Kamis, 26 April 2018 | 23:37
10

Dana PNPM Dipakai untuk Keperluan Pribadi

SETELAH kasus penyelewengan Dana PNPM di UPK Nelle, Sikka, kali ini kasus yang sama datang dari Kabupaten Rote Ndao tepatnya di Kecamatan Rote Selatan. Yunita Bisan dan Astuti Umiyati alias Astuti Malelak menggunakan Dana PNPM di UPK mereka untuk kepentingan pribadi.

 
Dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Ba’a dinyatakan Yunita dan Astuti yang menjabat sebagai Ketua dan Bendahara Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Simpan Pinjam Perempuan (SPP) PNPM MPd Kecamatan Rote Selatan menyelewengkan dana Rp 352,447 juta.

 
Disaksikan VN, dakwaan tersebut dibacakan salah seorang anggota tim JPU Martin Eko Priyanto di hadapan majelis hakim yang beranggotakan Khaerulludin, Jult Lumban M Gaol, dan T Benny Eko Supriyadi. Sementara kedua terdakwa didampingi tim Penasihat Hukumnya (PH) Luis Balun dan Erens Kause. Sidang digelar di Pengadilan Tipikor, Kupang, Selasa (28/4).

 
Dikatakan JPU, UPK SPP PNPM MPd Kecamatan Rote Selatan memperoleh alokasi dana dari APBN dan APBD mulai tahun 2009-2012. Jumlah dana yang diperoleh selama empat tahun tersebut mencapai Rp 1,3 miliar. Dana itu disalurkan ke 107 kelompok SPP di lima desa.

 
Setiap kelompok penerima bantuan diharuskan mengangsur kembali dana tersebut setiap bulan selama 12 kali. Yunita, Astuti, dan sekretaris UPK, Pungka Sitohang kemudian membuat kesepakatan untuk membagi wilayah penagihan. Dalam kesepakatan tersebut, Yunita menagih di Desa Daleholu, Astuti di Desa Tebole, Inaoe, Lenguselu, sedangkan Pungka di Desa Dodaek.

 
Yunita dan Astuti mengurangi jumlah setoran dari SPP yang telah membayar lunas pinjamannya. Sehingga ketika kelompok tersebut hendak meminjam lagi, permintaannya ditolak, karena pinjamannya belum dibayar lunas. Kedua terdakwa kemudian menganjurkan kepada kelompok-kelompok tersebut untuk mengubah nama kelompok dan mengajukan proposal baru.

 
Perbuatan mereka tercium oleh Nicodemus Asbanu, Fasilitator Kabupaten (Faskab) Rote Ndao. Kemudian pada tanggal 12 Maret 2013, ketika ditanyai Nicodemus, keduanya mengakui perbuatan mereka.

 
Dari pengakuan mereka diketahui jumlah uang yang telah diselewengkan mencapai Rp 352,447 juta dengan rincian Yunita sebesar Rp 178,620 juta dan Astuti sebesar Rp 173,826 juta. (mg-03/R-2)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz