Minggu, 22 April 2018 | 18:20
Darus Antonius (kiri) memaparkan hasil penelitian Balitbang NTT, kemarin
vn/nahor fatbanu

Berita Marak Korupsi Meningkat

Victory-News, MESKIPUN pemberitaan korupsi di NTT yang dilansir media massa nasional dan lokal sangat banyak, namun jumlah perkara korupsi di NTT tetap meningkat dalam lima tahun terakhir.

Hal ini dibuktikan dengan data yang dirilis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) NTT Juli lalu yang menyebutkan bahwa penanganan perkara korupsi dari tahun 2011-2015 terus meningkat signifikan.

Hal ini terungkap dalam seminar awal Hasil Penelitian tentang Efek Pemberitaan Media Massa dalam Mencegah Korupsi di NTT yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengambangan (Balitbang) Provinsi NTT di Kupang, Senin (26/10).

Peneliti yang juga akademisi Darus Antonius dalam pemaparannya terkait hasil penelitian tersebut mengatakan, penelitian tersebut dilakukan di sembilan kabupaten/kota di NTT.

Penelitian ini memilih responden berdasarkan kedudukan dan jenis pekerjaan sebanyak 126 orang yakni eksekutif (bupati/wakil bupati/sekda), pimpinan DPRD, kepala Dinas PPO, Kepala Dinas PU, Kepala Dinas Kesehatan, kepala Dinas Sosial, wartawan, tokoh agama, tokoh pendidikan, serta penyedia barang dan jasa pemerintah.

Lebih Banyak Penindakan
Dia juga mengatakan, pemberitaan media dalam mencegah korupsi di NTT masih lebih banyak memuat berita penindakan ketimbang pencegahan terhadap korupsi. Media massa masih melihat berita penindakan lebih menarik dari pencegahan.

Darus dalam menyampaikan laporan penelitian itu menyodorkan sejumlah hipotesa di antaranya, yakni isi pemberitaan media massa kurang menonjolkan segi pencegahan. “Angle (sudut pandang) media massa lebih menonjolkan berita menarik daripada berita penting,” ujarnya.

Dia menyebut, pemberitaan media massa terhadap korupsi juga belum ada kekompakan. Hal ini dapat membingungkan masyarakat, sehingga pemberitaan tentang korupsi harus mengangkat fakta apa adanya.

Dia mengatakan, penelitian ini bersifat deskriptif tentang pencegahan perbuatan korupsi sehingga hasilnya hanya mendeskripsikan fenomena pencegahan korupsi tersebut.

Oleh karena itu, tim peneliti mengusulkan dilanjutkan dengan penelitian inferensial guna mengetahui secara besaran pengaruh efek pemberitaan media massa terhadap upaya pencegahan korupsi di NTT.

Pesan Sponsor
Dosen Fakultas Hukum Undana Karolus Kopong Medan menanggapi pemaparan tim peneliti mengusulkan agar penelitian itu juga harus mengkaji tentang isi pemberitaan. Sebab, tidak semua pemberitaan korupsi benar.

“Minta maaf teman-teman media. Tapi ada juga berita yang pesan sponsor. Ini juga perlu dilihat,” kata Kopong Medan.

Sherly, salah seorang peserta lainnya meminta tim peneliti agar selain pemerintah, aparat penegak hukum, sekolah-sekolah, rekomendasi dari hasil penelitian juga disampaikan kepada media massa sebagai objek yang diteliti.

“Saya belum melihat dalam laporan ini, rekomendasi penelitian juga ditujukan kepada media. Untuk itu perlu ditambahkan,” usulnya. (slb/M-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz