Minggu, 22 April 2018 | 18:16
3

Bareskrim Geledah Kantor YPLP PGRI

DUA penyidik dari Bareskrim Mabes Polri menggeledah kantor Yayasan Pengembangan Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi (YPLP PT) PGRI NTT, Selasa (28/4). Penggeledahan kantor yang selama ini ditempati Sulaiman Radja itu menindaklanjuti laporan Badan Pengurus PGRI Pusat terkait penggunaan logo PGRI.

 

Salah satu penyidik Bareskrim, AKP Zacharia mengatakan, sesuai laporan PB PGRI Pusat, YPLP PT PGRI NTT telah dibekukan, namun masih menggunakan logo PGRI. “Logo PGRI hanya bisa digunakan oleh PGRI Pusat, sehingga penggunaannya oleh YPLP PT PGRI NTT melanggar hukum,” kata Zacharia. Dalam penggeledahan itu, penyidik menyita dokumen surat menyurat yang masih menggunakan logo PGRI.

 
Penggunaan logo juga ditemukan di papan nama YPLP PGRI NTT. “Logo ini (PGRI) harusnya tidak boleh digunakan lagi karena YPLP PT PGRI NTT sudah dibekukan, kalau gunakan logo lain tidak soal,” tegasnya. Penyidik lainnya, AKP Andrew menambahkan, seharusnya sejak dibekukan melalui SK PB PGRI Pusat Nomor 147 Tahun 2014 tanggal 11 Maret 2014, YPLP PT PGRI NTT tidak boleh beraktivitas lagi.

 

Dia pun mengakui, penggeledahan dilakukan untuk menindaklanjuti laporan BP PGRI Pusat. Dalam penggeledahan itu, katanya, ditemukan dokumen yang menggunakan logo PGRI. Andrew menambahkan, saat ini mantan Ketua YPLP PT PGRI NTT Sulaiman Radja telah berstatus tersangka.

 

Dia akan dipanggil untuk diperiksa di Bareskrim Mabes Polri. “Dia (Sulaiman Radja) sudah kita tetapkan sebagai tersangka berdasarkan alat bukti yang ada dan keterangan ahli,” katanya. Menurut dia, Sulaiman diancam dengan hukuman penjara maksimal lima tahun. “Ini kelihatannya sepele, tetapi ancaman hukuman maksimal lima tahun,” tambahnya.

 
Kedatangan penyidik Bareskrim Mabes Polri mengejutkan pegawai YPLP PGRI NTT. Mereka berlarian ke luar ruangan ketika penyidik memasuki ruangan kerja mereka. Ketua PGRI NTT Octo Ouwpoly yang juga berkantor dalam gedung yang sama, juga kaget dengan kehadiran penyidik. “Kami sama sekali belum tahu kalau ada penggeledahan.

 

Kami hanya dapat surat dari pengurus pusat bahwa ada laporan ke Bareskrim,” kata Octo didampingi Sekretaris PGRI NTT Yusman Jailani. Sementara itu, Sulaiman Radja dan sekretarisnya
Adolof Bili Dairo tidak berada di tempat. Sulaiman dikabarkan berada di Bajawa, Ngada. Sedangkan Adolof baru tiba ketika penyidik sudah melakukan penggeledahan. Penyidik menyita papan nama YPLP PT PGRI NTT dan papan nama Ketua YPLP PT PGRI NTT serta sejumlah dokumen yang menggunakan logo PGRI. (tyo/D-1)

Baca Juga :

Komentar Anda

avatar

wpDiscuz