Jumat, 27 April 2018 | 08:37
26

Bulog Beli 11 Ribu Ton Beras dari Flores

BADAN Urusan Logistik Divisi Regional (Divre) NTT akan membeli 11.000 dari total 15.000 ton beras petani asal Pulau Flores sebagai cadangan pangan dalam musim panen 2015 dan sisanya akan didatangkan dari Pulau Sumba dan Timor. “Sekitar 11 juta ton dari Pulau Flores itu masing-masing berasal dari Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 8.995 ribu ton, Kabupaten Manggarai 680 ton dan Kabupaten Ngada 1.335 ton,” kata Kepala Bulog Divre NTT Mustofa Kamal kepada wartawan di Kupang, Sabtu (25/4).

 
Ia mengatakan, sisa dari total kuota 15 ribu ton akan dibeli dari petani di Sumba Barat 285 ton, Sumba Timur 200 ton, Kupang 3.330 ton, Kabupaten Belu 175 ton, dan kabupaten lain di NTT yang tidak dijadwalkan atau tentatif bisa dapat dibeli. “Saat ini proses pembelian dimulai dari Kabupaten Manggarai dengan melakukan kontrak yang berisi kota/tonase, kriteria, harga dan lainnya dan akan dilanjutkan dengan kabupaten lain yang tengah melaksanakan panenan,” katanya.

 
Matan Kabulog Divre Papua itu, mengatakan, data yang diperoleh dari pimpinan Bulog Divre NTT sebelumnya realisasi dari target yang ditetapkan dalam dua tahun terakhir sebanyak 15 tibu ton hanya mencapai lima ribu ton atau sekitar 30 persen yang dibeli, karena berbagai alasan di antaranya harga yang diberikan pemerintah terlalu rendah.

 
Rawan Pangan Berikut, kata dia, adalah iklim yang tidak normal, sehingga menimbulkan gagal tanam dan gagal panen serta serangan hama lainnya terhadap tanaman padi, sehingga petani tidak memenuhi target yang ditawarkan dari Bulog selaku operator pangan beras dari pemerintah.

 
Kabupaten Kupang misalnya, berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan setempat, tahun 2015 ini rawan pangan akan melanda 24 kecamatan di Kabupaten Kupang karena curah hujan terlalu sedikit, sehingga untuk sementara, stok beras rawan pangan yang dimiliki cuma 12 ton, jagung delapan ton dan bibit jagung delapan ton.

 
Para petani di Kabupaten Kupang tidak tertarik untuk menjual beras kepada Bulog karena harga terlalu rendah. “Di pasar harga beras mencapai Rp 10 ribu tetapi Bulog hanya membeli dengan harga Rp 7.300, petani pasti lebih tertarik jual ke pedagang di Pasar,” ujar Ansel Lomin, petani Asal Kelapa Tinggi, Kabupaten Kupang. . (mi/C-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz