI SABTU 25042015

Direktur Baru Harapan Lama

PEMERINTAH Provinsi NTT sedang melaksanakan proses seleksi calon Direktur RSUD Prof WZ Johannes-Kupang. Sebuah langkah yang penuh loncatan super; sebuah upaya membangkitkan harapan baru di tengah hancurnya banyak asa tentang kesehatan masyarakat NTT. Media ini pun memberikan apresiasi atas langkah bijak tersebut (VN, 24/4/2015).

 
Apresiasi banyak pihak atas langkah bijak itu bukan tanpa alasan. Meski terlambat, usaha itu sebenarnya menunjukkan niat baik Pemprov NTT untuk memperbaiki manajemen RSUD Johannes. Usaha perbaikan didasarkan pada pertimbangan bahwa selama ini masyarakat melihat lembaga kesehatan yang menjadi panutan banyak lembaga kesehatan lain di NTT itu berjalan tanpa arah.

 

Hampir setahun, lembaga ini dipimpin oleh seorang pelaksana tugas direktur. Karena hanya sebagai pelaksana tugas, maka pimpinan tersebut jelas tidak bisa mengambil langkah strategis terkait kebijakan kesehatan pada tingkat operasional.

 
Judul tulisan di atas kiranya dipahami dengan baik. Jika dibaca sesaat dan asal-asalan bisa terjebak. Orang pasti bertanya mengapa bukan harapan baru yang diambil? Mengapa menggunakan harapan lama? Penulis memiliki pertimbangan bahwa harapan untuk hidup sehat sebenarnya bukan harapan baru.

 

Harapan bahwa lembaga ini dipimpin oleh orang yang kompeten adalah keinginan lama semua kita. Sebuah harapan lama akan munculnya profesionalitas pengelolahan rumah sakit rujukan. Maka, menyebut harapan baru menurut saya tidak pas. Yang tepat adalah keinginan lama masyarakat NTT akan adanya seorang pimpinan RSUD Johannes untuk merealisasikan harapan lama pula akan kesehatan masyarakat NTT.

 
Tulisan ini merupakan bentuk otokritik terhadap lembaga kesehatan. Saya mendapatkan sepiring nasi dari lembaga ini. Meskipun demikian, ketika teriakan banyak pihak untuk memperbaiki sistem kesehatan nasional dan terutama di daerah kita, berdiam diri adalah bagian dari kemapanan diri dan lembaga. Oleh karena itu, tujuan utama diskusi ini adalah  membahas harapan lama dengan calon direktur baru yang digagas Pemprov NTT.
Pemimpin Cerdas Banyak ahli mengatakan bahwa salah satu kunci kesuksesan sebuah organisasi adalah keberadaan pemimpin yang cerdas. Cerdas bukan hanya pintar dalam skala akademik. Cerdas adalah kemampuan untuk mengakomodir semua hal baik yang berujung pada kesuksesan sebuah lembaga. Di sini, tercapainya tujuan karena kerja baik seorang pemimpin cerdas merupakan hal utama.

 
Pemimpin cerdas di lingkungan kesehatan sebenarnya banyak. Bahkan sangat banyak. Dengan demikian, yang ditunggu adalah proses seleksi terbuka yang digagas Pemprov. Masalah utama selama ini adalah rumah sakit sering menjadi salah satu dompet untuk sebuah rezim politik. Saya tidak mengatakan bahwa RSUD Johannes merupakan dompet bagi rezim politik di provinsi ini.

 

Yang ingin dikatakan adalah bahwa ketika banyak kepentingan melingkupi sebuah lembaga, maka yang ada hanyalah kemustahilan. Kepentingan memiliki banyak arti di sini. Kepentingan politik, ekonomi, individu dan lain-lain. Banyaknya kepentingan seperti yang disebut di atas berdampak langsung pada kinerja dan kerja lembaga kesehatan.

 
Maka dibutuhkan kecerdasan pemimpin dalam mengelolah banyak kepentingan yang ada di lembaga kesehatan. Yang harus segera dipikirkan adalah membuang jauh prinsip bahwa rumah sakit merupakan dompet bagi rezim yang berkuasa. Yang harus dikerjakan adalah mengatur semua kecerdasan yang dimiliki lembaga kesehatan dan dipakai untuk kepentingan bersama.

 
Niat baik Pemprov NTT dalam proses seleksi secara terbuka calon Direktur RSUD Johannes Kupang harus dihargai. Harapan sekarang terletak dipundak pengambil kebijakan di propinsi ini. Harapan yang dimaksud adalah proses seleksi yang terbuka tanpa ada kepentingan di dalamnya.

 

Di sini, yang pertama harus dipikirkan adalah memilih tim seleksi yang benar-benar independen dan memang kompeten di bidang kesehatan. Itu tidak sama dengan memilih tim hanya yang mengerti kesehatan. NTT menyimpan banyak ahli organisasi, ahli kesehatan dan ahli sosial. Mereka itu laik menjadi tim seleksi.

 
RS Cerdas Saya membayangkan adanya rumah sakit cerdas untuk kateogri RSUD Johannes Kupang. Pertimbanganya adalah karena rumah sakit ini menjadi satu-satunya rumah sakit rujukan di NTT. Rumah sakti cerdas ditandai oleh mudahnya akses informasi, terbukanya manajemen, bersihnya lingkungan fisik, murahnya biaya, keramahan petugas kesehatan dan masih banyak hal baik lainnya.

 
Rumah sakit cerdas tidak hanya diisi oleh orang-orang pintar. Rumah sakit cerdas adalah rumah sakit yang dapat menyembuhkan orang sakit. Saya sering mendengar guyonan teman-teman. Masuk rumah sakit bukan sehat yang didapat tetapi membuat orang malah tambah sakit. Guyonan seperti ini memang sederhana.

 

Meski demikian, dia menyimpan kritikan pedas. Kritikan tidak hanya ditujukan kepada petugas lapangan. Dokter, perawat, bidan dan tenaga kesehatan lainnya. Kritikan terutama diarahkan pada pimpinan lembaga kesehatan. Karena, perilaku dan iklim kerja yang sekarang ada di rumah sakit merupakan bukti ketidakpekaan pimpinan akan suasana dan situasi lembaga.

 

Kalau saat ini muncul situasi seperti guyonan masyarakat, maka itu disebabkan karena memang pengambil kebijakan di provinsi ini, otoritas yang menentukan direktur rumah sakit, terlambat memikirkan nasib rumah sakit. Kalau terlambat memikirkan nasib rumah sakit, maka itu berarti terlambat memikirkan nasib masyarakat di daerah ini. Itulah yang menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan bayi serta munculnya banyak penyakit lain di daerah ini.

 
Rumah sakit harus segera mengadopsi model Puskesmas Reformasi seperti yang digagas oleh teman-teman LSM. Dalam Puskesmas Reformasi, yang utama adalah layanan publik yang berkualitas berbasis masyarakat. Semua rencana harus dilakukan oleh masyarakat sendiri.

 

Intinya adalah keterlibatan dan partisipasi aktif masyarakat. Karena dengan partisipasi itu maka masyarakat merasa memiliki kesehatan dan lembaga kesehatan. Selain itu, keterbukaan informasi menjadi hal penting dalam konsep puskesmas reformasi. Informasi di sini menyangkut banyak hal; di antaranya prosedur pelayanan, informasi keuangan, informasi manajemen, dan lain-lain. Dengan demikian, ketertutupan manajemen rumah sakit selama ini harus segera diubah. Sebab, ketertutupan cenderung menyimpan banyak kebusukan.

 
Manajemen rumah sakit harus keluar dari beragam jebakan sosial dan himpitan kebijakan yang berorientasi individu dan sempit. Hanya dengan itu maka bayangan buruk pelayanan rumah sakit bisa diminimalisir. Direktur cerdas jelas bisa menghasilkan rumah sakit cerdas.

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz