Kamis, 26 April 2018 | 23:38
21

Bebaskan Labuan Bajo dari Sampah

SAMPAH-sampah yang berserakan di sejumlah ruas jalan di Kota Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) seperti Jalan Wae Mata, jalan menuju Bandara Komodo, Pasar Batu Cermin, Pantai Pede, Bandara Komodo, serta sejumlah areal publik mendorong Adrianus Daru untuk berbuat sesuatu untuk mengatasinya.

 

Bersama 20 rekannya, Adrianus mendirikan Koperasi Sampah Komodo. Pada April lalu, koperasi untuk menampung sampah-sampah itu berbadan hukum dan diresmikan oleh Pemkab Manggarai Barat.  Sebelum mendirikan Koperasi Sampah Komodo, Adrianus terlebih dahulu menimba ilmu pengelolaan sampah di Malang, Jawa Timur.

 

Pria kelahiran Kuwus, Manggarai tahun 1970 ini nekat mendirikan koperasi tersebut karena sejak melepas jabatan sebagai Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat ia sudah berkomitmen menjadikan Labuan Bajo sebagai kota yang bersih dan sejuk. Itu lantaran Labuan Bajo sudah menjadi kota kecil yang sudah dikenal di mancanegara.

 
”Mabar dan Labuan Bajo ini kan bukan kota biasa, melainkan kota kecil taraf Internasional yang dikenali seluruh penjuru dunia sejak dijadikan gerbang wisata utama di wilayah NTT,” ujarnya.
Meski sudah menjadi kota wisata yang dikenal dunia, Labuan Bajo masih bermasalah dengan sampah. Tumpukan-tumpukan sampah menjadi pemandangan umum lantaran masyarakat dan Pemkab Mabar belum sepenuhnya sadar tentang kebersihan.

 
”TPA terbatas, sarana dari pemerintah minim, bahkan banyak sampah dibiarkan bertaburan di mana-mana. Masyarakat sendiri enggan berkontribusi mengangkat sampah di hadapannya. Kita hanya menunggu sampah-sampah diangkut oleh BLHD (Badan Lingkungan Hidup Daerah),” kata Adrianus.

 
Tak hanya di jalan-jalan protokol dan lokasi objek wisata, hutan lindung pun menjadi sasaran pembuangan sampah secara sembarangan oleh masyarakat. “Ini kan perilaku tidak ramah pada lingkungan. Ada Perda tentang Kebersihan, tetapi belum dijalankan dengan baik. Bagaimana kata orang tentang Indonesia, tentang NTT, kalau Labuan Bajo kotor dan jorok,’ terangnya.

 
Adrianus fokus di Labuan Bajo karena sebagai kota wisata, Labuan Bajo harus bersih dari sampah. Apalagi, sampah di Labuan Bajo akan selalu menjadi sorotan publik. Itu demi mendukung kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo. ”Coba kita lihat, kota ini banyak sampah tidak terurus, ini bukan cerminan kota wisata,” katanya.

 
Tak hanya ingin membersihkan sampah, Adrianus dan rekan-rekannya berkeinginan agar sampah juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Itulah alasannya mendirikan Koperasi Bank Sampah.  Bermodalkan dua unit motor tossa bantuan dari World Wildlife Fund (WWF), mereka mengumpulkan sampah-sampah non organik, mulai dari jalan-jalan protokol hingga ke hotel-hotel di Labuan Bajo. 1,5 ton sampah menjadi target setiap hari.

 
”Data penelitian dari salah satu lembaga bahwa sampah di Mabar setiap harinya 300 ton. Dari jumlah tersebut, Koperasi Sampah Komodo menargetkan lima persen per hari,” tuturnya.
Sampah-sampah yang dikumpulkan lalu dipilah. Sampah-sampah plastik digiling, sementara kaleng digilas terlebih dahulu lalu dikemas. Sedangkan kardus dan botol bir bisa langsung dikirim. Semua sampah tersebut dikirim ke perusahaan pengolah sampah di Kota Surabaya dan Malang.

 
Saat ini, Koperasi Sampah Komodo telah memiliki 20 anggota. Anggota-anggota ini diwajibkan memasok sampah ke koperasi. Tak hanya anggota, masyarakat pun boleh membawa sampah ke Koperasi Sampah. Harga sampah bervariasi. Untuk kardus dihargai Rp 500/kilogram, botol oli Rp 1.500/botol, jerigen Rp 1.800, kaleng minuman biasa Rp 500/kilogram, dan kaleng dari aluminium Rp 7.000/kilogram. Sedangkan satu botol bir dihargai Rp 800 per botol.
Sampah dari Masyarakat Koperasi Sampah Komodo menjadi tempat menampung sampah dan sebagai tempat mendapatkan uang bagi masyarakat yang memiliki sampah. Untuk itu, selain anggota koperasi, masyarakat pun boleh memasok sampah.

 
“Kita akan beli sampah yang tidak terpakai daripada tercecer di rumah. Sejumlah pengurus Koperasi Sampah Komodo selalu berada di koperasi setiap hari, sehingga siapa saja yang menyumbangkan atau menjual sampahnya, pintu terbuka,” ujar alumnus SMAN 1 Ruteng ini.

 
Ke depan, demi membersihkan Labuan Bajo dari sampah dan membantu masyarakat memperoleh tambahan penghasilan dari sampah, pihaknya telah berencana membuka koperasi unit pada tingkat RT di Kota Labuan Bajo. Akan disediakan pula tong-tong sampah untuk sampah-sampah non organik.

 
Pihaknya juga akan terus mendorong masyarakat untuk menjadi anggota koperasi atau menjual sampah ke koperasi yang dipimpinnya. Selain itu, pihaknya juga menjalin kerja sama dengan dive operator yang terdiri dari 12 negara di Labuan Bajo.

 
Selain membeli dan mengangkut sampah untuk diolah, pihaknya juga rutin melakukan kampanye dan sosialisasi tentang kebersihan. Selain kampanye lansgung, juga ada sosialisasi bebas sampah melalui pamflet, brosur yang disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat Labuan Bajo dan Manggarai Barat.

 
Kini, telah beredar sejumlah pamflet di Labuan Bajo dengan pesan, ‘Ayo Bersih-bersih Labuan Bajo, Kotaku Cantik tanpa Sampah’. ”Setiap anggota koperasi wajib kampanye bebas sampah dan setiap hari wajib membawa sampah ke Koperasi Sampah Komodo ini. Inilah hal-hal yang kita lakukan dan menjadi acuan utama agar Labuan Bajo bebas dari sampah,” tegas Adrianus yang juga berprofesi sebagai guru bahasa Inggris panggilan ini.

 
Melihat kerja yang dilakukannya, Adrianus kini mendapat dukungan dari sejumlah turis mancanegara. Mereka sering mendatangi Koperasi Sampah untuk berdiskusi dan men-support Adrianus membersihkan Labuan Bajo dari sampah. (R-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz