Sabtu, 21 April 2018 | 19:17
OPINI RABU 08032015

Culture Shock dan Fenomena ‘Celana Umpan’

MEMAKAI celana pendek dan rok mini sepangkal paha, kini tak lagi tabu bagi anak-anak muda. Pengaruh gaya berpakaian yang mengumbar “wilayah” yang seharusnya tertutup dan kebarat-baratan ini, kini menggoyang kekuatan etika dan budaya berbusana ketimuran masyarakat Indonesia, termasuk NTT.

 

Saya sontak berefleksi secara pribadi waktu seorang penginjil menceritakan pengalamannya ketika dia bercanda-gurau dengan teman-temannya yang non-Kristen. Dalam cerita itu, ada kalimat yang diucapkan salah satu teman penginjil ini yang hingga saat ini menggelitik hati saya sebagai orang Kristen. Kurang lebih kalimatnya seperti ini “Kalau kita mau lihat paha mulus cewek, mari kita ke gereja”. Tidak hanya saya yang merasa malu, ternyata sang penginjil juga mengalami hal yang sama.

 

Gereja seolah diskotik atau klub malam dengan orang dengan macam-macam gaya berbusana. Saya terus bertanya, pesan apa yang tersirat dalam kalimat sederhana tetapi menusuk jantung itu? Mengapa kalimat itu bisa keluar dari mulut teman-teman kita yang non-Kristen? Apa pesan moralnya? Dengan keterbatasan kemampuan analisa, saya mencoba merefleksi sambil melihat fenomena berbusana muda-mudi Kristen dewasa ini, khususnya di Kota Kupang dan sekitarnya.

 

Gaya berpakaian pemuda-pemudi sekarang, boleh dibilang terlalu vulgar. Tidak lagi mengindahkan budaya berpakaian orang timur yang seharusnya pakaian itu salah satu fungsinya adalah untuk menutup aurat. Entah arti kata “aurat” ini sudah bergeser dari arti yang sebenarnya menurut kaum muda zaman sekarang, atau memang yang mereka tahu itulah yang terbaik, semuanya masih tanda tanya besar.
Inilah yang kemudian saya namai dengan fenomena celana umpan atau orang Kupang sering singkat dengan CU, istilah yang mungkin saja belum terlalu populer bagi sebagian orang. Tetapi sebutan ini sangat femiliar di kalangan ABG hingga orangtua di NTT.

 

Dalam keterbatasan pengetahuan, saya mencoba memberikan gambaran sederhana tentang fenomena CU ini seperti cerita dari penginjil di atas. Dari versi beberapa orang, CU adalah celana pendek yang sebangsa dengan rok mini. Celana ini hanya menutup bagian pangkal paha pemakainya seperti rok mini.

 

Mengapa dibilang umpan, saya mencoba berspekulasi bahwa bila pemudi (cewek) yang mengenakan CU, berarti ia sedang menarik (mengumpan) perhatian orang lain untuk melihatnya. CU memang membuat banyak mata pria terbelalak, secara tidak langsung, dalam arti yang negatif, sedang mengumpan birahi para lelaki.

 

Itulah mengapa disebut dengan celana umpan. Fenomena CU ini melanda hampir seluruh ABG perkotaan di negeri ini, tanpa memandang suku dan agama, tidak terkecuali muda-mudi Kristen di Kota Kupang dan sekitarnya. Beda halnya dengan masyarakat pedesaan yang masih teguh memelihara nilai-nilai etika dan kesopanan dan menganggap itu perilaku yang tidak pantas ditiru.

 

Saking tenarnya, perilaku berpakaian seperti ini pun menjadi tren yang melanda tidak hanya anak muda tetapi orangtua pun keciprat getahnya.  Berangkat dari kata “umpan” tersebut, ada indikasi bahwa yang mengenakan CU atau rok mini, sedang menjerumuskan orang yang melihatnya ke dalam dosa (perlu diingat tulisan ini tidak sedang menyalahkan pihak mana pun). Karena itu, gaya berpakaian seperti ini juga bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh semua agama di negeri ini.

 

Dalam ajaran beberapa agama, orang berpakaian, harus menutup auratnya dari pandangan orang lain. Itulah sebabnya, masyarakat Aceh dilarang berpakaian seperti ini. Berpakaian ketat saja tidak boleh, apa lagi CU dan rok mini. Akan terkena sanksi sosial karena dianggap menunjukkan aurat dan tidak sopan.

 
Kembali ke cerita penginjil di atas dengan kalimat sindiran dari temannya, sekiranya kita semua menyadari bahwa itulah realitasnya saat ini. Pemudi Kristen di Kota Kupang dan sekitarnya, masuk gereja dengan mengenakan rok satu jengkal di atas lutut dan bajunya yang orang Kupang sebut dengan istilah ‘tali satu’ sehingga memperlihatkan bagian tubuh yang sepantutnya ditutupi.

 

Padahal, seharusnya pakaian seperti itu pantasnya ada di diskotik dan klub malam, yang sudah “mengungsi ke gereja” oleh karena penggemarnya. Sambil mengacu pada arti sederhana kata “umpan” tersebut di atas, tentu ini tidak membawa berkat bagi orang yang melihatnya.

 

Apalagi di gereja. Sekali lagi, tulisan ini tidak sedang menghakimi para pencinta CU dan rok mini, tetapi lebih kepada refleksi pribadi bahwa gaya pakaian CU dan rok mini dapat dikatakan sebagai sebuah kegoncangan budaya (culture shock) yang merusak moral pemuda-pemudi Kristen di Kota Kupang. Bila pemudi Kristen ke gereja saja mengenakan pakaian seperti itu, apa kata dunia ketika mereka ke tempat-tempat lain yang lebih sekuler.

 
Bukan persoalan menggoda atau tergoda, tetapi Alkitab mengajarkan bahwa “Jangan engkau menjadi batu sandungan bagi saudaramu”. Tetapi yang melihat pun “harus bisa menahan diri”. Semoga kita tidak berada dalam situasi Taman Eden seperti Adam, Hawa dan ular yang saling menyalahkan di hadapan Tuhan ketika jatuh ke dalam dosa.

 

Kata Adam, perempuan ini (Hawa) yang menawarkan (menggoda) untuk makan buah pohon terlarang. Kata Hawa, aku tergoda oleh ular sehingga memetik dan memakan buah ini. Entah ular menyalahkan siapa, karena tidak mungkin menyalahkan penciptaNya. Namun, yang menjadi pelajaran adalah kita harus melihat dari segi kepantasan yang dapat ditinjau dari model pakaian dan tempatnya dimana serta kebiasaan adat istiadat kita dalam berbusana.

 

Siapa yang Bertanggung Jawab? Saya teringat ketika saya masih di SMA, aturannya semua pelajar harus berbusana sopan dan rapih. Indikator sopan dan rapih itu salah satunya tidak mengenakan rok yang bawahannya di atas lutut. Bila ada yang melanggar, maka harus tanggung risiko roknya rela digunting sebelah.

 

Itu adalah sanksinya. Selain itu, masyarakat Aceh dilarang mengenakan pakaian yang ketat, apalagi CU. Kalau tidak, sanksi sosial tuaiannya. Itulah hukum syariah di Aceh. Dari segi budaya ketimuran, orangtua lebih paham tentang itu.

 

Artinya ini adalah tanggung jawab semua orang, baik orangtua dimana anak-anak mulai bertumbuh, sekolah sebagai lembaga pendidikan dan masyarakat sebagai tempat bersosialisasi. Tanggung jawab orangtua tentu lebih besar. Karena di sinilah anak-anak belajar tentang tata krama dan budaya serta sopan-santun.

 

Setelah itu sekolah dan lingkungan dimana anak-anak hidup dan bergaul. Selain itu, lembaga-lembaga agama dalam hal ini tokoh-tokoh agama di NTT juga tidak boleh menutup mata dan berpangku tangan terhadap fenomena ini. Meskipun demikian, semuanya kembali kepada diri sendiri, dengan derasnya arus globalisasi harus pandai-pandai menyaring segala informasi termasuk bentuk pakaian, agar NTT luput dari kegoncangan budaya (culture shock).

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz